Gatot Suprihadi: Suksesnya Pembangunan Kota ialah Hasil Kolaborasi Pemerintah dengan Masyarakat

Diskusi rutin Kamis Kanoman oleh Jogjadaily.com dengan Pandiva Media diisi oleh Gatot Suprihadi, selaku Ketua Bidang Pengabdian IAI DIY. (Foto: Hanang)

Banguntapan- Program Gandeng-Gendong yang di inisiasi oleh Pemkot Yogyakarta merupakan program untuk mengajak keterlibatan lima sektor untuk menangani kemiskinan, mulai dari komunitas, kampung, kampus, pihak swasta serta dari Pemerintah Kota Yogyakarta. Salah satu bentuk program Gandeng-Gendong adalah memberikan kesempatan kepada kelompok masyarakat untuk menjadi penyedia jamuan makan dan minum dalam setiap kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Yogyakarta. Sebagai bentuk pengabdian, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) DIY juga memiliki peran dalam program ini, yakni pada sektor tata ruang kota dan pemberdayaan Masyarakat.

Menurut Gatot Suprihadi, selaku Ketua Bidang Pengabdian IAI DIY (12/03/2020) menjelaskan bahwa pembangunan suatu kota tidak hanya mementingkan fisik, tetapi juga nilai-nilai masyarakatnya. “Ternyata membangun fisik itu mudah, tetapi membangun mindset itu tidak mudah. Itu salah satu PR Kita. Membangun itu tidak hanya sekedar fisik, nah itu tugasnya arsitek,” jelasnya.

Gatot menyampaikan bahwa dalam melakukan tata ruang, seorang arsitek harus memiliki kemampuan melakukan pemetaan dan menangkap keunikan. Hal ini karena setiap lokasi, baik desa, daerah maupun kampung memiliki jati dirinya sendiri dan berbeda-beda.

“Kita melihat, kampung-kampung memiliki banyak sekali tema. Bahkan berlomba-lomba mencari jati diri. Sehingga, peran arsitek tadi ketika kita dalam bidang pengabdian ya harus pandai membaca. Karena setiap individu dilahirkan punya bakat yang tidak bisa disamaratakan” ungkapnya.

Sejak SMA, Gatot memang sudah memiliki mimpi untuk membangun banyak ruang publik yang bisa dinikmati masyarakat. Menurutnya, itu bentuk dari pengabdian kepada masyarakat. Dari SMA, Gatot bahkan sudah menjuarai lomba kepenulisan tentang bagaimana sungai itu bisa menjadi ruang interaksi.

Diskusi Kamis Kanoman kali ini bertempat di Midclass Outlet, Gg. Puntodewo Gg. 3 No.164d, Karang Jambe, Banguntapan, Kec. Banguntapan, Bantul. Selain membahas mengenai peran Arsitek, Gatot juga menjelaskan bagaimana peran IAI DIY saat ikut terlibat dalam konsep Smart City (kota pintar) dan gandeng gendong.

Smart City di suatu daerah bisa berjalan ketika pemerintah dan masyarakatnya sudah melakukan kolaborasi. Jogja ini sudah memasuki Smart City generasi ketiga. Salah satunya dengan program Gandeng Gendong,” jelas Gatot yang juga pendiri Biro Wasnadipta (Wastu Buana Adi Cipta).

Gatot berharap, dengan adanya program Smart City mampu mengubah hal yang lebih besar. Tentunya, kota pintar yang dimaksud tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara nilai. Mulai dari karakter dari masyarakat, nilai yang disampaikan, hingga implementasi pembangunan yang terintegrasi antara pemerintah dan masyarakat.

Peran Arsitek dalam Pembangunan Tata Ruang Kota

Kita senang sekali diajak diskusi dengan teman-teman yang hebat. Istilahnya Wong Kang Soleh Kumpulana. Karena di situ kita bisa belajar dan berkolaborasi,” jelas gatot saat membuka diskusi kamis kanoman.

Menurutnya, arsitek merupakan sebuah ilmu yang menarik. Seorang arsitek harus memiliki ilmu perencanaan yang baik. Lebih jauh, arsitek tidak hanya soal membangun fisik, atau bahkan menggambar, tetapi seorang arsitek juga harus mampu melakukan pembangunan secara nilai yang sesuai dengan masyarakat.

“Arsitek adalah profesi, sedangkan arsitektur adalah karya profesi arsitek. Tidak semua sarjana arsitek menjadi arsitek, karena menjadi arsitek itu harus memiliki persyaratan, kompetensi, register, sertifikasi. Untuk menjadi seorang sarjana arsitek, harus mengikuti profesi arsitek,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa ketika sudah berprofesi sebagai arsitek maka bisa bekerja di sektor swasta, dan juga bisa menjadi di birokrasi atau malah memiliki sebuah biro. Telah tersertifikasi, terdaftar dan memiliki kompetensi. Kewajiban lainnya yakni melakukan pengabdian kepada masyarakat.

“Tidak lagi sebagai bentuk memberikan uang, tetapi sesuai dengan kompetensinya. Bidang di IAI, masing-masing punya kewajiban untuk kolaborasi,” katanya.

IAI memiliki potensi yang cukup besar, ada 10 Perguruan Tinggi yang mengampu bidang arsitek di Jogja. Ada 800 artsitek yang sudah tersertifikasi olah IAI. Di Jogja sudah ada 45 kelurahan yang sebenarnya setiap kelurahan bisa di dampingi oleh satu arsitek.

“IAI ya sederhana ketika melakukan pengabdian masyarakat, misalnya dalam satu kecamatan ada berapa arsitek yang tinggal di daerah terkait. Maka masing-masing akan membangun daerahnya. Meskipun tidak semuanya bisa,” jelasnya.

IAI selalu melibatkan arsitek lokal dalam hal pengabdian masyarakat. Menurutnya, infrastruktur adalah masa depan yang harus dibangun. Membangun itu tidak hanya sekadar fisik, tetapi membangun dengan ramah peradabannya untuk masa depan.