Desa Wisata Sermo, dari Sistem Irigasi hingga Pertunjukan Wayang Semalam Suntuk

BERKESAN – Desa Wisata Sermo menawarkan sensasi camping di area waduk. (Foto: Dinas Pariwisata Kulon Progo)

HARGOWILIS, Kokap – Waduk Sermo di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, saat ini tidak hanya berfungsi sebagai saluran irigasi. Saat musim kemarau datang, air di sekitar area Waduk Sermo surut. Momentum itu dimanfaatkan masyarakat di sekitar Kulon Progo, bahkan banyak juga dari luar daerah, untuk camping. Waduk Sermo terus berbenah menuju Desa Wisata Sermo.

Area camping untuk wisatawan yang ingin berkemah di area Waduk Sermo, difasilitasi tempat parkir, mushola, serta toilet dan kamar mandi. Wisatawan bisa datang pada Sabtu sore dan berkemah hingga Minggu pagi, kemudian berkemas siang harinya. Pilihan lainnya, berkemah dari Jumat malam hingga Hari Minggu. Ketika hari biasa, juga banyak wisatawan yang camping di area ini.

Selain camping, aktivitas susur waduk, mubeng deso, jelajah hutan, dan tani dapat dicoba wisatawan di Desa Wisata Sermo. Keseruan berbeda akan dirasakan ketika berinteraksi langsung dengan warga dalam berbagai aktivitas, antara lain membuat gula semut, geblek, dan jamu gendong. Jika ingin belajar gamelan, Tari Incling, dan Tari Angguk, Desa Wisata Sermo pun siap memfasilitasi. Tak lupa, pertunjukan wayang semalam suntuk.

Dahulu, pembangunan pada masa Orde Baru lebih banyak diprioritaskan pada peningkatan di bidang pertanian, seperti pembangunan saluran irigasi dan waduk. Salah satu waduk yang dibangun pada masa Orde Baru adalah Waduk Sermo.

Adanya sungai-sungai besar yang berpotensi untuk sarana irigasi dan kondisi penduduknya yang sebagian besar berprofesi sebagai petani menjadi salah satu faktor pendukung dibangunnya waduk di Kabupaten Kulon Progo. Waduk Sermo dibangun bertujuan memperbaiki sarana irigasi dan mengatasi banjir yang sering terjadi di Kabupaten Kulon Progo.

Persiapan pembangunan Waduk Sermo dimulai sejak tahun 1981 yang meliputi kegiatan perancangan detail bendungan, proses pembebasan tanah dan ganti rugi tanah serta pemindahan penduduk dari lokasi pembangunan waduk.

Pembangunan Waduk Sermo berhasil diselesaikan pada 1996 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 November 1996. Pembangunan tersebut mempunyai dampak bagi masyarakat di Kabupaten Kulon Progo, terutama dampak di bidang sosial dan ekonomi. Sejak adanya Waduk Sermo, banjir yang sering terjadi di Kabupaten Kulon Progo dapat ditangani dengan baik. Saluran irigasi menjadi lebih baik dan mata pencaharian penduduk juga menjadi lebih beragam.

Dampak Sosial Ekonomi

Ariesta Widiyawati, mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta, Fakultas Ilmu Sosial, Program Studi Ilmu Sejarah, Jurusan Pendidikan Sejarah melakukan studi mengenai ‘Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan Waduk Sermo Bagi Masyarakat di Kulon Progo Pada Tahun 1981-1996’ yang dipublikasikan melalui Jurnal Mahasiswa UNY Volume 2 Nomor 5 tahun 2017.

Menurutnya, pembangunan Waduk Sermo mempunyai dampak sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Sejak adanya pembangunan Waduk Sermo maka terjadi perubahan penggunaan lahan, perubahan luas pemilikan lahan, sarana umum menjadi lebih baik dan terjadi perubahan mata pencaharian penduduk. Perubahan tersebut berdampak pada budaya gotong royong dan pelapisan sosial. Budaya gotong royong yang tadinya sangat kuat menjadi luntur karena masyarakat telah mengenal sistem buruh,” tulisnya.

Pada sisi lain, sambungnya, keberadaan Waduk Sermo sangat bermanfaat dengan semakin baiknya sistem irigasi di Kabupaten Kulon Progo, tersedianya air untuk minum, dan mengurangi banjir. Kekayaan sumber air Waduk Sermo dapat juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk budidaya perikanan dan mengembangkan sektor pariwisata. Dengan demikian, kesejahteraan penduduk akan terjamin. (Triyono W)