Menuju ‘New Normal’ Andalkan Jagoriko

Pemerintah Kecamatan tengah melakukan edukasi belanja aman dan sehat di pasar saat pandemi Covid-19. KECAMATAN BANGUNTAPAN

Pandemi Covid-19 memasuki tahap baru, masa ‘new normal’. Seperti diketahui, wabah ini telah berdampak serius pada berbagai sektor. Tidak hanya pada sisi kesehatan, namun juga ekonomi dan psikologi. Masa ‘new normal’ bukan berarti kita telah terbebas dari virus mematikan itu, tapi hidup berdampingan dengannya, hingga vaksin ditemukan.

Beberapa bulan terakhir, untuk menghadapi dampak ekonomi dan psikologi yang mungkin terjadi selama pandemi, selain meneruskan informasi dari pemerintah pusat dan mensosialisasikan pola hidup sehat, mobilisasi ekonomi masyarakat sangatlah penting.

Salah satu dampak ekonomi yang patut diperhatikan adalah terhentinya usaha yang dijalankan dan hilangnya pemasukan untuk memenuhi kebutuhan harian. Saya mendorong beberapa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mengalami penurunan produksi maupun penjualan agar memanfaatkan teknologi, seperti membuat barcode produk, mendaftarkannya ke Google, dan masih banyak lagi.

Selama pandemi, Pemerintah Kecamatan Banguntapan memberikan surat edaran kepada dukuh dan RT untuk mengumpulkan sembako. Dukuh dan RT bekerja sama dengan tempat ibadah dan organisasi masyarakat agar dapat mengumpulkan sembako. Hasil donasi tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat yang terkena dampak ekonomi dari merebaknya Covid-19.

Ketua RT dan Kepala Dukuh diminta untuk mendata warga terdampak, terutama warga jompo dan difabel, untuk kemudian melakukan pengelolaan donasi, tanpa perlu melaporkannya ke kecamatan.

Karena kita tidak tahu, kapan Covid-19 akan berakhir, saya berpesan kepada masyarakat agar donasi tidak langsung dihabiskan. Pengelolaan donasi harus dilakukan dengan manajemen yang baik, sehingga dapat berlangsung lama hingga pandemi berakhir.

Hingga saat ini, Posko Lumbung Pangan dan Posko Tanggap Ekonomi yang dikelola oleh warga sudah beroperasi dengan baik.

Sementara dampak psikologi yang mungkin dialami warga dapat bersumber dari spanduk yang digunakan untuk melakukan karantina wilayah. Spanduk dinilai provokatif dan dapat menimbulkan kecemasan. Kalimat yang digunakan bernada horor dan model penulisannya pun mencekam. Saya kemudian memberikan edukasi kepada warga agar mengganti spanduk dengan kalimat yang lebih edukatif dengan memperhatikan estetika agar tidak menjadi sampah visual.

Saya mengimbau masyarakat untuk dapat mengakses informasi terkini melalui akun media sosial Kecamatan Banguntapan. Pelayanan di Kecamatan Banguntapan masih berjalan normal, akan tetapi penurunan kunjungan masyarakat terjadi hingga 60 persen.

Jagoriko

Memobilisasi perekonomian warga, saya mengenalkan semangat ‘Jagoriko’, akronim dari jajan tonggo nglarisi konco. Program tersebut merupakan edukasi sosial untuk masyarakat dalam membeli barang dan jasa dengan memperhatikan produsen serta tempat membelinya.

Membeli produk buatan masyarakat sama artinya menumbuhkan kebanggaan mereka, sehingga memicu semakin kreatif. Saya berharap bisa menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya mencintai produk sendiri, terutama produk lokal UMKM. Apalagi UMKM merupakan satu di antara penyokong kekuatan ekonomi bangsa.

Prinsipnya, Jagoriko dapat menjadi gerakan arus bawah dalam membangun nasionalisme bidang ekonomi, bahkan hingga ke tingkat nasional. Potensi ekonomi berbasis masyarakat sangatlah cukup besar. Program Jagoriko dapat mendorong masyarakat untuk mulai berinovasi atas produk yang mereka hasilkan.

Dalam situasi pandemi, kemajuan teknologi informasi sangat dibutuhkan. Pola transaksi secara online dapat dilakukan. Saya mendorong warga yang punya produk supaya dimasukkan online dan membiasakan cash on delivery (COD) yang lebih baik dan aman.

Tahap ‘new normal’ akan lebih fokus pada pemulihan ekonomi yang lumpuh akibat pandemi Covid-19. Sektor ini dinilai menjadi paling penting dipulihkan karena ada berbagai usaha yang terdampak. Dampak perekonomian dapat berakibat fatal bagi warga, apabila tanpa dibarengi dengan kedisiplinan dan kewaspadaan kesehatan. Jangan sampai sudah susah mencari penghasilan, terkena sakit pula.

Masa ‘new normal’ tidak boleh pula disalahgunakan sebagai kesempatan membebaskan diri setelah sekian lama bertahan untuk tetap di rumah. Tidak diperbolehkan berlaku euforia dengan berkumpul tanpa mematuhi protokol kesehatan.

Sekali lagi, ‘new normal’ dimaksudkan untuk memulihkan roda perekonomian meski dengan cara-cara baru.