Pedagang Pasar Kranggan Gelar ‘Reresik’ Selasa Legi, Targetkan Pengolahan Limbah Pasar Organik Jadi Pupuk Tanaman

Kegiatan reresik Pasar Kranggan pada Selasa Legi (Foto: Pemkot Jogja)

PASAR KRANGGAN, Jogja — Para pedagang Pasar Kranggan memiliki kebiasaan unik saat hari Selasa Legi tiba. Mereka yang berdagang di luberan pasar Kranggan memilih libur dan beramai-ramai melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan di sekitar pasar khususnya di sepanjang Jalan Poncowinatan. Kegiatan tersebut dilakukan pada Selasa (21/1/2020).

Para pedagang Pasar yang berada tidak jauh dari Jantung Kota Yogyakarta ini, tepatnya di Jalan Pangeran Diponegoro no. 29 Yogyakarta menggelar pertama kali kegiatan tersebut pada 12 November 2019.

Reresik alias bersih-bersih pasar ini biasanya dimulai sejak pukul 06:00 WIB hingga menjelang siang tiba. Tidak hanya dari unsur pedagang saja, kegiatan yang sudah berjalan kali ketiga ini juga melibatkan seluruh elemen Forkopimka.

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi saat menghadiri reresik Pasar Kranggan, mengungkapkan bahwa, kegiatan ini diinisiasi pedagang Pasar Kranggan.

“Kegiatan ini diinisiasi oleh para pedagang di luberan pasar kranggan, yang juga dibantu dari unsur Forkopimka, dan sejumlah paguyupan pasar,” ucapnya.

Ia menjelaskan, reresik pasar ini untuk menghilangkan citra pasar tradisional kumuh dan kotor. Sehingga, pembeli merasa nyaman dan intens berbelanja di pasar tradisional. Dengan begitu pendapatan pedagang pasar pun lebih baik.

“Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan sudah meluncurkan program reresik pasara tradisional yang dilaksanakan setiap Kamis Pon,” tandasnya.

Pasar Kranggan sebagai salah satu pasar legendaris sekaligus ikon di Kota Yogyakarta diharapkan bisa terus dijaga kebersihannya sehingga slogan ‘Pasare Resik Rejekine Apik Sik Tuku Ora Kecelik’ tidak hanya isapan jempol belaka

Wakil Walikota mengingatkan, persaiangan sekarang sudah sangat ketat selain menjaga kebersihan pasar, ketertiban juga harus dijaga sehingga para pembeli tidak ragu untuk ke pasar.

“Kalau mau parkir saja susah, para pembeli ya tentu tidak mau ke pasar,” ujarnya.

Pengolahan Limbah Pasar Organik Jadi Pupuk Tanaman

Heroe Poerwadi juga menyinggung tentang pengeolaan limbah pasar organik menjadi pupuk tanaman. Hal itu perlu dipikirkan karena kapasitas TPS Piyungan diperkirakan akan habis pada 1,5 tahun mendatang.

“Untuk itulah, kita harus menyiapkan rencana, di Tegalrejo sudah mencoba mengeolah sampah secara mandiri menggunakan mesin dengan cara dibakar sehingga tidak perlu lagi membuang ke TPS Piyungan,” paparnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta Yunianto Dwi Sutono mengatakan kegiatan ini sejalan dengan reresik pasar yang digelar setiap Kamis Pon atau 35 hari sekali.

“Kalau yang digelar hari ini khusus untuk luberan pedagang pasar Kranggan, mereka memiliki inisiatif sendiri yang harus kita dorong, karena ini menjadi agenda wilayah,” ucapnya.

Pihaknya berharap kegiatan ini bisa diterapkan di wilayah lain, sehngga seluruh kecamatan melakukan hal yang sama yakni mengajak padagang di luberan pasar melakukan reresik.

Add Comment