Kostum Ala Militer Belanda, Kesenian Angguk Dihadapkan Perkembangan Zaman

Kesenian Angguk Lentur Puji Rahayu (Foto: MC Sleman)

Ngaglik — Menjadi tantangan tersendiri manakala kesenian tradisional dihadapkan pada perkembangan zaman, dimana kesenian rakyat tidak boleh kehilangan ruhnya namun tetap harus bisa mengikuti selera pasar. Hal tersebut disampaikan Suwaji, Ketua Paguyuban Angguk Lentur Puji Rahayu di kediamannya, Dusun Bakalan, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Rabu, (08/01/2020).

“Kemajuan teknologi yang mampu menembus ruang dan waktu membuat dunia seakan tidak berjarak. Hal inilah yang menyebabkan informasi tentang pola kehidupan dan budaya dari segala penjuru masuk dan  berpengaruh di banyak segi kehidupan. Tak terkecuali di bidang kebudayaan dan kesenian, kemajuan zaman faktanya mampu merubah selera masyarakat dalam mengapresiasi seni dan budaya yang  telah ada. Hal tersebut mestinya tidak dijadikan penghalang untuk tetap melestarikan budaya dan seni yang telah kita miliki sejak puluhan bahkan ratusan tahun lalu,” ungkapnya.

Paguyuban Angguk Lentur Puji Rahayu yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda selalu melakukan inovasi agar tetap  langgeng melewati waktu.

Suwaji menceritakan bahwa pada awal berdirinya paguyuban, kesenian yang dibentuk adalah selawatan dengan alat musik rebana sebagai syiar agama Islam. Selanjutnya selawatan tersebut berkembang bukan saja sebatas seni suara tetapi juga seni gerak yaitu tarian Angguk yang dimainkan oleh pria dengan iringan terbang, kenong, bedug, serta kencreng.

“Dinamakan Angguk karena seni tari ini didominasi oleh gerakan mengangguk-anggukkan kepala,” terangnya.

Ia mengungkapkan, seiring perkembangan zaman dan selera masyarakat, dengan tidak meninggalkan pakem yang sudah ada, kini kesenian Angguk di Dusun Bakalan dimainkan oleh penari putri saja. Anggota paguyuban saat ini berjumlah 60 orang termasuk pengurus, pengrawit dan  penari aktif yang berkisar 30 orang.

Angguk ditarikan 6-16 orang setiap tampil tergantung besarnya panggung atau even yang diikuti. Angguk juga biasa digunakan untuk acara  penyambutan tamu, ambil bagian di acara festival kesenian, sebagai hiburan di acara besar atau pentas di acara pernikahan. Tiap kali pentas Angguk bisa disajikan dalam beberapa babak dengan durasi total 3- 7 jam tergantung permintaan penyelenggara.

Menurutnya, beberapa judul tarian yang dipentaskan dan menjadi favorit bagi penonton adalah Jejeran Tari Pancasila, Ikan Cucut, Saya Cari, Ibarat Gunung, Bongso Kito, dan masih banyak lagi.

Kostum Ala Militer Belanda

Suwaji menjelaskan bahwa, kostum yang dipakai pada kesenian Angguk adalah baju ala militer zaman Belanda dengan bagian dada, pundak, dan punggung diberi hiasan, celana pendek, topi, selendang, kacamata hitam, dan  kaos kaki yang merupakan ciri khas dari kesenian Angguk dan tidak dimiliki oleh jenis tarian lain. Musiknya berupa kendang, terbang, kenong, kencreng, serta alat musik modern seperti drum, keyboard, dan bass. Selain musik, tari angguk juga diiringi lantunan lagu yang berisi tentang petuah dan nasehat tentang kehidupan.

“Agar pentas tidak membosankan tampilan dikemas sedemikian rupa untuk menarik penonton misalnya diselingi dengan lagu dangdut, campur sari atau lagu lain yang saat ini sedang digemari oleh masyarakat saat ini,” tambahnya.

Ia mengungkapkan bahwa, Angguk yang dipimpinnya pernah pentas hampir ke seluruh hotel ternama di Yogyakarta, selain itu telah melanglang ke kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan kota lain di wilayah Jateng dan Jatim.

Berbeda dengan kesenian serupa yang berasal dari daerah lain, Angguk Lentur Puji Rahayu, Dusun Bakalan tergolong sangat dinamis dengan diiringi suara musik yang sangat rancak dan energik. Hal yang menarik dari penampilan Angguk adalah ketika para penari mengalami kesurupan dimana dalam kondisi ini penari diyakini kemasukan roh halus sehingga bertingkah di luar kesadarannya.

“Selain inovasi pada tarian, musik pengiring, kostum, tata rias, seni pertunjukannya, Angguk Puji Rahayu juga melakukan pembaharuan pada teknik penataan panggung, properti yang digunakan, tata suara, tata lampu dan penampilan para pemain, serta berkolaborasi dengan kesenian modern,” ungkapnya.

Ia berharap, agar kesenian tradisional  mampu memikat penonton dan bisa diterima di berbagai lapisan masyarakat serta tetap terjaga kelestariannya.