Robin Cokrodiningratan, Kelola Taman di Masa Pandemi

Taman Robin Kali Code Kelurahan Cokrodiningratan (Foto: Kelurahan Cokrodiningratan)

Di tengah riak Pandemi Covid-19 kita dituntut untuk tetap produktif dan inovatif sehingga mampu keluar dari jerat wabah yang berasal dari Kota Wuhan itu.

Keterbatasan yang ditimbulkan akibat penyebaran Covid-19 justru akan melahirkan banyak kompilasi ide brilian yang lebih menghidupkan daripada berjibaku dalam sebuah polemik yang tidak berkesudahan.

Sebelum diterjang Covid-19, geliat masyarakat Cokrodiningratan mengolah potensi wisata terbilang sangat tinggi. Pun sejumlah terobosan kemudian terus bergulir mulai dari inovasi hingga gerakan sosial kemasyarakatan.

Tidak ingin berlarut-larut dalam kondisi sulit itu, saya mengajak masyarakat agar tetap produktif dengan menyiapkan segala bentuk rupa menggeliatkan wisata di Cokrodiningaratan, sehingga ketika pemerintah mulai membuka industri wisata, kami sudah siap.

Perjalanan saya bersama warga Cokrodiningratan sangat panjang selama menghadapi Covid-19 sejak beberapa bulan terakhir. Taman Robin atau Robot Irigasi Nyuburke menjadi salah satu bukti daya tahan warga sehingga mampu melahirkan sebuah karya inovatif di tengah keterbatasan dan kepanikan yang sempat mencuat di awal penyebaran Covid-19.

Robot Irigasi Nyuburke adalah sebuah inovasi yang berawal dari bagaimana menghidupkan kembali wisata dengan tetap menerapkan protokol kesehatan sehingga pada saat new normal nanti kemungkinan penyebaran Covid-19 tetap bisa dikendalikan.

Robot Irigasi digagas untuk menyirami tanaman yang berada di taman di sepanjang sungai code di wilayah Cokrodiningratan, dengan proses yang serba otomatis penyiraman tidak lagi dilakukan secara manual sehingga mengurangi potensi penyebaran Covid-19. Kontak fisik pun bisa berkurang signifikan dengan cara ini.

Penyiraman manual biasanya dilakukan sejumlaha warga dengan menggunakan alat atau semacam selang yang digunakan secara bergantian karena ada pembagian tugas diantara mereka. Kondisi itu tentu menambah risiko penularan.

Dengan Robin ini harapannya bisa mengurangi potensi penyebaran yang bisa saja terjadi melalui benda-benda yang sering dipegang secara bergantian. Selain memenuhi protokol kesehatan, inovasi ini tentu juga sebagai salah satu langkah menghadapi new normal nanti.

Selain lebih hemat tenaga Robin juga hemat listrik karena mesin yang digunakan berasal dari tenaga surya. Tidak hanya itu, Robin juga bisa dioperasikan melalui smartphone sehingga akan lebih memudahkan dalam mengontrol proses penyiraman.

Robin juga dibekali dengan aplikasi android, sehingga proses penyiraman bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dengan begitu, proses penyiraman juga bisa dijadwalkan sesuai dengan kebutuhan. Karena tentu volume air yang dibutuhkan tanaman berbeda dari musim kemarau ke musim hujan.

Selain dengan timer, proses penyiraman Robin juga bisa dilakukan dengan menggunakan sensor yang akan mendeteksi kondisi kelembaban tanah. Pada saat kondisi tanah kering maka dengan otomatis akan menyiram dengan sendirinya, dengan cara ini tentu akan menghemat air yang ada di penampungan.

Namun karena Robin ini juga nantinya akan digunakan sebagai wahana edukasi maka proses penyiraman juga bisa dilakukan kapan saja dengan pertimbangan untuk memberikan edukasi kepada para pengunjung.

Wisata Edukasi

Setelah sukses dengan program sekolah sungai, nafas wisata edukasi tetap terus dikembangkan dengan melakukan sejumlah inovasi salah satu contohnya adalah Wisata Taman Robin untuk menampung tiga potensi yang ada di tiga kampung yang ada.

Taman Robin rencana akan dibangun di bawah jembatan Rumah Sakit (RS) Sardjito. Program ini masuk anggaran tahun 2020 untuk menarik wisatawan.

Taman wisata ini nantinya untuk menampung potensi-potensi yang ada di tiga kampung yakni Cokrodiningratan yang memiliki potensi kerajinan dan kuliner, Cokrokusuman memiliki potensi wisata budaya seperti karawitan, bregodo, wayangan dan sebagainya, serta Jetisharjo yaitu potensi pengembangan air sungai siap minum maupun pengelolaan pemukiman. Dan tentu Akan dilengkapi dengan wisata selfie dan kuliner serta semua potensi budaya akan tampil disana.

Rencananya pembangunan ini menggunakan alokasi dana kelurahan sebesar Rp 200 juta untuk pembangunan fisik dari anggaran yang ada sebesar Rp 1,3 miliar. Termasuk juga untuk kebudayaan dalam rangka menarik wisatawan. Jadi nanti para pengunjung dikenai biaya rata-rata sekali tampil Rp 1 juta. Dan juga stand-stand UMKM, panggung, penata wisata, dan lain-lain.