Hasimah Suharsono, Perempuan Tiga Zaman Asal Gunungkidul

Ia sosok yang berani dan tegas, dengan ide dan gagasan pembaharuan serta berpikir modern. Perempuan yang bersedia berjuang untuk kepentingan bersama, memajukan daerahnya, dan tak lupa membawa semangat emansipasi Kartini dengan mengangkat harkat dan derajat kaum wanita sebagai tujuan luhurnya. Itulah yang membuatnya dijuluki sebagai perempuan tiga zaman, penerus cita-cita Kartini.

Meski kiprahnya sebagai motivator pemberdayaan perempuan sekaligus sebagai pionir politisi perempuan banyak dilakukan di Jepara, namun tak banyak yang tahu bahwa Hasimah Suharsono lahir dan dibesarkan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Putri kelima dari pasangan Eyang Mardiyah dan Kyai Sastro Suwito ini lahir di Kabupaten Gunungkidul pada 6 Juli 1938.

Jauh sebelum bermigrasi dan merintis kiprahnya di Jepara, Bunda Hasimah, begitu orang menyapanya, dididik sebagai perempuan jawa sebagaimana mestinya. Di kampung kelahirannya, Hasimah belia merupakan pembelajar ulung. Ia menyerap saban nilai kehidupan dengan baik, dan mengasah kepekaannya dalam melihat fenomena sosial di sekitar. Kepedulian sosial terhadap sesama kaum dipupuknya sejak dini, menjadikan tiap detik waktu berlalu penuh arti, seperti semboyan hidup yang selalu dipegang erat: “Hidup sekali harus berarti, sampai tua tetap bermakna”.

Semboyan itu diwujudkan dengan aktivitasnya di berbagai organisasi sosial dan keagamaan. Meski sudah dikaruniai enam orang anak, Bunda Hasimah memutuskan untuk menjadi ibu pula bagi 25 anak asuh dengan membimbing, membantu biaya sekolah dan biaya hidup, serta membantu mencarikan pekerjaan bagi mereka.

Penerus Perjuangan Kartini

Peringatan dua tahun meninggalnya mendiang Hasimah Suharsono, yang dilaksanakan di kediamannya di Ponjong, Gunungkidul.

Kiprahnya dalam percaturan politik pasca-migrasi semakin melesat. Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Jepara mencatat, pada tahun 1962, Hasimah Suharsono didaulat sebagai Wakil Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI), dan di tahun 1963-1970 ia merupakan perempuan pertama di Jepara yang menduduki kursi legislatif (DPRD) dari PNI. Melalui jalan ini, Hasimah aktif dalam menyuarakan hak-hak perempuan.

Dedikasinya terhadap kaum perempuan dibuktikan dengan mewujudkan gagasan berdirinya Gabungan Organisasi Wanita (GOW) pada tahun 1963, di mana ia menjadi ketuanya. Eksistensi GOW makin lama terus mengalami kemajuan dengan mengkoordinir 23 organisasi wanita yang aktif di setiap kegiatan pemberdayaan perempuan dan ormas lainnya.

Hasimah merupakan pengagum Kartini. Ia bertekad menyebarluaskan pemikiran Kartini dan memperbaiki nasib kaum perempuan. Ia mengingatkan kepada seluruh perempuan di wilayahnya untuk menyikapi dengan cerdas perkembangan zaman, dengan menyadari peran dan fungsi perempuan sebagai penerus perjuangan Kartini.

Hasimah selalu percaya akan gagasan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam pembangunan. Terdapat banyak program pembangunan yang membutuhkan partisipasi kaum perempuan sebagai salah satu motor penggerak. Salah satunya yaitu upaya memberikan pendidikan awal bagi anak-anaknya, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, menurunkan angka kematian bayi, memastikan keikutsertaan perempuan dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, serta ikut berperan aktif dalam kerja sama untuk pembangunan dan kesejahteraan bersama.

Kharismanya terbangun sejak muda belia. Di kalangan organisasi perempuan, Hasimah diibaratkan sebagai Srikandi yang dicintai. Kendati pada tahun 1978 ia harus membiasakan diri menjadi single parent, perjuangannya tetap tanpa batas, dedikasi dan loyalitasnya terus mengakar di segala bidang. Hasimah adalah suri tauladan bagi putra-putrinya, juga bagi siapapun yang mengenalnya.

Dalam membawa serta cita-cita Kartini, Hasimah adalah seorang inspirator yang baik. Ia berpesan agar wanita masa kini bisa lebih tangguh dan berkembang untuk menghadapi tantangan zaman. Jasadnya kini mungkin telah tidur untuk selama-lamanya, tapi jasa dan cita-cita mulianya tak pernah lekang dimakan masa. Hasimah wafat di Jepara pada 3 Desember 2017, dengan meninggalkan jejak perjuangan sosok idolanya, untuk diteruskan oleh generasi selanjutnya.

Add Comment