Wakil Walikota Yogyakarta Tinjau langsung Shelter Untuk Isolasi Mandiri Para Pendatang

Wakil Wlaikota Yogyakarta saat meninjau shelter untuk isolasi mandiri para pendatang. (Senin, 28/4/2020). (Foto: Hanang Widiandhika)

Giwangan – Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi tinjau langsung dapur umum dan lokasi yang digunakan untuk para warga Kota Yogyakarta melakukan isolasi diri setelah mudik dari perantauan.

Wawali menuturkan, fasilitas untuk isolasi diberikan karena kebanyakan dari para pemudik tidak memiliki tempat yang memadai untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

“Ini bagian upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Yogya untuk memberikan rasa nyaman kepada para pemudik, mereka memang harus melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Saat ini ada 6 yang tinggal di shelter beralamatkan di jalan veteran, sisanya sudah diperbolehkan pulang,” katanya, Senin (27/4/2020).

Dirinya menambahkan setiap harinya para pemudik yang melakukan isolasi mendapatkan bantuan makanan tiga kali sehari bagi yang tidak melakukan ibadah puasa, sedangkan yang melakukan ibadah puasa disediakan makan sahur dan saat berbuka.

“Para petugas juga memberikan makanan untuk sahur mereka (petugas), memasak hidangan sahur sejak pukul 01.00 WIB, dan menu yang disediakan cukup bervariasi dan berganti-ganti tiap harinya,” tuturnya.

Tidak hanya Pemkot Yogyakarta yang memberikan fasilitas untuk isolasi mandiri, beberapa masyarakat juga telah memberikan fasilitas serupa seperti yang dilakukan warga Ngampilan.

“Kemarin saya sempat ke masjid Arrahmah yang menyediakan fasilitas 2 kamar untuk isolasi diri bagi masyarakat yang tidak mempunyai tempat isolasi dan tidak mampu untuk menyewa, selain itu di sana juga sudah disiapkan lumbung pangan,” jelasnya.

Wawali berharap pada minggu-minggu ini Pemkot Yogya dapat melakukan distribusi pangan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dibuka Untuk Umum

Saat disinggung mengenai hingga kapan shelter disediakan, Wawali menjelaskan, shelter akan dibuka untuk pemudik selama masih ada masyarakat yang membutuhkan untuk isolasi mandiri.

“Tidak lama, harapannyakan pandemi covid dapat segera berakhir. Jadi, RT/RW mendata mereka seperti memiliki ruangan atau tidak, satu rumah digunakan berapa orang, kalau tidak memenuhi syarat nanti pihak kelurahan kalau ada tempat bisa ke tempat itu. Tetapi jika tidak harus kesini (shelter),” paparnya.

Awalnya shelter tersebut dihuni oleh 11 orang tetapi hingga sekarang sudah ada sejumlah 5 orang yang diperbolehkan pulang dan tinggal 6 orang yang ada di shelter.

“5 orang tadi sudah dinyatakan negatif hasil tesnya, sedangkan 6 orang ini masih menjalani karantina sekitar 12 hari lagi,” ujar Wawali.