Bedah Rumah Implementasi Nilai Gotong Royong

Pemberian bantuan bedah rumah (Foto: Pemkab Kulon Progo)

Kulon Progo — Pemkab Kulon Progo pada Minggu (15/12/2019) mengadakan bedah rumah di wilayah Kecamatan Nanggulan dan Kalibawang. Bedah rumah dilaksanakan di kediaman ibu Painem dan bapak Tukirin warga Desa Banyuroto, Kec Nanggulan, ibu Ngatilah, Padaan Wetan, Banjarharjo dan ibu Wagiyem, Kempong, Banjaroya, Kecamatan Kalibawang.

Kegiatan bedah rumah diikuti oleh, Staf Ahli Ekonomi dan Pembangunan, Eka Pranyata, perwakilan dari HISWANA MIGAS DIY, BAZNAS, Camat dan Muspika Kecamatan Nanggulan dan Kecamatan Kalibawang, karyawan di lingkungan Asda III Sekretariat Daerah Kabupaten Kulon Progo,  serta Dinas Sosial.

Bantuan Stimulan dari HISMAWA MIGAS DIY, BAZNAS dan dari lingkungan ASDA III Setda, masing masing senilai Rp 15 juta.

Eka Pranyata menyampaikan ucapan terima kasih kepada HISWANA MIGAS DIY dan BAZNAS sebagai mitra kerja yang telah membantu bedah rumah, ia juga menyampaikan bahwa dengan adanya Hari Bela Negara diharapkan masyarakat lebih meningkatkan gotong royong dan kerukunan antar masyarakat

Nilai Gotong Royong

Menurut studi Tadjuddin Noer Effendi dalam Jurnal Pemikiran Sosiologi Volume 2 Nomor 1 tahun 2013 yang berjudul ‘Budaya Gotong-Royong Masyarakat dalam Perubahan Sosial Saat Ini’ menyebutkan bahwa salah  satu praksis Pancasila dalam relasi sosial kehidupan masyarakat adalah gotong royong dan nilai -nilai modal sosial. Uraian ini bertujuan menunjukkan bahwa budaya gotong royong sebagai sebuah nilai moral (values) mempunyai akar filosofis dalam kajian akademis. Ditunjukkan bahwa dalam budaya gotong royong melekat nilai-nilai modal sosial yang diperlukan untuk kemajuan dan mensejahterakan masyarakat. Ketiga,  ditelaah secara singkat situasi interaksi sosial masyarakat kontemporer.

Fokus bahasan diarahkan bahwa akhir-akhir ini masyarakat terindikasi mengalami kekacauan sosial karena  dalam relasi sosial meninggalkan semangat dan nilai-nilai gotong royong. Terakhir didiskusikan yang perlu  dilakukan untuk menguatkan kembali budaya gotong royong sebagai modal sosial dalam meraih kesejahteraan bersama.

Gotong royong tampaknya hanya berfungsi sebagai simbol belaka. Sering didiskusikan tetapi kurang dipraktekkan dalam relasi sosial kehidupan masyarakat. Bahkan ada upaya untuk menyingkirkannya karena  dianggap tidak pas lagi dengan tuntutan kehidupan masa kini. Untuk menyesuaikan dengan perubahan sesuai arahan nilai-nilai baru maka diperlukan konstitusi dan norma-norma baru.

Banyak perubahan yang dilakukan dengan  penuh kesadaran  tetapi  cukup banyak perubahan yang dilakukan diluar kesadaran karena ada desakan kepentingan politik dan ekonomi dari pihak-pihak tertentu lewat berbagai macam institusi ekonomi, sosial, budaya dan politik.

Maka sudah saatnya budaya gotong royong kembali  diperkuat dan dijadikan  rujukan dan acuan dalam kehidupan berbangsa. Salah satu upaya yang dapat dipikirkan adalah memperkuat institusi sosial lokal yang  selama  ini  masih  bertumpu  pada  nilai-nilai kebersamaan, menjunjung tinggi moral atau etika, kejujuran,   saling percaya sebagai pintu masuk menuju penguatan kembali (revitalisasi) budaya gotong royong.