Pemkot Yogya Terus Bina Generasi Muda

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi didampingi Camat Kotagede dan Lurah Rejowinangun menandatangani deklarasi anti kejahatan jalanan pemuda karang taruna di Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) RW 12 Kelurahan Rejowinangun beberapa waktu lalu. (Foto: Hanang Widiandhika)

Rejowingangun – Pemerintah Kota Yogyakarta terus berkomitmen dalam menumpas aksi kejahatan remaja “klitih” yang belakangan ini menjadi keprihatinan semua pihak.

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menjelaskan ada sejumlah faktor yang mengakibatkan kejahatan remaja hingga mengarah penggunaan narkoba. Mulai dari internal keluarga. Seperti kondisi rumah tangga orang tua yang rusak (broken home) sehingga mengakibatkan kurangnya kasih sayang orang tua terhadap anak.

“Secara dini generasi muda harus kita awasi. Jangan sampai terkena pengaruh negatif yang berdampak pada kehidupannya ke depan,” tegasnya saat menghadiri acara pembinaan generasi muda di Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) RW 12 Kelurahan Rejowinangun, Sabtu malam (29/2/2020).

Ia juga mengingatkan agar orang tua bersikap “kepo” terhadap aktivitas anak, terutama saat di luar rumah. “Kalau sampai malam hari belum pulang, maka perlu ditelepon. Harus ‘kepo’. Ditanya sedang dimana, sedang apa dan bersama siapa. Sikap ‘kepo’ ini penting,” katanya.

Ia menyebut, makna “klitih” sebenarnya sudah mengalami pergeseran sehingga saat ini “klitih” memiliki konotasi yang negatif karena diasosiasikan sebagai tindak kekerasan atau tindak kriminalitas oleh sekelompok anak usia sekolah.

“Dulu, ‘klitih’ berarti ‘dolan’ atau jalan-jalan saja. Tetapi sekarang artinya sudah berbeda karena cenderung ada tindak kejahatan yang dilakukan,” katanya.

Wawali menambahkan, sekitar 90 persen orang tua pelaku “klitih” mengaku terkejut karena anaknya terlibat tindakan kriminalitas karena sang anak menunjukkan sikap yang alim saat berada di rumah.

Berdasarkan data Kantor Kesatuan Bangsa Kota Yogyakarta, jumlah kasus “klitih” di Kota Yogyakarta dalam dua tahun terakhir tercatat sebanyak 18 kasus pada 2018 dan 16 kasus pada 2019.

Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan, sebanyak 29,5 persen pelaku klitih masih duduk di bangku SMP, 68 persen siswa SMA bahkan ada pula pelaku yang masih duduk di bangku SD sebanyak 2,5 persen.

“Penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari faktor internal seperti kurang mendapat perhatian di keluarga hingga faktor eksternal seperti tergabung dengan geng sekolah atau pengarus minuman keras dan narkoba,” katanya.

Wawalipun menegaskan komitmen Pemkot Yogya untuk membersihkan Kota Pelajar dari kejahatan klitih yang marak terjadi belakangan ini. Hal itu dibuktikan salah satunya dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Anti Klitih yang melibatkan sejumlah unsur seperti Kodim 0374, Polresta Yogyakarta dan sejumlah elemen masyarakat, seperti PKK dan KPAI.

“Kami tidak akan pernah memberikan ruang sedikitpun di Kota Yogyakarta ini untuk melakukan aksi tersebut,” ucapnya.

Patroli Setiap Saat

Ia menjelaskan, Satgas Anti Klitih tersebut salah satunya bertugas melakukan patroli di seluruh wilayah Kota Yogyakarta, dengan begitu harapannya tidak ada lagi tempat yang nyaman bagi para pelaku Klitih.

“Klitih ini biasanya terjadi dari sekelompok anak usia pelajar yang menghabiskan waktu dengan berkumpul pada malam hari,” bebernya.

Pihaknya juga mengajak warga untuk ikut mendorong Satgas ini dengan aktif melakukan ronda pada malam hari. Ia meminta warga untuk mengingatkan anak-anak yang nongkrong pada malam hari.

“Jika mereka sudah mengganggu lingkungan dan ada potensi terjadinya kejahatan segera lapoarkan kepada aparat,” tegasnya.

Selain satgas, Pemkot juga membentuk call center yang bertujuan untuk merespon secara cepat jika terjadi atau ada potensi kejahatan yang dilakukan.

“Pemkot Yogya beserta Polresta Kota Yogya dan Kodim 0734 serta pemangku kepentingan lainnya akan lebih keras menindak kenakalan remaja, terutama dalam peredaran minuman keras, narkoba, dan aksi klitih,” katanya.

Ia menyebut, jika tidak segera ditangani maka klitih bisa semakin meresahkan dan mengganggu citra Yogyakarta yang mendapat banyak predikat mulai dari kota pendidikan, kota pelajar, kota budaya, serta kota pariwisata. “Klitih adalah musuh kita bersama,” tegasnya, yang berharap agar keberadaan geng sekolah bisa dihapuskan.