Gandeng Gendong di Tengah Pandemi

Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi meninjau aksi cantelan. KELURAHAN COKRODININGRATAN

Jumat 12 Juni 2020 menjadi saksi betapa tingginya solidaritas warga Yogyakarta khususnya di Cokrodiningratan. Situasi sulit efek Covid-19 tidak menjadi alasan warga untuk tidak lagi bergotong royong, mengungkit solidaritas membantu sesama.

Melalui aksi “cantelan” warga berusaha sebaik mungkin memberikan bantuan kepada warga kurang mampu. Bantuan berbentuk paket sayuran dan lauk pauk tersebut disajikan secara unik dengan mencantelkan di pagar-pagar rumah, warga yang membutuhkan bisa mengambil secukupnya secara gratis.

Cantelan sudah disiapkan sejak pagi hingga menjelang siang, dengan begitu harapannya bisa mencukupi kebutuhan warga terlebih dalam situasi sulit seperti sekarang, bisa menekan pengeluaran karena belanja harian sudah tertopang dengan aksi tersebut.

Paket sayuran dan lauk yang disediakan bisa beragam sesuai dengan kemampuan para donatur, namun biasanya sayuran merupakan hasil panen dari beberapa kelompok tani yang ada di Cokrodiningratan.

Cantelan pada prinsipnya merupakan cara warga mengaktualisasikan program Gandeng-Gendong yang sudah digencarkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta dalam beberapa tahun ini. Dan terbukti, pada saat pandemi Gandeng Gendong menjadi modal sosial yang sangat berharga.

Prinsip gotong royong yang ada dalam Gandeng Gendong inilah yang menjadi modal sosial terlebih di tengah pandemi. Tanpa kebersamaan dan saling membantu mustahil suatu masyarakat mampu menghadapi situasi seperti sekarang ini.

Menurut Samani dan Haryanto (2011), gotong royong adalah tindakan dan sikap mau bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dan keuntungan bersama.

Tujuan dan keuntungan yang di maksud merupakan tujuan keuntungan untuk masyarakat atau sosial. Selain itu, dalam kehidupan bermasyarakat setiap orang harus saling menghormati, mengasihi, dan peduli terhadap berbagai macam keadaan disekitarnya. Kepedulian tersebut dapat tercermin dalam berbagai macam sikap salah satunya membantu apabila ada tetangga yang mengalami kesusahan.

Kropotkin (2006) mengungkap, sosialitas dan kebutuhan gotong royong dan saling dukung merupakan bagian yang sangat melekat pada sifat manusia. Akibatnya, dalam masa kapan pun dalam sejarah, tak pernah kita lihat manusia tinggal dalam keluarga kecil terasing, saling kelahi demi tetap hidup.

Tidak hanya sebagai embrio saja, dewasa ini kekuatan gotong royong telah dibuktikan warga di Kota Yogyakarta. Sebelum pandemic Covid-19, praktik baik solidaritas antar warga  diperlihatkan warga saat terjadi bencana gempa bumi pada ahu 2006 dan bencana letusan hebat gunung merapi.

Terkait solidaritas tersebut ada pemaknaan yang sangat relevan dengan kondisi saat ini, Durkheim yang di kutip oleh Robbert M.Z Lawang (1985:63) mengartikan solidaritas sosial sebagai berikut : Solidaritas sosial adalah keadaan saling percaya antar anggota kelompok atau komunitas. Jika orang saling percaya mereka akan menjadi satu atau menjadi sahabat, menjadi saling menghormati, menjadi saling bertanggung jawab untuk saling membantu dalam memenuhi kebutuhan antar sesama.

Gandeng Gendong

Program Gandeng Gendong milik Pemerintah Kota Yogyakarta telah di launching pada tanggal 10 April 2018. Tujuan utama dari program Gandeng Gendong adalah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling bergotong-royong membantu warga lain yang masih mengalami kesulitan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama warga miskin agar lebih sejahtera.

Gandeng Gendong adalah gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen pembangunan dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat khususnya percepatan penanggulangan kemiskinan dengan lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat dengan melihat potensi yang ada dengan pengembangan kebersamaan dan kepedulian semua stakeholder sesuai kapasitasnya.

Gandeng Gendong melibatkan berbagai unsur dan kelompok yang dikenal dengan 5 (lima) K yaitu: Kota (pemerintah), Kampung, Komunitas, Korporasi dan Kampus.

Melalui konsep gandeng gendong tersebut, masyarakat yang masih belum sejahtera akan diajak atau diangkat bersama-sama untuk bisa maju demi mencapai kesejahteraan

Kata “gandeng” bermakna bahwa semua elemen masyarakat saling bergandengan tangan dengan niat saling membantu agar semua pihak dapat maju bersama. Kekuatan akan muncul jika semua unsur masyarakat dalam kebersamaan.

Sedangkan “gendong” memiliki makna bahwa masyarakat membantu warga lain yang tidak mampu berjalan. Yang lemah digendong. Yang terpinggirkan ditarik ke tengah agar bisa berjalan bersama.

Add Comment