Jagoriko, Sebuah Gerakan Ekonomi Kerakyatan

Salah satu poster Jagoriko. FAUZAN MU’ARIFIN

Satu dekade lalu, atau per 1 Januari 2010, perdagangan bebas bertajuk ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) dimulai. ACFTA berlanjut dengan pemberlakuan pasar bebas Asia Tenggara, dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC), yang efektif diberlakukan per 1 Januari 2016.

Implikasinya, arus perdagangan barang dan jasa bahkan pasar tenaga kerja profesional menjadi terbuka secara lebih bebas. Indonesia sebagai salah satu bagian dari ACFTA dan AEC, harus mengantisipasinya dengan cepat dan tepat agar tidak menjadi penonton.

Pengaruh perdagangan bebas tidak saja berdampak kepada arus dan distribusi barang dan jasa, tetapi juga pada pola perilaku masyarakat dalam memperoleh barang dan jasa. Perubahan pola perilaku ini berpengaruh signifikan pada perkembangan Usaha Mikro Kecil (UMK) di Indonesia.

UMK yang memiliki daya saing lemah akan semakin tergeser, karena semakin banyaknya produk sejenis yang lebih murah. Sektor perdagangan berhadapan secara head to head antara yang besar dengan yang kecil. Mereka yang memiliki modal dan SDM terbatas memerlukan kreativitas yang cukup agar bisa bersaing.

Belakangan, mulai tampak indikasi menurunnya omset UMK karena kalah bersaing dengan produk-produk luar negeri, bahkan banyak yang menutup usahanya karena konsumen beralih kepada barang dan jasa produk luar negeri. Sebagian masyarakat berubah latah dan lebih menyukai produk-produk luar negeri dengan alasan bergaya mewah, demi gengsi, dan lain-lain.

Oleh karena itu, diperlukan terobosan untuk menguatkan UMK, antara lain sebuah strategi atau cara yang bisa mempengaruhi konsumen dalam memilih barang dan jasa yang diperlukan agar lebih menguntungkan, tidak hanya kepada UMK, tetapi juga perekonomian kerakyatan secara nasional.

Apalagi penurunan angka kemiskinan di Kabupaten Bantul terhitung sangat lambat. Pada 2016, masih di angka 14,56 persen yang berarti masih di atas rata-rata DIY maupun rata-rata angka kemiskinan nasional.

Diperlukan akselerasi dalam strategi penanggulangan kemiskinan dengan berbagai cara. Salah satu strategi yang dilakukan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kabupaten Bantul adalah ‘mengupayakan nilai-nilai dan pranata sosial yang mengkayakan’.

Semasa menjabat sebagai Camat Sedayu, saya mencoba menggali strategi tersebut dengan melahirkan slogan ‘Jagoriko’, akronim dari Jajan Tonggo Nglarisi Konco. Secara substansi, slogan ini hampir sama dengan slogan Kulon Progo, yaitu Bela Beli Kulon Progo, atau pun gerakan ‘Belanja di Warung Tetangga’.

Slogan sengaja saya pilih menggunakan bahasa Jawa, semata-mata agar substansi pesan bisa lebih mengena, sehingga cepat tersosialisasikan ke segenap masyarakat. Dan pilihan dalam bahasa Jawa terbukti lebih cepat direspons oleh masyarakat.

Jagoriko mengedukasi masyarakat dalam membeli barang dan jasa dengan selalu memperhatikan siapa produsennya dan di mana membelinya. Jagoriko didesain untuk turut menyelamatkan ekonomi kerakyatan secara nasional.

Ekonomi kerakyatan merupakan sistem ekonomi yang mengikutsertakan seluruh lapisan masyarakat dalam proses pembangunan berdasarkan asas kekeluargaan. Tujuannya, menjamin kemakmuran rakyat yang senantiasa lebih diutamakan. Masyarakat pun bisa meningkatkan kesejahteraan secara bersama-sama.

Perubahan ‘Mindset’

Lebih jauh, Jagoriko sebenarnya tentang perubahan mindset masyarakat untuk lebih mencintai produk dalam negeri, baik barang maupun jasa. Hal ini secara redaksional dipersonifikasikan dalam kata ‘tonggo’ (tetangga) dan ‘konco’ (teman).

