Kemandirian Desa Panggungharjo Hadapi Pandemi dengan Kearifan Lokal Setempat

Pemerintah Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta sejak dini mengantisipasi dampak penyebaran covid-19 di wilayahnya. Salah satunya memperkenalkan pranata sosial baru kepada warganya.

Pandemi covid-19 ini telah terdampak pada segala aspek kehidupan masyarakat. Warga Desa Panggungharjo memilih untuk tidak menyerah. Pemerintah desa mengajak warga untuk beradaptasi dengan situasi dengan melakukan pendekatan kreatif. Kombinasi antara kapasitas politik dan birokrasi di tingkat pemerintah desa dan kapasitas sosial memunculkan pendekatan humanis dalam menyikapi pandemi.

Pemerintah desa telah mengantisipasi dampak penyebaran covid-19 sejak 16 Maret 2020 atau sekitar 2 minggu setelah kasus positif pertama diumumkan Presiden Joko Widodo.  Saya dan aparat desa segera membentuk satuan gugus tugas, dengan nama Panggung Tanggap Covid.

Melalui gugus tugas tersebut, ada dua langkah yang diterapkan, yakni lapor dan dukung. Lapor dimaksudkan untuk mengidentifikasi dampak yang dihadapi warga desa.

Sejumlah 6.827 warga Desa Panggungharjo melaporkan diri ke pusat pendataan Panggung Tanggap Covid-19 (PTC-19). Hasilnya, 4.650 warga desa menyatakan sehat, 700 orang sehat dengan gejala non indikatif, 52 orang pelaku perjalanan, 3 orang punya riwayat perjalanan dan atau memiliki riwayat kontak dengan positif covid-19.

Selanjutnya, 17 orang mempunyai riwayat perjalanan dan atau memiliki riwayat kontak dengan positif covid-19 disertai dengan gejala indikatif non indikatif, dan 35 orang mempunyai riwayat perjalanan dan atau memiliki riwayat kontak dengan positif covid-19 disertai dengan gejala indikatif nonindikatif dan disertai dengan penyakit penyerta.

Sebagai tindak lanjut, perawat desa dari lembaga Desa Panggungharjo yakni Bapel JPS dan dibantu dengan Puskesmas Sewon II melakukan asistensi dan monitoring harian dengan melakukan kunjungan langsung kepada warga desa yang menyatakan ODP, yang beberapa di antaranya adalah pemudik yang baru saja pulang dari ibu kota.

Kunjungan langsung ini dilakukan setelah yang bersangkutan merasakan gejala baik indikatif maupun non indikatif. Di samping untuk melakukan monitoring langsung, monitoring dan asistensi langsung ini dilakukan untuk menghilangkan stigmatisasi kepada ODP, sekaligus untuk memberikan dukungan secara psikologis supaya bersedia untuk melakukan karantina mandiri dan agar yang bersangkutan berkenan melakukan monitoring kesehatan harian melalui https:// panggungharjo.desa.id/Covid secara rutin, agar pemerintah desa dan lembaga terkait bisa melakukan asistensi harian.

Dalam mengelola dan menghadapi tantangan wabah ini tentu langkah strategis yang harus dilakukan adalah membangun sistem. Keteladanan menjadi dasarnya. Dan sistem tidak sebatas aturan, ada atmosfer kerja yang harus dibangun.

Dalam ruang itulah Panggung Tanggap covid-19 dilakukan dengan manajemen dan logical framework sebagai dasar kerja menghadapi situasi sekarang. Sistem lapor dan dukung menjadi dua langkah yang sinergis perlu dilakukan untuk menangani dampak klinis maupun nonklinis (sosial, ekonomi, keamanan).

Sebab inilah saatnya bagi kita semua untuk bersama- sama bergotong royong menyelamatkan warga desa. Kemanusiaan kita diuji, dan pemimpin dituntut untuk mengambil komando utama. Holopis Kuntul Baris.

Seluruh upaya dan tindakan dilakukan untuk tetap mengamankan warga desa dari covid-19. Langkah-langkah mitigasi klinis maupun nonklinis (sosial, ekonomi, keamanan) disusun untuk memandu seluruh stakeholder desa bersama-sama melawan covid-19.

Karena itulah langkah-langkah ini perlu disistematisasi sebagai sebuah pengetahuan bersama untuk menghadapi pandemi virus yang sedang kita hadapi bersama. Desa akhirnya harus menerima kondisi ini dengan cara terus bergerak.

Sebagai lini terakhir yang mewakili Negara, pemerintah desa sudah selayaknya tanggap dan sigap memberi perlindungan seluruh warga desa, tanpa terkecuali. Tetapi semua yang demikian membutuhkan strategi dan model pengawasan yang ketat dan terukur.

Sebab kita tak tahu dari mana virus menular, bagaimana ia membunuh pelan-pelan. Yang diperlukan kemudian adalah ketanggapan menghadapi wabah. Pemerintah desa tak akan bisa mengatasi sendiri, kepatuhan dan kohesi warga desa menjadi penentu keberhasilan memutus mata rantai virus. Warga desa adalah ujung tombak semuanya.

Desa Adalah Tempat Pulang

Desa, sekali lagi adalah tempat pulang. Kekhawatiran, kecemasan, di perantauan akibat virus ataupun sirnanya penghidupan, mengharuskan saudara kembali pulang ke desa. Barangkali memang karena desa yang ia rindukan, yang menerima menjadi tempat aman dan perlindungan. Kami mencoba membagi pengalaman-pengalaman ini agar bisa digunakan oleh sebanyak mungkin desa-sebanyak mungkin kampung di Indonesia.

Pengalamanan Desa Panggungharjo telah kami tuangkan dalam buku berjudul “Panggung Tanggap Covid-19: Praktik Baik Desa Panggungharjo”.

Buku ini adalah bagian dari upaya kami berbagi praktik baik, berbagi pengalaman menstrukturkan kerja-kerja penanganan Wabah covid-19. Kami menamainya Panggung Tanggap Covid-19 (PTC-19).

Tentu saja sejauh ini semuanya adalah masa “pengujian” seberapa berhasil kami melakukan dan seberapa bisa kami mengurangi tingkat persebaran, dan memitigasi dampaknya. Fokus pada dampak klinis tentu saja harus diarahkan ke sana, tetapi memikirkan dan mengatasi dampak sosial ekonomi tidak boleh kita lupakan.

Warga harus hidup, dan desa harus menopangnya, bekerja bersama-sama warga. Karena itulah dalam modul ini, merangkum pengalaman-pengalaman kerja kolaborasi, koordinasi, dan kerjasama antara pemerintah desa, pedukuhan, RT, RW, kelompok dan komunitas masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama, kaum muda, tenaga medis, relawan, dan tentu saja warga desa. Juga para donatur yang memberi dukungan kepada warga desa untuk terus melanjutkan hidup.

Kami mengucapkan terima kasih. Selayaknya ibu, desa adalah Ibu Bumi tempat kembalinya para petarung kehidupan yang harus rela meninggalkan desa untuk bekerja di ibu kota dan karena keadaan mereka saat ini harus kembali pulang.

Kembalilah kepangkuan ibu bumi, selayaknya ibu. Desa akan menerima kehadiranmu kembali, apapun adanya dirimu saat ini. Selayaknya ibu, Desa adalah Ibu Bumi, tempat kembali dan berbagi.

Add Comment