Pastikan KB Tetap Berjalan

Pelayanan KB kepada Akseptor. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Yogyakarta.

Selain merubah tatanan, Pandemi Covid-19 juga sekaligus menjadi tantangan bagi program Keluarga Berencana (KB). Untuk itu, KB harus tetap berjalan.

KB merupakan program strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang harus dijaga implementasinya secara bersama-sama sehingga berkesinambungan. Terlebih di tengah pandemi seperti sekarang ini.

Sulistyawati dalam bukunya Pelayanan Keluarga Berencana (2013) menjelaskan, KB bertujuan untuk membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

Untuk mendorong tujuan tersebut, Pemerintah telah melakukan banyak kebijakan dan terobosan baik di level Pemerintah Pusat maupu daerah. Tujuanya yakni untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Walau di tengah pandemi sekaligus, Pemerintah terus memutar cara demi keberlanjutan KB. Di Kota Yogyakarta misalnya, sejak wabah melanda Kota Pendidikan, program KB didorong secepat mungkin untuk beradaptasi dengan melakukan pelayanan jemput bola kepada para Akseptor atau peserta KB.

Inovasi sekaligus menjadi fasilitas bagi para peserta KB di tengah pandemi, program KB tetap bisa berjalan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan karena dilakukan dengan cara mendatangi langsung ke rumah para peserta KB.

Dengan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan, lewat Puskesmas , Penyuluh Lapangan KEluarga Berencana (PLKB) dapat mendistribusikan alat kontrasepsi kepada para peserta KB untuk menunjang program KB selama pandemi.

Alat kontrasepsi yang diberikan kepada para peserta KB yakni berupa pil KB dan Kondom ulang. Dengan pelayanan jemput bola itu harapannya tidak ada peserta putus KB di Kota Yogyakarta sehingga program KB tetap berjalan.

Sebelum masa pandemi Covid-19 para peserta KB harus datang sendiri ke fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Klinik Kesehaan atau Rumah Sakit. Namun sekarang melalui Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) masyarakat tidak perlu keluar rumah kerena akan didatangi langsung.

Namun layanan tersebut dibatasi untuk para peserta KB lama, sementara peserta KB baru tetap dianjurkan untuk melakukan konsultasi dan pemeriksaan kepada petugas kesehatan.

Terutama untuk jenis KB menggunakan pil karena hormonal maka harus konsultasi dengan tenaga kesehatan di Puskemas atau pelayanan kesehatan lain yang dituju, namun untuk yang kondom bisa langsung.

Bagi peserta KB suntik, implan maupun IUD yang sudah habis masa berlakunya dianjurkan untuk mendatangi fasilitas kesehatan terdekat dengan melakukan pendaftaran dan perjanjian terlebih dahulu sehingga tidak menunggu lama di fasilitas kesehatan untuk mengurangi potensi penularan virus corona.

Disisi lain proses penyuluhan KB juga tetap dilakukan baik secara daring melaui Media Sosial maupun dengan memanfatakan mobil unit penerangan yang diterjunkan langsung ke tengah warga.

Sosialisasi sekaligus penyuluhan ini sangat penting, sehingga meski pandemi harus tetap dijalankan. Di tengah warga, tidak hanya melakukan penyuluhan KB saja namun juga mengingatkan warga untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan untuk mencegah peneybebaran Covid-19.

Untuk memastikan program KB tetap berjalan di masa pandemi, Pemerintah dalam rangka Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke 27 Tahun 2020 dilaksanakan dengan Pelayanan KB Sejuta Akseptor secara serentak
Tema khusus Harganas ke-27 Tahun 2020 adalah “BKKBN Baru Dengan Cara Baru Dan Semangat Baru Hadir Di Dalam Keluargamu”.

Pada hari Senin tgl 29 juni 2020 diharapkan sumua layanan KB buka dan melayani secara serentak dari jam 08.00 – 15.00

Kualitas Pelayanan

Fasilitas pelayanan inilah yang harus tetap dijaga di tengah pandemi sekalipun, fasilitas KB yang prima tentu akan menjadi faktor penting keberhasilan program KB. Ada baiknya, pandemi menjadi peluang untuk berinovasi, tidak hanya tentang KB saja namun juga terkait hal apapun yang membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi masyarakat.

DeRose LF dalam jurnalnya Does discussion of family planning inmprove knowledge of partner’s attitude toward contraceptives (2010) menjeskan bahwa kualitas pelayananKB menjadi salah satu penentu keberhasilan.

Terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan karakteristik, demografi, sosial, ekonomi, dan kultural yang diperkirakan berpengaruh terhadap unmet need antara lain adalah umur, pendidikan, jumlah anak masih hidup, persetujuan suami terhadap KB, status penggunaan kontrasepsi, aktivititas ekonomi, indeks kesejahteraan hidup dan agama.

Ia juga menambahkan, persetujuan suami terhadap KB, akses terhadap media massa, kualitas pelayanan KB juga merupakan determinan unmet need.

Potter JE dalam The influence of health care on contraceptive acceptance in rural Mexico (2011) juga memberikan postulasi yang hampir sama bahwa kualitas pelayanan yang baik yang disediakan oleh tempat pelayanan kesehatan khususnya pelayanan KB berperan sangat penting untuk kelangsungan pemakaian alat kontrasepsi bagi akseptor dan calon akseptor sehingga tidak terjadi drop out dan discontinuation yang merupakan pendorong terjadinya unmet need.

Add Comment