Inklusif di Masa Pandemi Covid-19

Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, yang juga merupakan Ketua Pokja Menuju Kota Inklusif APEKSI, saat melakukan web seminar dengan Unesco. (Foto:Hanang Widiandhika)

Kotabaru-Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, dan sebagai pusat pariwisata, Kota Yogya telah mengembangkan kebijakan inklusif melalui pendekatan berbasis komunitas terhadap 5 kelompok di masyarakat rentan yakni perempuan, anak, lansia, penduduk miskin, dan penyandang disabilitas, dimana semua program harus selalu melibatkan kelompok inklusif tersebut.

“Kebijakan ini memberikan akses agar mereka lebih mudah untuk mengakses berbagai sektor seperti pendidikan, layanan kesehatan, ruang kerja, area bisnis, dan semua akses agar mereka dapat meningkatkan kualitas kehidupan mereka.”ungkap Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, yang juga merupakan Ketua Pokja Menuju Kota Inklusif APEKSI, saat melakukan web seminar dengan Unesco.

Selama pandemi yang sulit ini, lanjutnya, inklusif juga mendapatkan prioritas khusus mengingat pandemi ini membuat seluruh dunia mengalami masa-masa sulit dalam semua aspek seperti aspek kesehatan, sosial dan bahkan aspek ekonomi.

“Pemkot Yogya telah menyalurkan bantuan sosial tunai untuk tiap kepala keluarga dari bulan April hingga Juni, terutama untuk kelompok inklusif ini adalah prioritas kami. Selain itu berbagai bantuan datang dari organisasi non-pemerintah, Universitas, bahkan dari tetangga mereka sendiri” jelasnya

Dalam upaya memperluas akses pendidikan bagi anak usia sekolah, termasuk anak berkebutuhan khusus, Pemerintah Kota (Pemkot) Yogya akan terus menambah sekolah inklusi.

Ia mengatakan ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam menjadikan sekolah sebagai sekolah inklusi, mulai dari kualifikasi guru yang nantinya bertindak sebagai guru pendamping bagi siswa berkebutuhan khusus sampai kelengkapan sarana dan prasarana di sekolah.

“Pemkot Yogya melalui Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta terus menyelenggarakan pelatihan bagi guru untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam mendidik anak berkebutuhan khusus” jelas Wawali.

Nantinya, lanjutnya, semua guru di Kota Yogyakarta memiliki kompetensi dalam mendidik anak berkebutuhan khusus.

Ia menambahkan, bangunan sekolah di Kota Yogyakarta juga terus diupayakan ramah terhadap anak berkebutuhan khusus. “Renovasi bangunan yang dilakukan di beberapa sekolah juga sudah diarahkan agar bangunan ramah disabilitas,” katanya.

Sementara untuk sektor di wilayah pembentukan kecamatan inklusi di Kota Yogyakarta sudah dimulai secara bertahap sejak 2017 dan pada tahun 2021 seluruh kecamatan di Kota Yogya menjadi kecamatan inklusi.

Pembentukan kecamatan inklusi tersebut ditujukan untuk mendukung upaya Pemkot Yogya mewujudkan Yogyakarta sebagai kota ramah disabilitas dan kota inklusi.

“Setiap kecamatan inklusi harus membentuk Forum Kecamatan Inklusi (FKI) yang didalamnya melibatkan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK), perwakilan penyandang disabilitas dan kelompok masyarakat lain.”jelasnya

Keberadaan forum tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat menyuarakan kebutuhan penyandang disabilitas, salah satunya melalui musrenbang tematik.

Penanganan Covid-19

Saat ditanya tetang langkah apa saja yang sudah ditempuh Kota Yogya dalam upaya penanggulangan covid-19. Wawali menjelaskan Pemkot Yogya telah mengatur protokol baru untuk menangani covid-19 seperti membatasi social distancing, physical distancing dan selalu menekankan PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat).

“Kami membuat protokol ini secara terus menerus dan bertahap, kami juga selalu mengajak masyarakat untuk menyelesaikan pandemi ini bersama dengan berbagai aturan, seperti selalu memakai masker, mencuci tangan, menyiapkan area mencuci tangan” jelasnya.

Tak sampai situ, Pemkot Yogya juga telah juga mewajibkan pengunjung untuk melakukan pemindaian barcode di ruang publik seperti di malioboro dan di cafe serta restoran. Hal tersebut bertujuan untuk mempermudah tracing jika sewaktu-waktu ditemukan kasus covid-19 di area tersebut.

“Seperti di area Malioboro di setiap pintu masuk kawasan Malioboro petugas Jogoboro telah berjaga-jaga agar pengunjung melakukan pemindaian barcode, serta petugas jogoboro juga mengukur suhu tubuh pengunjung dengan thermogun.” Ungkapnya.

Petugas siap berjaga selama 24 jam, selain wajib memindai barcode dan cek suhu tubuh pengunjung juga diwajibkan menggunakan masker saat memasuki area Malioboro.

“Kalau tidak pakai masker tidak boleh masuk area Malioboro, pengunjung akan diminta keluar dari area malioboro,” katanya.

Ia mengungkapkan dalam menghadapi pandemi ini, keterlibatan masyarakat Kota Yogya sangat penting, seperti penyemprotan desinfektan mandiri, membuat tempat cuci tangan, dan mengatur satu sistem gerbang (portal) di setiap kampung sehingga dapat melacak siapa yang masuk dan keluar dari daerah tersebut.

“Masyarakat Kota Yogya juga banyak yang menjadi relawan untuk membantu warga yang terdampak pandemi covid-19. Relawan tersebut seperti relawan hijau yang dalam aksinya menyediakan sayur-sayuran untuk warga”jelasnya.

Selain itu, lanjutnya ada relawan mengajar, relawan mengajar ini membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah saja, tetapi pendidikan juga menjadi tanggung jawab masyarakat.

“Relawan mengajar adalah bentuk respon masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 di sektor pendidikan” ungkapnya.

Dengan partisipasi dan kesadaran masyarakat Kota Yogyakarta yang tinggi selama pandemi covid 19 angka kasus positif covid 19 di Kota Yogyakarta sejak Maret hingga saat ini diangka 28 orang.

“Angka yang relatif kecil dibandingkan dengan daerah lain ini karena masyarakat yang disiplin dalam mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker, dan menjaga jarak antara satu dengan lainnya. Jika dibandingkan dengan daerah lain memang kita jauh kecil sekali, itu karena masyarakat Kota Yogya disiplin dalam menerapkan jaga jarak, mencuci tangan, dan menggunakan masker” tegasnya.