Urban Farming, Inovasi dan Solidaritas

Aktivitas Urban Farming Warga Mantrijeron. KECAMATAN MANTRIJERON

Tak hanya sebagai solusi keterbatasan lahan, kini urban farming telah menjelma menjadi gaya hidup masyarakat perkotaan seiring meningkatnya popularitas dan keterlibatan warga perkotaan bercocok tanam.

Melalui urban farming, ketahanan pangan mulai menemukan titik temu, dengan begitu lumbung pangan tidak hanya menjadi beban daerah atau pertanian di pedesaan saja. Pun bercocok tanam memang sudah menjadi jati diri bangsa, entah di desa atau kota.

Dengan gerakan menanam secara masif, cita kedaulatan pangan pun menjadi realistis. Namun untuk mengagregasi itu, tentu urban farming tidak hanya sekadar uforia saja. Percepatan menanam dan inovasi menjadi kunci keberhasilan demi menyosong kedaulatan pangan.

Terlebih di tengah Pandemi Covid-19, dengan ruang gerak yang terbatas karena social dan physical distancing, menanam tidak hanya sebagai aktivitas sampingan saja tapi telah menjadi kebutuhan masing-masing keluarga.

Pandemi sebaiknya dimanfaatkan untuk mengasah keterampilan untuk menemukan inovasi yang kemudian mampu mempercepat proses ketahanan pangan. Dengan lahan terbatas, inovasi menanam memang menjadi tantangan serius.

Kota Yogyakarta menjadi salah satu bukti implementasi urban farming yang sarat dengan inovasi dan pergerakan. Bahkan urban farming tidak hanya menjadi gerakan bertanam saja namun ternyata Kota Yogyakarta membuktikan bahwa urban farming mampu menggerakan solidaritas dan aksi sosial kemasyarakatan.

Seperti yang dilakukan Kelompok Tani Surya Hijau Suryodiningratan misalnya, yang mampu menggerakkan aktivitas sosial kemasyarakatan, Kaum ibu yang tergabung dalam kelompok tani Surya Hijau ini memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan kosong yang ada di wilayah mereka untuk menanam sayur-sayuran, buah dan berbagai tanaman obat keluarga (Toga) seperti jahe dan kunyit.

Solidaritas sesama warga juga semakin Nampak pada saat Pandemi Covid-19, warga saling bergotong royong memanfaatkan potensi pertanian yang ada untuk kemudian membagi hasil penen kepada para tetangga yang membutuhkan.

Sayur hasil panen dibagikan secara cuma-cuma dengan aksi-aksi solidaritas yang sangat unik, diantaranya aksi cantelan sayur, dimana para warga menyediakan sejumlah sayuran hasil panen kemudian dicentelkan di tempat-tempat tertentu, warga yang membutuhkan dipersilahkan mengambil secukupnya.

Kepadatan penduduk, keterbatasan waktu sepertinya tidak lagi menjadi masalah perkotaan dengan hadirnya urban farming yang mampu menyatukan, mempertemukan dan menguatkan warga perkotaan.

Praktik baik warga Yogyakarta menjadi angin segar bagi kota-kota lain bahwa tujuan ketahanan pangan ternyata bisa diraih dengan mempertimbangkan faktor sosial kemasyarakatan sebagai kunci daya tahan urban farming sehingga bisa menjadi gerakan yang berkelanjutan.

Pupuk Organik Cair

Sekali lagi, masyarakat menjadi kunci keberhasilan urban farming karena di sana sebenarnya basis potensi berada. Di Mantrijeron, warga melakukan inovasi dengan mengkreasi kotoran kambing sebagai pupuk cair yang terbukti mampu memberikan dampak kepada hasil panen yang menggembirakan.

Pupuk yang menggunakan bahan dasar kotoran Kambing ini sangat ramah lingkungan, bahkan bisa mempercepat dan meningkatkan hasil dari pertanian. Seperti tanaman berbuah hasilnya pun akan menjadi baik dan bagi tanaman sayuran berdaun hasilnya juga akan baik.

Selain inovasi, keberhasilan warga mengolah kotoran kambing menjadi pupuk cair juga merupakan salah satu upaya untuk mengefisiensikan biaya operasional pelaksanaan kegiatan pertanian, selain efisien kegunaannya sangat berguna bagi tanaman.

Keterampilan yang diasah dengan melakukan kolaborasi dengan akademisi ini sebenarnya sudah lama dilakukan di Mantrijeron namun memang dalam perkembanganya perlu dikembangkan secara terus menerus supaya budidaya pertanian bisa menjadi salah satu segi untuk menopang ketahanan pangan di Kota Yogyakarta.

Wilayah Mantrijeron sendiri, belum lama ini juga diadakan pendampingan pembuatan pupuk organik cair kepada kelompok tani yang ada. Sudah dua tahun ini kerjasama dengan akademisi, hasil penelitian akademisi tersebut diterapkan pada kelompok tani, salah satunya pupuk organik, karena skala penanaman yang kecil, jadi diusahakan bertanam dengan sistem organik.

Kecamatan Mantrijeron terus mengembangkan potensi pertanian yang ada di wilayah, seperti yang dilakukan belum lama ini dengan memberdayakan Pupuk Organik Cair (POC).

Harapannya wilayah Mantrijeron akan menjadi ikon penghijauan seperti apa yang digencarkan Walikota dan Wakil Walikota Yogyakarta dengan memanfaatkan gang-gang di perkotaan sebagai lorong sayur dan memaksimalkan kampung sayur sebagai destinasi wisata dan pertanian terpadu.