Kecamatan Wisata, Sebuah Ide Terobosan

Wanadesa dan Telaga Desa Potorono. KECAMATAN BANGUNTAPAN

Publik mafhum akan pengertian desa wisata. Tapi bagaimana dengan kecamatan wisata? Mungkinkah kecamatan wisata dapat diwujudkan?

Desa wisata dapat dimaknai sebagai suatu wilayah perdesaan yang dapat dimanfaatkan berdasarkan kemampuan unsur-unsur yang memiliki atribut produk wisata secara terpadu.

Desa tersebut menawarkan secara keseluruhaan suasana yang memiliki tema dengan mencerminkan keaslian perdesaan, baik dari tatanan segi kehidupan sosial budaya dan ekonomi serta adat istiadat keseharian yang mempunyai ciri khas arsitektur dan tata ruang desa menjadi suatu rangkaian aktivitas pariwisata.

Ada juga yang berpendapat, desa wisata adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tatacara dan tradisi yang berlaku.

Sementara Kecamatan Wisata merupakan sebuah upaya untuk mengoptimalkan potensi wisata yang ada serta meningkatkan pemasaran semua potensi wisata tersebut melalui sebuah jejaring wisata, sehingga tercipta sebuah keterkaitan komprehensip di semua destinasi wisata, baik kuliner, wisata alam, budaya, sejarah, kerajinan, dan sebagainya.

Lebih teknis, pengembangan kecamatan wisata dapat dilakukan melalui hal-hal berikut. Pertama, membentuk jejaring semua stakeholder kepariwisataan, antara lain Pemerintah Desa sampai tingkat RT, Pokdarwis, pengelola homestay, pengelola destinasi wisata, dan akademisi.

Kedua, mendorong berkembangnya potensi yang sudah ada agar lebih maju. Ketiga, menggali potensi-potensi yang belum berkembang.

Keempat, memanfaatkan teknologi informasi dan multimedia untuk mendorong akselerasi perkembangan destinasi wisata. Kelima, meningkatkan kapasitas stakeholder melalui pelatihan-pelatihan yang ada.

Untuk itu, diharapkan semua stakeholders bisa mendukung, sehingga terjadi akselerasi yang signifikan terhadap perkembangan kecamatan wisata. Selanjutnya, dapat meningkatkan pendapatan masyarakat menuju kesejahteraan yang lebih baik.

Selain aspek ekonomi, berupa peningkatan kesejahteraan, kecamatan wisata mempunyai tujuan lain. Pertama, pada aspek pendidikan dapat memperluas wawasan dan cara berpikir warga-masyarakat yang kreatif serta mendidik cara hidup bersih, rapi, dan sehat.

Kedua, pada aspek ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dapat meningkatkan ilmu dan teknologi, antara lain seni, budaya, teknologi informasi, terutama bidang kepariwisataan.

Ketiga, pada aspek sosial-budaya, dapat menggali dan mengembangkan kesenian serta kebudayaan asli daerah yang hampir punah untuk dilestarikan kembali.

Keempat, pada aspek lingkungan dapat menggugah sadar lingkungan, yaitu menyadarkan masyarakat akan arti pentingnya memelihara dan melestarikan lingkungan bagi kehidupan manusia kini dan di masa datang.

Kecamatan Wisata Sedayu

Konsep kecamatan wisata pernah saya terapkan di Kecamatan Sedayu dengan nama ‘Sedayu Tourism District’. Luas wilayah Kecamatan Sedayu 34,36 km2. Jumlah penduduknya 46.523 jiwa dengan perincian laki-laki sebanyak 22.940 jiwa dan perempuan sebanyak 23.583 jiwa.

Kecamatan Sedayu terdiri dari 4 Desa, meliputi 54 dusun dan 341 RT. Seluas 40 persen wilayah merupakan pegunungan berbatu dan sebagian besar berupa batu karst.

Berbatasan langsung dengan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Kulonprogo, Kecamatan Sedayu dilewati tiga sungai vital, yaitu Sungai Progo, Sungai Kontheng, dan Sungai Kalakan. Adanya aliran sungai sebagai potensi alam merupakan potensi yang sangat menjanjikan untuk pengembangan wisata, di samping potensi lainnya. Lebih-lebih dengan dibangunnya New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo.

Aksesibilitas di Kecamatan Sedayu terhitung baik dan mudah, sehingga dapat dikunjungi wisatawan menggunakan berbagai jenis alat transportasi. Kecamatan Sedayu dilewati oleh Jalan Nasional dan Jalan Provinsi, yaitu Jogja Outter Ring Road (JORR).

Posisi Kecamatan Sedayu terbilang strategis, karena berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo dan Sleman. Selain itu, memiliki obyek-obyek menarik berupa alam, seni budaya, sejarah atau legenda, kuliner, dan kerajinan, untuk dikembangkan sebagai obyek wisata.

Wisata sejarah atau budaya yang dimiliki Kecamatan Sedayu, misalnya Museum Soeharto dan bangunan peninggalan Belanda. Ada pula wisata alam, seperti Karst Tubing Surobayan, Kars Tubing Sobo Ndeso, Sunan Kali Kontheng, Polaman Rivers Tubing, Tempuran Sungapan, Kebun Buah Langka, Agro wisata Argorejo, dan Batu tumpuk Brongkol.

Wisata kerajinan yang menarik, seperti kerajinan sangkar burung di Argosari, Tas rajut di selogedong, serta Sentra jamu di Plawonan, Watu, Sengon karang, dan Dingkikan

Sementara wisata kuliner Kecamatan Sedayu meliputi sentra emping Garut di Argodadi, warung ingkung, Candimas, serta warung mie lethek atau mie des. Tak lupa, wisata seni dan budaya berupa kelompok seni dan mural tiga dimensi.

Masyarakat Kecamatan Sedayu dan seluruh komponen di dalamnya mau menerima dan berpartisipasi memberikan dukungan yang tinggi terhadap pengembangan potensi wisata yang ada. Di sana, keamanan sangat kondusif, juga tersedia akomodasi, telekomunikasi, dan tenaga kerja yang memadai.

Tidak ketinggalan, Kecamatan Sedayu berhubungan dengan obyek wisata lain yang sudah dikenal oleh masyarakat luas.

Semua ini memang membutuhkan proses dan dukungan dari semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Meski begitu, bukan berarti tidak mungkin.

Add Comment