Protokol Belanja Masa ‘New Normal’ untuk ‘Menormalkan’ Pasar Tradisional

Suasana Pasar Beringharjo sebelum masa pandemi Covid-19. HANANG WIDIANDHIKA

Tahapan menuju kehidupan ‘new normal’ terus diupayakan berbagai pihak, termasuk manajemen pasar tradisional. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Yogyakarta bahkan telah bersiap dengan protokol aktivitas berbelanja di pasar.

Satu di antara persiapan yang perlu dilakukan adalah menambah sarana dan prasarana di pasar-pasar. Misalnya, fasilitas wastafel di pasar. Dinas kembali menghitung kebutuhan wastafel di sejumlah pasar. Para petugas pasar, baik petugas kebersihan maupun keamanan, diwajibkan mengingatkan wajib pakai masker bagi pengunjung dan pedagang.

Arus masuk dan keluar pasar dibuat penyekat di antaranya atau dibuat berbeda jalur. Di Pasar Beringharjo, misalnya, penjual dan pembeli dibatasi tali rafia. Ada usulan dari pedagang untuk memasang tirai plastik. Bila anggarannya disetujui, tentu pemerintah akan mengoptimalkannya.

Prinsipnya, kapasitas pasar untuk aktivitas ‘new normal’ diperhitungkan agar physical distancing dapat berjalan baik. Luasan pasar, jumlah pedagang, dan kapasitas pengunjung dikontrol ketat.

Peran paguyuban pedagang juga menjadi poin keberhasilan penerapan ‘new normal’. Misalnya, dengan penyemprotan disinfektan mandiri oleh para pedagang. Selain itu, dalam men-display barang dagangan pun tidak overload sampai keluar batas keluasan masing-masing pedagang, karena dapat mengganggu akses pengunjung yang malah menimbulkan kesulitan dalam menjaga jarak.

Sebelumnya, sekitar sebulan belakangan, Disperindag Kota Yogyakarta juga menyediakan layanan belanja daring di enam pasar, yakni Pasar Demangan, Patangpuluhan, Sentul, Kranggan, Beringharjo, dan Kotagede. Apabila warga tidak puas berbelanja secara daring dapat datang ke pasar, akan tetapi wajib mengenakan masker serta mencuci tangan di berbagai tempat yang sudah disediakan.

Berbelanja di pasar dengan cara daring di masa pandemi Covid-19, seperti mengabaikan isu paling mengemuka di kalangan pedagang tradisional dahulu, saat maraknya pasar modern di Jogja. Ketika itu, kehadiran pasar modern dianggap ancaman bagi eksistensi pasar tradisional, karena fasilitasnya yang lebih menarik. Padahal, faktanya, baik pasar tradisional maupun modern justru berhadapan dengan online shop yang bisa membuat orang berbelanja, tanpa harus bertemu fisik.

Peran teknologi informasi menjadi bagian penting perjalanan pasar tradisional. Susah dipungkiri, zaman telah berubah dengan menumpukan transaksi pada perangkat komunikasi canggih. Di masa pandemi, pasar tradisional pun tak ubahnya seperti online shop.

Arti Penting Pasar Tradisional

Lebih dari 67.389 ribu pedagang tersebar di 333 pasar tradisional se-DIY. Jumlah pedagang pasar tradisional yang sangat besar tersebut sangat potensial mendongkrak kesejahteraan warga. Pasar tradisional memiliki positioning tersendiri. Tempat transaksi yang komplit, baik dagangan maupun suasana, serta penghuninya yang khas.

Lebih dalam, pembenahan pasar tradisional dengan tetap menjaga kebersihan, keamanan, kerapian, kejujuran, dan keramahan para pedagang sangat berpengaruh pada eksistensi pasar tradisional.

Bersyukur, Jogja sangat memedulikan pasar tradisional. Revitalisasi lantai dua dan tiga Pasar Beringharjo, misalnya. Dahulu, keadaan pasar belum tertata rapi. Selama 20 tahun, Pasar Beringharjo dikelola swasta dengan sistem Build Operate Transfer (BOT), kemudian diambil alih kembali oleh Pemkot Yogyakarta pada 2013, dan lahirlah UPT Pusat Bisnis Pasar Beringharjo yang mengelola area pasar seluas 6.613 m2 untuk pedagang, dengan 173 kios dan 73 konter.

UPT Pusat Bisnis Pasar Beringharjo lantas mengubah wajah pasar kondang di Jogja tersebut menjadi lebih kinclong. Dilakukanlah pengecatan; revitalisasi dinding, toilet, lantai; dan penataan ruang pelayanan.

Pasar tradisional bukan sekadar tempat transaksi antara penjual dan pembeli, tapi juga merupakan wahana edukasi, bahkan heritage, atau warisan budaya.

Maksud dari pasar tradisional sebagai wahana edukasi adalah menanamkan nilai-nilai sosial-ekonomi yang terjalin dalam interaksi dagang penjual dan pembeli di pasar tradisional kepada generasi penerus.

Pasar tradisional mewakili karakter masyarakat lokal. Terutama Beringharjo yang mulai kompleks secara etnis, pada umumnya pasar tradisional memiliki karakternya masing-masing. Penting bagi generasi penerus untuk memahami karakter ini supaya dapat mengembangkan perekonomian Jogja menjadi lebih baik lagi.

Sementara pasar tradisional sebagai warisan budaya (heritage), tampak pada upaya pemerintah menarik wisatawan untuk berbelanja di pasar tradisional. Komunikasi yang dibangun pemerintah dengan para pedagang dapat mengarah pada kerja bersama agar pasar tradisional semakin ramai dikunjungi wisatawan.

Sumbangsih pasar tradisional untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) sangat signifikan. Pendapatan pedagang dari aktivitas grosir juga besar nilainya. Tapi menjaga minat konsumen untuk tetap stabil, bahkan meningkat, dengan pelayanan yang terus diperbaiki, akan membuat pasar tradisional semakin dicintai warga Jogja. Pun saat masa pandemi Covid-19 menuju ‘new normal’.