Titik Keenam Jogja Daily

KAMIS KANOMAN – Diskusi mingguan menghadirkan tokoh kompeten di meja redaksi Jogja Daily. Tampak Ketua LPMK Wirogunan, Abdul Razaq, tengah memberikan penjelasan tentang potensi kelurahannya. MIDCLASS

Hari ini, Minggu (14/6/2020), Jogja Daily (jogjadaily.com) berusia enam tahun. Rentang waktu rintisan untuk sebuah dedikasi penyajian ‘100% konten lokal kejogjaan’. Tahapan pratama pengenalan ‘jurnalisme progresif’ yang hanya menempatkan informasi positif berkemanfaatan. Fokus pada solusi persoalan, juga rekomendasi strategis.

Enam tahun lalu, saya ‘menyowani’ beberapa orang penting yang kemudian memiliki arti penting bagi perjalanan Jogja Daily. Beliau-beliau tak memiliki tendensi apa pun, kecuali bersinergi dan berkolaborasi kontribusi teruntuk Jogja tercinta.

Sosok pertama yang perlu saya ceritakan adalah Agus Arif Nugroho, kini Kepala Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta. Ketika itu, saya sowan ke kantor Kecamatan Gondomanan, karena ia menjabat sebagai Camat di sana. Meski belum saling kenal, dan tidak membuat jadwal sebelumnya, saya diterima dengan sangat baik.

Pertama-tama, saya memperkenalkan diri. Bukan hanya sebagai pribadi, tapi juga pribadi pembawa brand media baru di Jogja bernama Jogja Daily. Meski masih terhitung pemula, perlakuan terhadap saya ternyata tetap istimewa. Cukup lama kami berbincang tentang banyak hal seputar isu-isu kejogjaan yang penting.

Saya, tentu saja, menjadi sedikit gagap, karena harus mengunyah informasi sebanyak itu, dalam kadar strategis pula, sementara saya belum cukup referensi. Syukurlah, setidaknya dalam beberapa tahun setelahnya, saya mulai bisa mengurai, apa-apa yang pernah disampaikan Pak Agus.

Pada akhir pembicaraan, saya diarahkan untuk mengontak sosok penting selanjutnya, Tri ‘Kelik’ Hastono, sekarang Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Persandian Kota Yogyakarta. Pak Agus memberi nomor Pak Kelik yang bisa dikontak, dan memberi saran tentang keberlanjutan beberapa ide yang terbahas bersama saya. Tak lupa, Pak Agus memberi gambaran profil Pak Kelik, untuk memastikan, saya benar-benar perlu menyowaninya.

Setali tiga uang, ketika saya berjumpa Pak Kelik, suasananya tidak jauh berbeda. Saya seperti kebanjiran konten kejogjaan, terlebih seperti ada ‘celah’ yang bisa saya masuki untuk turut berkontribusi. Pak Kelik mengapresiasi konten-konten Jogja Daily yang positif, terutama bagi Pemerintah Kota Yogyakarta. Selanjutnya, pembicaraan mulai mengarah pada optimalisasi konten pemerintahan hingga di tingkat Kelurahan.

Bertahun-tahun setelahnya, baik saya sebagai pribadi, atau tim redaksi, atau Jogja Daily sebagai institusi, diberi kesempatan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, untuk mengawal konten-konten pemerintahan. Dalam berbagai kerja sama yang dilakukan merepresentasi tekad bersama untuk menginformasikan sepenuhnya kepada publik tentang Pemkot Yogyakarta yang sungguh-sungguh mengabdi kepada warga.

Pengalaman berkolaborasi ini membawa Jogja Daily ke spektrum lebih luas. Saya diperjumpakan dengan Shavitri Nurmala, akrab dipanggil Bu Evie. Beliau kini Kabag Humas dan Protokol Setda Kabupaten Sleman. Bu Evie tampak excited dengan portofolio Jogja Daily yang fokus ke konten strategis lokal. Ia memberi dorongan khusus agar jejaring semakin terbuka.

Lebih luas, berturut-turut Jogja Daily akhirnya ‘percaya diri’ menyowani Pemkab Bantul, Pemkab Gunungkidul, dan Permkab Kulon Progo, untuk memperkenalkan diri dan menawarkan kolaborasi konten media. Responsnya beragam, tapi intinya, Jogja Daily semakin dikenal. Beberapa kerja sama kemudian dijajaki dan terus dikaji, untuk memberi pengaruh positif pada pemberitaan kejogjaan.

