Tri Kusumo Bawono, Dokter Tampan Yang Bekerja Dengan Hati

Dokter Tampan, Tri Kusumo Bawono saat di temui di tempat kerjanya beberapa waktu lalu. (Foto: Astama Izqi Winata)

Gedongtengen – Bekerja dengan hati untuk membahagiakan orang lain dan menjadikan hidup dapat bermanfaat itulah prinsip hidup seorang dokter yang juga merupakan Kepala Puskesmas Gedongtengen Kota Yogya, ia adalah Tri Kusumo Bawono atau akrab disapa dr. Tri.

Figur Tri sendiri selama ini mungkin tak asing di kalangan masyarakat Kota Yogyakarta terlebih di kawasan Sosrowijayan. Ia terbilang begitu aktif melakukan sosialisasi dan penanganan terutama terkait kesehatan masyarakat.

Tak jarang ia menemui para pasien dan orang-orang yang kerap berkonsultasi dengannya, tidak hanya para pekerja seks komersial, tapi juga waria, preman, dan anak-anak jalanan.

Karena begitu aktifnya ia melakukan sosialisasi dan penanganan terutama terkait kesehatan masyarakat yaitu dalam menangani kualitas kesehatan para PSK di Pasar Kembang (Sarkem), terutama terkait penyakit menular seksual dan HIV, Ia dijuluki sebagai dokter idola para PSK Sarkem

Warga Pakualaman Kota Yogya ini mendapat tempat tersendiri di hati pasien yang dijangkaunya. Bahkan salah satu pasien (PSK) sempat menaruh hati meski kemudian mengurungkan niat lantaran Tri telah berumahtangga.

“Saya malah jadi idola, itu mereka sendiri yang bilang. Tapi saya tetap profesional, saya bekerja melayani masyarakat. Setiap ada orang sakit, ya itu tanggung jawab saya,” ungkapnya ketika dijumpai di tempat kerjanya beberapa waktu lalu.

Selama enam belas tahun melayani, ia mengaku banyak hal yang sulit dilalui. Namun berkat dorongan sang istri, ia terus bisa menjaga komitmennya untuk membantu para PSK di Sarkem tetap sehat.

Pengalaman menarik sempat dialaminya yang begitu membekas hingga saat ini yakni saat ia digoda para pekerja seks Sarkem saat hendak melakukan pelayanan kesehatan. Ia kerap digoda lantaran ia memang berparas tampan.

“Kaki saya pernah dijepit, digoda diminta mampir. Tapi lalu dari jauh diteriaki temannya bilang kalau saya dokternya. Lalu mbak-mbaknya pergi, mungkin malu” kenangnya tersenyum.

Karena ketulusan hatinya ini mampu mengatarkan ia menjadi dokter teladan terbaik pertama tahun tahun 2018, dan pada tahun 2019 ia juga meraih prestasi dokter teladan tingkat DIY dengan mengusung inovasi Pradha Pelayanan Ramah ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang sudah berproses sejak tahun 2011. Selalin itu inovasinya tersebut mengantarkannya mewakili DIY di tingkat nasional.

Ide inovasi tersebut muncul ketika ada pasien perempuan yang melahirkan tanpa adanya pertolongan medis di wilayah Sarkem. Karena perempuan tersebut pendarahan sangat dahsyat dibawa ke salah satu layanan kesehatan oleh timnya dua dokter dan satu bidan. Namun si pasien tersebut justru tidak mendapat pelayanan dengan baik.

Padahal setelah itu dilakukan pemeriksaan darah, hasilnya negatif HIV. “Saya melihat ini, berarti Sarkem ini sudah terstigma ketika ada orang datang dari sana dia akan dianggap sebagai orang HIV,” jelasnya.

Tujuan Peradha ini, untuk mendekatkan layanan yang lebih baik dan manusiawi, serta tentu saja welcome. Selain itu mempermudah akses pelayanan maupun memberi jalur tanpa antrian untuk pasien terkait.

Pasien-pasien terkait misalnya ada sebagian pasien TBC dan penyakit-penyakit menular lainnya yang bisa menularkan ke orang lain. “HIV nya nggak masalah tapi TBC nya ini kalau dia batuk menular ke pasien-pasien yang lain,” tuturnya.

Ia melihat kasus Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) semakin menaik dan harus ada penanganan tepat sehingga tenaga kesehatan mulai dari puskesmas perlu melakukan inovasi guna meningkatkan kualitas hidup mereka.

Tak hanya itu, Puskesmas Gedongtengen juga mendorong agar pelaku bisnis hiburan malam di wilayah kerjanya untuk selalu menggunakan kondom dan melakukan pemeriksaan rutin lewat program LKB Plus. Hal ini dilakukan untuk menekan kasus HIV maupun IMS yang bisa saja muncul.

Karena suka bergaul, ia juga sukses merangkul berbagai LSM yang bersinggungan langsung dengan PSK maupun waria di Yogyakarta untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang pentingnya pemeriksaan dan pengobatan HIV/AIDS.

Tri adalah salah satu sosok pemuda Indonesia yang peduli pada kesehatan masyarakat. Apalagi memang tidak mudah untuk benar-benar memusnahkan HIV-AIDS dari muka bumi ini. Selalu ada tantangan dalam setiap perjuangan, tapi bukan berarti menjadi alasan untuk tidak berbuat apa-apa.

Biografi

Tri Kusumo Bawono merupakan lulusan Fakultas kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tahun 2003. Pada tahun 2004, pria kelahiran 6 Juli 1972 ini lantas menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Gedongtengen, Kota Yogyakarta.

“Saya masuk kuliah angkatan pertama di Kedokteran UMY. Tahun 2003 lulus, lalu 2004 jadi PTT di sini (Puskesmas Gedongtengen),” ujar nya.

Pada awal tugas menjadi dokter PTT, Tri mendapat tugas mengikuti pertemuan dengan pihak pengelola, LSM, keamanan dan para tokoh yang ada di wilayah Pasar Kembang. Pertemuan itu diadakan setelah terdata ada sekitar 13 kasus HIV ditemukan di Pasar Kembang.

Pada pertemuan itulah, ia pertama kalinya menginjakkan kaki di Sarkem dan berkenalan dengan para tokoh yang ada. Dari pertemuan itu, Tri dan rekan-rekannya membentuk klinik pelayanan khusus di Sarkem.

“Saya dan beberapa teman mendapat pelatihan, lalu kami disini mendirikan klinik tes HIV dan rehab napza,” ucapnya.