Bisnis Sosial di Masa Pandemi

Dapur Umum Warga RW 09 Kelurahan Wirogunan untuk mahasiswa rantau yang indekos. ASTAMA IZQI WINATA

Pandemi Covid-19 sejak beberapa waktu yang lalu memberikan beragam dampak bagi masyarakat. Tidak hanya dampak ekonomi yang paling dirasakan, namun juga dampak sosial. Mulai dari perilaku jaga jarak hingga menghindari kerumunan, membuat perilaku kehidupan masyarakat sedikit berubah.

Pertemuan warga mulai dikurangi, tidak ada lagi arisan trah sebagai media silaturahmi antar-keluarga, dan yang paling ekstrem, dilarangnya tradisi mudik oleh pemerintah beberapa saat sebelum Lebaran.

Meski demikian, di tengah beragam dampak akibat pandemi Covid-19, secercah harapan baru lahir, berupa rasa kemanusiaan. Ya, pandemi Covid-19 membuat rasa kemanusiaan antar-sesama kembali muncul.

Pernah begitu viralnya, orang tergerak membantu sesama yang membutuhkan. Di Jawa Timur misalnya, pasangan suami isteri Ferry Angga Asmoro dan Pratisia Kurniawati bersedekah dengan cara mereka sendiri, yaitu membagi nasi bungkus yang berisi uang jutaan rupiah saat sahur kepada orang-orang yang mereka temui di jalanan. Ada pengemis, tukang sampah, hingga marbot.

Sementara di Jogja, seorang mualaf bernama Steven Indra Wibowo rela menjual hampir seluruh aset yang dimilikinya berupa rumah dan kendaraan. Bukan lagi jutaan, tapi miliaran rupiah dia sedekahkan berupa APD bagi tenaga kesehatan serta ribuan sembako dan makanan yang dibagikan kepada warga terdampak Covid-19.

Kedua contoh itu hanyalah potret sebagian kecil masyarakat yang memiliki rasa kemanusiaan dan peduli kepada sesama, akibat pandemi Covid-19. Masih banyak contoh lain berupa gerakan sosial masyarakat yang bertujuan membantu sesama masyarakat.

Misalnya, Gerakan Ngluwihi Mbagei, atau pihak yang berlebih memberi kepada yang berkekurangan. Di beberapa kampung Kota Yogyakarta, warga bergotong royong memberikan apa yang mereka punyai kepada warga lain yang membutuhkan, terutama makanan, sayuran, dan sembako.

Ada pula gerakan Cantelan Sayur Cokrodiningratan. Ragam bahan sayuran dan sembako ‘dicantelkan’ lalu dapat diambil dan dimanfaatan oleh warga dengan gratis.

Sementara di RT 55 Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, masyarakat di tingkat Rukun Tetangga (RT) mampu mengumpulkan dana hingga jutaan rupiah sekadar meringankan beban warga lingkungan RT tersebut yang terdampak pandemi Covid-19.

Bisnis Sosial

Dengan membuat Mini Mart 55, warga RT 55 Karangwaru bergotong royong meringankan beban masyarakat sekitar yang terkena imbas pandemi. Ada yang mengalami penurunan gaji, hingga kehilangan pekerjaan.

Mini Mart 55 merupakan salah satu cabang usaha dari Koperasi Gelar Gulung yang digagas pengurus kampung menghadapi pandemi. Berbasis pemberdayaan masyarakat dan bermodal sosial bernama kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, dan kebersamaan, terwujudlah Koperasi Gelar Gulung.

Apa yang dilakukan RT 55 Karangwaru dengan membentuk koperasi Gelar Gulung sedikit banyak telah menerapkan konsep bisnis sosial.

Muhammad Yunus (2010) dalam bukunya berjudul Bisnis Sosial, Sistem Kapitalisme Baru yang Memihak Kaum Miskin menjelaskan dua jenis bisnis sosial. Pertama, perusahaan berorientasi keuntungan yang dimiliki oleh kaum papa untuk memenuhi misi sosialnya, yaitu meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Kedua, bisnis yang memenuhi kriteria berikut: tidak ada keuntungan yang dibagikan kepada investor dan pemilik perusahaan; mandiri secara keuangan; bertanggung jawab secara ekologi; bisnis tersebut harus didedikasikan untuk kepentingan sosial; bisnis tersebut memberikan gaji kepada karyawan lebih baik daripada gaji rata-rata; dan bisnis tersebut harus dijalankan dengan ikhlas.

Dengan konsep komunitas dan berdasarkan rasa gotong royong, serta bergandengan tangan bersama-sama, menjadi modal sosial Koperasi Gelar Gulung menerapkan bisnis sosial. Kepedulian, kemandirian, kedisiplinan, kebersamaan, dan keikhlasan menjadi kata kunci bisnis sosial dapat berjalan dalam waktu yang lama dan kontinu.

Add Comment