Pemberantasan Tikus di Kecamatan Sedayu dengan Pengasapan

Proses pengasapan hama tikus menggunakan Alpostran (Foto: Kecamatan Sedayu)

SEDAYU, Bantul — Hama tikus merupakan salah satu hama yang menjadi musuh petani. Pasukan pengerat ini dapat mengakibatkan gagal panen. Jangankan bulir padi yang sudah menguning, padi yang sedang bunting pun tak luput dari jarahannya.

Untuk mengurangi dampak tersebut dilakukan upaya pemberantasan preventif dengan memutuskan mata rantai hidup tikus di wilayah Kecamatan Sedayu. Hal ini dilakukan dengan cara pengasapan. Pengasapan dengan  alpostran dilakukan pada Minggu (1/12/2019) dan dihadiri langsung oleh Camat Sedayu, Sarjiman.

Upaya pengasapan dilakukan dengan belerang alpostran dalam beberapa tahap, yaitu mencari lubang tikus yang masih baru, membakar batang belerang alpostran, lalu memasukkan alpostran ke dalam lubang. Asap dari pembakaran dapat membunuh tikus yang bersembunyi di dalam lubang.

Pengasapan diharapkan dapat menjadikan lahan sawah terbebas dari tikus dan produktivitas padi bisa meningkat, sehingga cita-cita menjadi Desa Mandiri Pangan (Demapan) dapat terwujud. Demapan merupakan program yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan gizi pada masyarakat melalui pendayagunaan sumberdaya, kelembagaan, dan budaya lokal di perdesaan.

Penanganan Hama Tikus Ramah Lingkungan  

Saat ini, kebanyakan masyarakat melakukan penanganan tikus menggunakan pengasapan.  Akan tetapi ada cara lain yang lebih ramah lingkungan, yaitu penggunaan brotowali dan jengkol. Studi tentang ini dilakukan oleh Gangsar Lukmanjaya, Fitri Diah Kusuma, dan Heni Susanti ; mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro.

Studi yang dipublikasikan melalui Jurnal Ilmiah Mahasiswa Volume 2 Nomor 1 tahun 2012  yang berjudul ‘Brotokol, Pengusir Hama Tikus Ramah Lingkungan Penopang Pertanian’. Penggunaan bahan ramah lingkungan sangatlah menguntungkan, baik dari segi ekonomi, kesehatan, dan lingkungan.

Dalam segi ekonomi, sebagian besar petani Indonesia  tergolong masyarakat menengah ke bawah, sehingga untuk membeli pestisida kurang begitu mampu. Penggunaan bahan ramah lingkungan seperti brotowali dan jengkol lebih hemat dan dapat diperoleh dari lingkungan sekitar atau dari pasar tradisional.

Dilihat dari segi kesehatan bahwa dalam pestisida terkandung banyak bahan kimia yang berbahaya. Apabila petani tidak memperhatikan aturan dalam menggunakan pestisida maka bukan tidak mungkin bisa terjadi keracunan.Tanaman yang telah diberi pestisida juga mengandung bahan kimia dari pestisida dan sangat berbahaya bagi tubuh.

Dari segi lingkungan, penggunaan pestisida yang cenderung berlebihan dan tidak terkontrol akan mengakibatkan keseimbangan alam terganggu, musuh alami hama menjadi punah, sehingga hama dan penyakit tanaman berkembang pesat, serta adanya residu kimia pada hasil panen.

Dengan penggunaan bahan yang ramah lingkungan diharapkan dapat tercipta sebuah terobosan baru dalam pembasmian hama tikus yang efektif, murah, dan mudah. Pembasmian hama tikus tersebut akan meningkatkan hasil panen, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berprofesi sebagai petani.

Berkurangnya penggunaan pestisida maka akan semakin memperkecil faktor risiko dari penyakit-penyakit yang disebabkan oleh pestisida, sehingga dapat mendukung terciptanya lingkungan yang sehat dan lestari. Penggunaan pembasmi hama tikus yang dibuat dengan bahan-bahan yang alami tidak akan menyebabkan timbulnya resistensi dari hama tikus, sehingga sangat efektif apabila diaplikasikan di dunia pertanian.