‘New Normal’, Ekonomi Kreatif Perlu Sentuhan Wirausahawan Lokal

Pameran Seni Rupa Nandur Srawung 2019 di Taman Budaya Yogyakarta. TBY

Termasuk sektor yang sangat terpukul karena pandemi, pariwisata dan ekonomi kreatif potensial bergeliat kembali, menuju masa new normal. Berharap optimalisasi potensi, dua sektor ini membutuhkan kontribusi wirausahawan lokal.

Ekonomi daerah berbasis industri kreatif bahkan diyakini Presiden Joko Widodo dapat menghasilkan lompatan kemajuan bagi perekonomian daerah di masa mendatang. Faktual, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang memiliki potensi dan sumberdaya untuk tumbuh dan berkembangnya industri kreatif, yang secara lebih luas disebut ekonomi kreatif.

Secara nasional, nilai tambah ekonomi kreatif terus tumbuh di atas 10% per tahun. Tercatat pada tahun 2010, nilai Pendapatan Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif sebesar Rp525,96 triliun. Angka tersebut meningkat menjadi Rp852,24 triliun pada akhir 2015 dengan total tenaga kerja terserap sebanyak 15,9 juta orang (BPS, 2017).

Pada 2019, Pemerintah DIY mengantongi data, lebih dari 172 ribu pelaku ekonomi kreatif di DIY. Sejumlah 5 subsektor terbesarnya bergerak di usaha kuliner, kriya, fesyen, penerbitan, dan fotografi. Subsektor kuliner sekitar 106 ribu usaha, kriya 36 ribu usaha, fashion 23 ribu usaha, penerbitan 3 ribu usaha, dan fotografi sekitar 1000 usaha, ditambah banyaknya industri kreatif digital.

Lebih dari 524 ribu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang ada di DIY mendominasi 98,4% pertumbuhan ekonomi. Fokus yang dikembangkan meliputi 3 subsektor ekonomi kreatif unggulan, seperti film, animasi dan video, serta kerajinan tangan unik, misalnya kriya bamboo, serta seni pertunjukan.

Pemerintah Indonesia telah memberikan perhatian khusus pada perkembangan dan kemajuan industri kreatif, dengan mendirikan dan mendeklarasikan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), yang diharapkan dapat memacu maupun memicu industri kreatif Indonesia. Selanjutnya, dapat bersaing dan memiliki keunggulan kompetitif di pasar internasional.

Khususnya pada bidang perekonomian, industri kreatif memberikan andil yang nyata dari tahun ke tahun. Hal tersebut terlihat dari peningkatan kontribusi industri kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Laporan dari riset yang dilakukan oleh Bekraf menyatakan bahwa persentase PDB yang dihasilkan dari industri kreatif senantiasa meningkat. Tercatat sebesar 6,9% pada tahun 2013 dan meningkat menjadi 7,05% pada tahun 2015, dengan nilai pendapatan sebesar Rp642 triliun.

Selain menyumbang PDB yang cukup signifikan, industri kreatif pada tahun 2015 tercatat sebagai sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, dengan kontribusi nasional mencapai 10,7% atau sekitar 11,8 juta orang.

Berdasarkan data dari Departemen Perdagangan, penyerapan tenaga kerja tersebut telah mengalami banyak peningkatan jika dibandingkan dengan rata-rata penyerapan tenaga kerja pada tahun 2002-2006 yang hanya sebesar 5,4 juta orang pekerja.

Industri Budaya Kreatif

Budaya, dalam hal ini budaya lokal dan industri kreatif Indonesia, merupakan dua ihwal yang dapat saling mendukung satu sama lainnya, karena produk dari industri kreatif dapat digunakan sebagai salah satu alat guna mengenalkan budaya. Sementara budaya dapat menjadi basis inspirasi pelaku industri kreatif dan dapat memperkuat branding dari produknya, sehingga memiliki diferensiasi bila dibandingkan dengan produk sejenis dari negara lain.

Banyaknya manfaat dan peran penting industri kreatif dalam menjaga budaya telah dikembangkan lebih dahulu oleh negara-negara maju. Keterkaitan yang sangat erat antara industri kreatif dan warisan budaya menjadikan penyebutan istilah, tidak lagi ‘ekonomi kreatif’ atau pun ‘industri kreatif’ melainkan ‘industri budaya kreatif’ atau cultural and creative industry.

Salah satu strategi pengembangan industri-budaya kreatif yang dikembangkan oleh European Commission, misalnya, adalah dengan membangun kesadaran terhadap nilai budaya itu sendiri. Peningkatan kesadaran nilai budaya inilah yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia, khususnya DIY, untuk menjaga kelestarian warisan budaya lokal yang telah ada, dengan memahami makna dari nilai suatu budaya, baik yang bersifat materi atau pun non-materi.

Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan strategi yang dituangkan pada instruksi Presiden nomor 6 tahun 2009 tentang pengembangan ekonomi kreatif bahwa untuk menjadi industri yang unggul di pasar dalam dan luar negeri dengan peran dominan wirausahawan lokal dibutuhkan kegiatan riset sosial-ekonomi, sejarah, budaya dan seni.