Dampak Limbah Industri Batik, Sumur Warga Keruh dan Berbau

Pengecekan sumur warga terdampak limbah industri batik (Foto: Kapanewon Lendah)

NGENTAKREJO, Kulon Progo — Saat ini perkembangan industri batik di Kulon Progo berkembang sangat pesat, khususnya di Kapanewon Lendah membawa. Berkembangnya industri batik memiliki dampak negatif  yakni isu penurunan kualitas lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah industri.

Dampak terhadap penurunan kualitas lingkungan hidup dirasakan langsung oleh warga yang tinggal di sekitar rumah produksi. Warga terdampak merasakan ada perubahan kualitas air sumur yang menjadi keruh, berbau serta gatal-gatal bila mengenai anggota tubuh. Kondisi ini sudah dirasakan warga sejak sekitar 4 -5 tahun yang lalu.

Melihat permasalahan tersebut, warga melayangkan keluhannya ke Pemerintah Desa Ngentakrejo beberapa waktu yang lalu. Atas keluhan warga tersebut Pemerintah Desa Ngentakrejo berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan penanganan.

Menindaklanjuti keluhan warga, pada Senin, (13/01/2020), tim survei lingkungan yang terdiri dari perwakilan Dinas Lingkungan Hidup , Dinas Perdagangan dan Perindustrian, Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Puskesmas Lendah, Polsek Lendah dan Koramil Lendah di dampingi oleh aparat desa setempat dan Kapanewon Lendah, melakukan pengecekan langsung ke lokasi industri batik dimaksud serta warga terdampak.

Hasil pengecekan ke lokasi industri, tim menemukan beberapa catatan terhadap pengelolaan limbah batik di rumah produksi batik.

Heni dari Dinas Lingkungan Hidup menyampaikan bahwa dilokasi industri tidak memiliki pengolahan limbah.

“Dari hasil pengamatan tadi kita melihat tidak ada sistem pengelolaan limbah, limbah batik langsung dibuang begitu saja di tanah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kualitas lingkungan rumah produksi tidak bisa disimpulkan sebelum adanya pengecekan di laboratorium.

“Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa perubahan kualitas lingkungan yang terjadi pada warga sekitar rumah produksi merupakan dampak dari kegiatan produksi batik. Hasil cek laboratorium yang dilakukan oleh pihak Dinas Kesehatan Kulon Progo yang akan menjadi dasar apakah ada pencemaran atau tidak,” tambahnya.

Dari hasil survei ke lokasi produksi, diambil sampel air di beberapa sumur warga, selanjutnya akan diteliti di laboratorium. Hasil cek laboratorium tersebut akan diketahui beberapa hari kedepan.

Sumur Warga Keruh dan Berbau

Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa ia dan keluarganya sudah tidak menggunakan air sumur untuk keperluan sehari-hari sejak airnya tercemar limbah batik.

Mboten tegel, airnya keruh dan bau,” ungkapnya.

Sejak sumurnya mulai tercemar limbah, ia dan keluarganya menggunakan air PDAM untuk keperluan mandi, mencuci maupun memasak.

Dampak ini dirasakan oleh warga yang rumahnya  berjarak antara 15  sampai dengan 50 meter dari rumah produksi batik.

Hasil pengamatan lapangan di salah satu rumah produksi, limbah berupa air bekas yang digunakan untuk proses pembuatan batik dibuang begitu saja di tempat tersebut, tanpa melalui proses pengolahan sehingga terlihat seperti kolam yang berwarna-warni.

Heni mengajak warga untuk bersabar menunggu hasil penelitian sampel air di laboratorium, agar suasana di Desa Ngentakrejo tetap kondusif.

“Jika nanti hasil cek  laboratorium positip sumur warga tercemar oleh limbah batik, maka akan-diambil langkah-langkah berikutnya untuk mengembalikan kualitas lingkungan,” pungkasnya.