Basis Literasi

Enam tahun terakhir, Jogja Daily berlimpah ‘katresnan’ berupa narasumber berbobot yang tidak melulu tentang update pemberitaan. Beliau-beliau membawa Jogja Daily untuk berkhazanah dan menguatkan benchmark sebagai media lokal dengan basis referensi mumpuni. Sebuah basis literasi alamiah, buah ‘pisowanan’ yang hangat dan inspiratif.

Nama-nama penting yang dapat saya sebut dalam hal ini tidak semuanya. Tapi sungguh saya berterima kasih kepada Wahyudi Anggoro Hadi (Lurah Desa Panggungharjo), Agus Salim (Perencana Bappeda Kota Yogyakarta), Affrio Sunarno (kini Sekretaris Dinas Komunikasi, Informasi, dan Persandian Kota Yogyakarta), dan Gunawan Nugroho Utomo (sekarang Kepala Bidang Pengembangan, Penataan Lahan dan Pendapatan Pasar Disperindag Kota Yogyakarta).

Terima kasih tak terkira juga teruntuk Purwo Santoso (Rektor UNU Yogyakarta), Ahmad Ma’ruf (Dosen Fakultas Ekonomi UMY), Fauzi Rahman (IKA Suka), Suratman Worosuprojo (UGM), Arif Gunawan (pengrajin Kotagede), dan Syaiful Huda (Jogja Realty).

Beberapa nama penting masih ada. Namun, sebagian dari beliau-beliau kurang nyaman dengan publikasi. Tapi perannya, tidak kalah besar dibanding nama-nama yang tersebut.

Basis literasi, lebih mudah dipahami dengan konsisten menerbitkan buku. Teknisnya, memfasilitasi semua penulis Jogja, atau siapa pun yang suka menulis dan berkebutuhan memiliki terbitan buku, dengan mekanisme dan prosedur sederhana. Jogja Daily lantas seperti berubah menjadi ‘agensi penulis’.

Karena untuk berubah, apalagi bagi Jogja dengan lusinan pakar yang menasional, displin dalam pencatatan adalah sebuah keharusan. Siapa yang setuju untuk mengikat waktu dengan tulisan dapat berkolaborasi dengan Jogja Daily dan melahirkan buku. Begitu seterusnya, sebab pada praktiknya, realitas selalu dapat dibukukan, dan buku juga dapat direalitaskan. Timbal balik yang konvergen dan mutual, kemudian turut dalam gelombang besar keistimewaan Jogja.

Jogja Daily memprioritaskan produksi Opini untuk menguatkan basis literasi. Opini yang intens dan kompeten dapat mengimbangi pemberitaan yang sering ‘tertekan’ karena deadline dan data penunjang yang kurang memadai. Terlebih, penguatan penulis Opini sama dengan membangun pernaskahan strategis yang apabila dikelola dengan tepat, dapat melahirkan buku-buku berkualitas.

Jogja Daily juga tentang editorial dan manajemen internal. Tanpa keduanya, enam tahun yang telah berlalu tidak akan punya kisah ‘keseharian’ dan seni korporasi yang lebih mirip komunitas penulis ini. Personel yang datang dan pergi, dengan alasan masing-masing, atau tentang kalkulasi bisnis yang tidak selalu sesuai rencana, atau tentang mimpi yang tak linier dengan kapasitas, menjadi pewarna sedap perjalanan Jogja Daily.

Pada akhirnya, Jogja Daily sangat berterima kasih kepada warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dinamika kemasyarakatan yang bernilai juga respons warga atas kehadiran Jogja Daily, semakin berkelindan menuju tata nilai yang terus diharapkan membaik, meski konstelasi nasional dan global, tidak selalu berpihak pada yang benar.

Enam tahun yang berkesan bagi kami. Bila Allah menghendaki, semoga Jogja Daily semakin berguna bagi warga DIY, khususnya. Sedikit, tak apa. Asalkan bermanfaat dan lestari, Jogja Daily serasa bersanding dengan kebaikan dan hal-hal baik kejogjaan, termasuk keistimewaannya. Alhamdulillah.