Bersama Kita Bisa

Gugus Tugas Covid-19 Kelurahan Tegalrejo.

Pandemi Covid-19 mengakibatkan kerugian yang tidak mengenal kelompok sosial, ekonomi,dan usia, seluruh lapisan masyarakat merasakan hal yang sama.

Kelurahan Tegalrejo sebagai kepanjangan tangan Pemerintah Kota Yogyakarta melakukan respons cepat dengan membentuk Gugus Tugas Covid-19 dengan semboyan  “Bersama Kita Bisa “.

Gugus Tugas Covid-19 Kelurahan Tegalrejo berupaya mengarahkan warga untuk menjalankan protokol kesehatan, dengan menjalankan Pola Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS, tetap di rumah, selalu memakai masker dan membuat tempat cuci tangan yang dibagikan ke warga dan mendirikan warung peduli dengan menawarkan pembelian sembako seharga Rp4.000.

Selain itu juga membagikan nasi bungkus secara rutin, mengajak warga yang mampu untuk membantu warga yang membutuhkan. Adapun ajakan dan pesan tersebut dishare melalui group WhatsApp RT, RW, Linmas, Poktan, PKK selanjutnya angggota grup  menyampaikan pesan tersebut kepada masyarakat.

Pandemi Covid-19 membuat seluruh masyarakat bergerak memutus  penyebaran virus Corona, banyak yang sudah dilakukan dengan  swadaya warga bahu-membahu melaksanakan kegiatan penyemprotan disinfektan secara rutin.

Selain itu sejumlah RT dan RW banyak yang bergerak untuk berkontribusi secara swadaya untuk membagikan sembako kepada warga yang kurang mampu, mereka berdonasi dengan dana kas organisasi, bahkan ada juga yang dari pengusaha di wilayah sekitar Kelurahan Tegalrejo ikut berbagi membantu warga.

Keunikan ini adalah pada gerakan masyarakat yang mampu dikendalikan, karena merasa senasib untuk memperjuangkan kesehatan bersama serta tingkat berpartisifasi masyarakat sangat tinggi, meski saat ini sudah memasuki New Normal tapi Masyarakat masih tetap menjalankan protokol kesehatan yang dianjurkan.

Pandemi Covid-19 saatnya kita berbagi, saatnya kita gotong royong, guyub rukun, semua tidak bisa kita lalukan sendiri atau berkelompok, mari kita, putus mata rantai Covid-19 yang sudah banyak memakan korban, mari kita biasakan diri untuk hidup sehat dengan menjalankan PHBS dan patuhi semua aturan pemerintah dengan menjalankan protokol kesehatan, juga banyak berdoa untuk keselamatan dan kesehatan kita semua.

Pandemi Covid-19 mengakibatkan banyak warga tidak bekerja karena dirumahkan oleh perusahaan, aktivitas warga banyak terhenti terutama nasib UMKM yang baru berkembang,  tetapi dengan adanya gerakan Gandeng-Gendong yang dicetuskan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta, itu sangat membantu banyak warga yang ekonomi menengah ke bawah, untuk menyambung hidup mereka  yang serba kekurangan.

Dengan adanya Gandeng-Gendong  banyak warga yang tertolong, karena adanya kerja sama dari Pemerintah Kelurahan dengan Pengusaha di Wilayah, juga bantuan akademisi yang memberikan penyuluhan kesehatan, juga kampung yang selalu guyub rukun, gotong royong,  dan banyak komunitas yang juga peduli kepada warga yang membutuhkan.

Kekompakan, kebersamaan, merasa senasib dalam memerangi pandemi Covid-19  untuk bangkit bersama dalam kehidupan normal seperti sedia kala, dengan tekad untuk bisa  kembali di kehidupan yang lebih baik, dengan satu kalimat “Bersama  Kita  Bisa”.

Gotong Royong

Sudah menjadi jati diri bangsa, melekat dan akan terus tertanam kuat, gotong royong sebagai kekuatan bangsa sudah terbukti. Kemerdekaan Indonesia pun tidak akan pernah tercapai tanpa semangat itu.

Jiwa gotong royong kembali teruji di tengah Pandemi Covid-19, termasuk di Kota Yogyakarta dengan gagasan Gandeng-Gendong mampu merepresentasikan secara brilian.

Dalam kacamata sejarah, Soekarno mengajukan usul untuk memeras lima dasar tersebut menjadi Trisila, yaitu: socio-nationalism (perasan dari kebangsaan dan kemanusiaan), socio-democratie (perasan dari keadilan sosial dan kerakyatan), dan Ketuhanan.

Tidak berhenti di situ, Soekarno memeras lagi Trisila tersebut ke dalam Ekasila, yaitu “gotong royong.” Mengapa gotong royong? Argumentasi yang dikemukakan Soekarno adalah karena ia menginginkan Indonesia buat semua. (Agustinus W. Dewantara dalam bukunya Alangkah Hebatnya Negara Gotong Royong”).

Adanya “pemerasan” Pancasila ke dalam Ekasila oleh Soekarno adalah bahwa kelima sila itu berasal dari prinsip yang terkandung dalam satu perkataan Indonesia yang tulen, yakni gotong royong. (Suwarno:1993).

Anand Krishna dalam bukunya Indonesia Baru menyebut gotong royong bukanlah sikap kekurangberanian, kurang percaya diri, atau sikap tidak mandiri. Gotong royong tidak selalu berarti orangorang sekampung menyumbang ketika kita terkena musibah. Gotong royong berarti bahu-membahu dan saling bergandengan tangan. Ia adalah sebuah “kesadaran” bahwa semua warga adalah putra-putri ibu pertiwi, memiliki hak dan kewajiban yang sama, walaupun aplikasinya, pelaksanaannya, penerjemahannya dalam hidup sehari-hari bisa berbeda.

Add Comment