Aktualisasi Gerakan Segoro Amarto Hadapi Pandemi Covid-19

Program pembagian sembako RW 05 Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, kepada warga terdampak. KELURAHAN KARANGWARU

Segoro Amarto, akronim  dari Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyokarto, adalah sebuah ‘pernyataan’ semangat membangun Kota Yogyakarta berlandaskan empat sikap, yaitu kemandirian, kedisiplinan, kepedulian, dan kebersamaan atau gotong royong. Membentuk masyarakat Yogyakarta yang tangguh berdaya dan bergerak bersama membangun kesejahteraan umat.

Berkaca pada sejarah pencanangan Segoro Amarto, berawal dari renungan, mengapa Negara Korea Selatan mampu menjadi negara maju hanya dalam waktu kurang lebih 40 tahun, 1960-an hingga 2000-an. Di balik kemajuan yang dicapai Korea Selatan ternyata terselip sebuah semangat dan keinginan rakyatnya untuk lebih baik, bahkan melebihi ‘musuh’ bebuyutannya, yaitu Jepang.

Korea memang pernah menjadi jajahan Jepang dan menjadi bagian Kekaisaran Jepang (1910-1945) hingga kemudian Korea terbagi menjadi dua, Korea Selatan dan Korea Utara. Seperti Indonesia, saat penjajahan Jepang, rakyat Korea sangat menderita. Namun demikian, penderitaan yang diterima rakyat Korea dari penjajahan Jepang tidak membuat mereka kehilangan semangat.

Justru pada tahun 1970-an, berkat Presiden Korea Selatan saat itu, Park Chung Hee, yang menggelorakan semangat Saemoul Undong, lahirlah sebuah semangat gerakan memodernisasi ekonomi pedesaan di Korea Selatan.

Gerakan ini pada awalnya berupaya memperbaiki kesenjangan kota sebagai pusat negara, yang mengalami industrialisasi dengan cepat, dengan desa-desa kecil, yang terus terperosok dalam kemiskinan. Ketekunan, swadaya, dan kolaborasi adalah slogan pendorong anggota masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.

Tahap awal gerakan berfokus pada peningkatan kondisi kehidupan dasar dan lingkungan, sedangkan proyek-proyek kemudian berkonsentrasi pada pembangunan infrastruktur pedesaan dan peningkatan pendapatan masyarakat.

Dengan keberhasilan semangat gerakan Saemoul Undong di Korea Selatan maka Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membuat gerakan serupa yang diberi nama Segoro Amarto dengan modal utama, jiwa dan sikap asli bangsa Indonesia, yaitu gotong royong dan kepedulian.

Modal sosial bernama gotong royong inilah yang kemudian menjadi ruh utama Segoro Amarto dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat DIY. Keterlibatan semua pihak menjadi kunci dalam sinergi program-program pemerintah dengan swasta.

Dalam lingkup Pemerintah Kota Yogyakarta, gerakan Segoro Amarto kemudian dilengkapi dengan pembentukan lembaga bernama Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) di tingkat kota hingga kelurahan. TKPK berfungsi melakukan koordinasi antar-lembaga sosial masyarakat, mulai dari RT, RW, PKK, LPMK, dan lembaga sosial lainnya.

Segoro Amarto dan Covid-19

Adanya pandemi Covid-19 memunculkan satu semangat baru yang telah lama hilang, yaitu semangat peduli, gotong royong, dan berbagi kepada sesama. Harus kita ingat, sejak zaman nenek moyang kita, gotong royong menjadi fondasi utama keberhasilan pembangunan infrastruktur maupun bangunan bersejarah.

Tanpa adanya gotong royong tidak akan ada peninggalan sejarah berupa Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan beragam peninggalan sejarah lainnya. Saat zaman penjajahan pun, kita terbiasa untuk bersatu padu menghadapi musuh bersama tanpa melihat latar belakang suku, agama, dan ras.

Pandemi Covid-19 menjadikan kita kuat karena gotong royong, dan menjadikan kita semakin peduli kepada sesama.

Sikap tersebut mencerminkan sikap Segoro Amarto. Sikap bersama-sama di tengah pandemi dan bergandeng tangan untuk bangkit.

Add Comment