Melakukan transaksi jual beli dengan tonggo dan konco bukan semata-mata masalah tukar menukar barang atau jasa dengan uang. Tetapi ada nilai-nilai sosial di dalamnya, antara lain nilai-nilai kekeluargaan, kepercayaan, kejujuran, komitmen kebersamaan, dan lain sebagainya.

Ada beban moral terhadap kualitas pelayanan dan kualitas produk ketika konsumen adalah tetangga atau teman. Demikian juga ada kepercayaan dari konsumen kepada produsen, sehingga transaksi bisa lebih mudah dan cepat dilaksanakan.

Jagoriko bisa pula berarti penanaman nilai-nilai kesadaran dan kebanggaan pada produk dalam negeri, karena tidak kalah berkualitas dengan produk luar negeri. Dalam skala luas, Jagoriko dapat meningkatkan jiwa nasionalisme warga sebagai bangsa Indonesia.

Selanjutnya, Jagoriko merupakan penekanan terhadap komitmen ‘kaya bersama-sama’, bukan ‘mengkayakan yang sudah kaya’. Komitmen ini akan menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan, sehingga tumbuh jiwa tolong-menolong dan ikhlas berkorban bagi sesama warga.

Meski demikian, perlu ditekankan agar tidak terjadi salah persepsi, Jagoriko tidak berarti mendorong masyarakat untuk anti-produk dari luar negeri, karena bagaimanapun kita tidak bisa terlepas dari hal itu. Jagoriko berusaha membuat keseimbangan dan mendorong lahirnya kondisi yang lebih menguntungkan bagi masyarakat.

Pada kadarnya, produk luar negeri sebenarnya memberikan keuntungan, seperti terjadinya transfer knowledge atau teknologi yang memicu motivasi dan kreatifitas masyarakat untuk membuat produk lebih unggul, sebagai alat pemenuhan kebutuhan yang memang tidak bisa diproduksi di dalam negeri.

Internalisasi Jagoriko

Slogan Jagoriko tentu saja tidak sekadar disosialisasikan, tapi harus diinternalisasikan ke semua warga masyarakat agar dapat dilaksanakan, sehingga trend keterpurukan UMK dapat berubah menjadi kebangkitan UMK.

Pertama, diperlukan dokumentasi Jagoriko dalam bentuk logo dan branding agar bisa dipakai sebagai referensi dan acuan stakeholders. Kedua, sosialisasi Jagoriko melalui media sosial, media cetak, dan media elektronik. Ketiga, sosialisasi melalui media langsung, seperti pembuatan stiker, topi, kaos, dan banner.

Keempat, sosialisasi melalui media audiensi secara langsung kepada masyarakat dalam acara-acara kemasyarakatan, baik secara khusus maupun acara kemasyarakatan lainnya. Kelima, pemberian contoh oleh tokoh-tokoh masyarakat saat kegiatan transaksi pembelian barang atau jasa kepada masyarakat.

Sosialisasi dan internalisasi Jagoriko perlu dilaksanakan secara massal dan terus-menerus agar bisa mengubah pola perilaku masyarakat dalam membeli barang dan jasa untuk mencukupi kebutuhan sehari hari.

Saya berharap, Jagoriko dapat berimplikasi pada semakin berkembangnya UMK di masyarakat, sehingga mampu menjadi lokomotif peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga berarti penguatan ekonomi kerakyatan secara nasional.

Selanjutnya, terjadi peningkatan kualitas dan kuantitas produksi barang dan jasa oleh masyarakat, sehingga mempunyai daya saing yang makin kuat. Jiwa gotong royong, kekeluargaan, dan kebersamaan di antara warga masyarakat pun semakin kuat. Dalam skala nasional mampu menumbuhkan jiwa nasionalisme yang semakin kokoh.

Terakhir, Jagoriko semoga dapat mendorong tercapainya target penurunan angka kemiskinan yang telah ditetapkan, yaitu 2 persen per tahun.