Gelar Gulung RT 55 Karangwaru, Sebuah Kekuatan Modal Sosial

Relawan Hijau RT 55 Karangwaru diapresiasi Wawali Heroe Poerwadi. HANANG WIDIANDHIKA

Ciri khas rakyat Indonesia sejak zaman dahulu yang terus ada dan tertanam dalam jiwa adalah gotong royong. Sifat ini pula yang membuat masyarakat Nusantara mampu menghadapi wabah pandemi Covid-19 yang melanda belahan dunia akhir-akhir ini. Masyarakat yang memberdayakan diri mereka sendiri mampu memunculkan kembali gerakan gotong royong.

Salah satu yang menonjol, dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, khususnya warga RT 55 RW 02. Warga membuat Gerakan Gelar Gulung (Gerakan Lumantar Guyub Lung Tinulung). Secara harafiah, arti kata tersebut adalah gerakan melalui kebersamaan untuk saling tolong-menolong. Sebuah gerakan sosial masyarakat yang sangat relevan dimunculkan di tengah pandemi Covid-19.

Sekretaris Gelar Gulung RT 55, Gatot Supriyadi, bertutur kepada saya, gerakan Gelar Gulung muncul karena dampak pandemi Covid 19 yang dirasakan oleh warga masyarakat, khususnya RT 55. Ada kurang lebih 30-an warga yang mengalami dampak ekonomi akibat pandemi, mulai dari penurunan gaji hingga kehilangan pekerjaan.

Hal itu pula yang menggerakkan Pengurus RT 55 untuk berbuat sesuatu, minimal pada lingkup warganya untuk sedikit membantu warga terdampak. Baik jangka pendek, menengah, dan kalau bisa, jangka panjang.

Langkah awal yang dilakukan pengurus, yakni melakukan pendataan warga yang diketahui berjumlah 89 KK dengan 262 jiwa. Di antara jumlah jiwa tersebut, diketahui ada 31 jiwa yang terdampak secara ekonomi akibat pandemi.

Dengan bergotong royong menggalang donasi oleh warga RT 55, terkumpul sejumlah uang yang cukup fantastis, sekitar Rp85 juta rupiah yang diwujudkan dengan membuat Mini Market 55 berisi sembako berharga murah, khusus bagi warga terdampak. Sementara bangunan mini market itu sendiri berasal dari donasi warga yang memiliki bangunan dan tidak terpakai.

Selain itu, ada pula ATM Berteman (Anjungan Tetulung Mandiri Beras Telur dan Makanan), diperuntukkan gratis bagi warga terdampak yang tidak mampu membeli sembako. Warga terdampak dapat mengambil sembako di ATM Berteman kapan pun membutuhkan.

Selain itu, RT 55 mengembangkan Agromart 55 dan Kafetaria 55. Tujuannya, menjaga ketahanan pangan dengan berkebun, juga menumbuhkan kemandirian ekonomi masyarakat dengan menjual makanan rumahan kepada warga.

Menilik dari proses gerakan Gelar Gulung yang dilakukan warga RT 55 Kelurahan Karangwaru tersebut bahwa masih ada rasa kebersamaan dan sikap kepedulian masyarakat yang membuat tingkat keberhasilan gerakan itu tinggi.

Tanpa adanya sikap kepedulian, kebersamaan, gotong royong, dan disiplin masyarakat, rasanya akan sulit menggerakkan masyarakat untuk berbuat bagi sesama di tengah pandemi, minimal kepada tetangga terdekat di lingkungan paling kecil. Pada prinsipnya, kita tidak boleh menyerah dan harus terus berikhtiar untuk melanjutkan hidup.

Modal Sosial

Ada buku menarik tulisan R. Rijanta, D.R. Hizbaron, dan M. Baiquni, berjudul Modal Sosial dalam Manajemen Bencana (2018). Menurut para penulis buku tersebut, modal sosial adalah salah satu faktor yang selama ini hilang dalam penanggulangan bencana, namun pada dasarnya terbukti memiliki efek yang sangat besar jika didayagunakan dengan baik.

Studi tentang modal sosial telah dilakukan sejak gagasan modal finansial telah terkenal di pertengahan tahun 1980-an. Gagasan tentang modal sosial yang sebelumnya dipelajari dan dibahas dengan linkage yang kuat dengan modal keuangan. Sebagai business as usual, ide memanfaatkan modal sosial untuk mengembangkan ekonomi sangat jarang dibahas.

Bourdieu (1986) mengidentifikasi modal sosial meliputi modal finansial, modal fisik, modal sumber daya manusia, modal sumber daya alam, dan modal sosial dengan penekanan utama pada modal fisik dan finansial.

Modal sosial RT 55 Karangwaru sungguhlah kuat, hingga saat pandemi Covid-19 datang pun, warga dengan sigap berbuat untuk sesama. Pendayagunaan modal sosial, bisa jadi akan mengantarkan warga kepada situasi ‘new normal’ yang sama sekali berbeda, tetapi mencukupi.

Kembali pada hamemayu hayuning bawana sebagai filosofi sekaligus konsep yang banyak menghiasi wawasan kosmologi kehidupan masyarakat Jawa. Dalam filosofi ini, terkandung kewajiban Tri Satya Brata. Kewajiban pertama, rahayuning bawana kapurba waskitaning manungsa. Artinya, kesejahteraan dunia tergantung manusia yang memiliki ketajaman rasa, yang menunjuk pada harmoni hubungan antar-manusia dengan alam.

Siapa yang kompak, merekalah yang bisa bertahan di masa pandemi.