Lanskap Baru Pendidikan

Gerakan Relawan Mengajar di Warsimah Gunungketur, Pakualaman.

Mengajar adalah memberi bahan ajar. Mengajar erat kaitannya dengan pendidikan. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 1 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan diberikan oleh orang yang lebih dewasa kepada anak untuk mencapai kedewasaanya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain. Melalui pendidikan disemaikan pola pikir, nilai-nilai, dan norma-norma masyarakat dan selanjutnya ditransformasikan dari generasi ke generasi untuk menjamin keberlangsungan hidup masyarakat.

Pengertian di atas mengindikasikan betapa peranan pendidikan sangat besar dalam mewujudkan manusia yang utuh dan mandiri serta menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Masa pandemi Covid-19 merubah pola belajar yang sudah berjalan mulus selama ini. Ken anakku misalnya, diawal pelaksanaan sekolah dari rumah pol bahagianya menganggap libur tanpa harus belajar di belakang meja. Dua minggu berjalan banyak tugas yang harus dia kerjakan lewat pengiriman video dan rekaman suara dan itu membuatnya sebal, marah dan berontak-berontak kecil, masih ditambah cerewetnya si emak yang baru bisa mendampingi malam selepas kerja disaat si Ken udah mengantuk. Hah..

Si emak pun tidak kalah hebohnya, saat mau ditinggal kerja karena si emak tidak dapat jatah Work From Home harus ada adegan si anak merengek tidak mau ditinggal, tiap saat emak pun harus cek memastikan si anak tidak kabur dari rumah dan pulang kerja masih harus kejar tayang mengirim segepok tugas dari sekolah si anak.

School From Home (SFH) yang muncul tiba-tiba akibat pandemi Covid-19 tanpa persiapan dan uji coba membuat masyarakat khususnya orang tua gagap, resah, anak-anak gundah dan pendidikan menjadi sedikit terganggu. Banyak keluhan yang akhirnya muncul di masyarakat baik tentang orangtua yang belum siap menjadi guru, orangtua yang sibuk mencari nafkah sehingga tidak bisa mendampingi secara penuh, si anak yang merasa libur dan bebas, belum lagi permasalahan sarana prasarana handphone, laptop, komputer dan jaringan internet yang tidak semua orang mempunyai akses itu, masih ditambah lagi permasalahan kecanduan gadget dan sikap apatis anak yang kemudian muncul.

Berbagai macam permasalahan selama SFH inilah yang membuat Kota Yogyakarta terus bergerak mencari solusi untuk meminimalisir permasalahan yang ada.

Relawan mengajar adalah sebuah gerakan sosial yang muncul sebagai salah satu solusi School From Home (SFH) atau Sekolah Dari Rumah. Relawan Mengajar merupakan gerakan yang dilakukan oleh masyarakat secara swadaya dengan melibatkan seluruh elemen 5K (Kota, korporate, kampus, kampung, komunitas) dan memaksimalkan sumber daya yang ada. Relawan mengajar tumbuh di kampung-kampung di Kota Yogyakarta dengan berbagai macam kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.

Relawan mengajar terutama melakukan pendampingan kepada anak yang memiliki berbagai macam keterbatasan. Kegiatan yang dilakukan seperti pemberian edukasi terkait Covid-19, pendampingan belajar, pendampingan pendaftaran sekolah secara online, pemberian ketrampilan life skill (pembuatan hand sanitizer, membatik, decopage, video editing, celup jumputan, melukis, dan lain-lain) serta pendampingan selama ujian sekolah secara online dan juga memfasilitasi dalam sarana prasarana melalui pemanfaatan wifi publik dan wifi donasi.

Relawan mengajar yang awalnya hanya ada di satu lokasi saat ini sudah direplikakasi di 17 lokasi lainnya dan akan terus berkembang mengingat sekolah dari rumah yang belum tahu akan sampai kapan.

Arah Baru Pendidikan

Dalam catatan sejarah pendidikan nasional, arah baru pendidikan sebenarnya sudah menggeliat sejak awal kemerdekaan, dengan tidak melupakan perjuangan Ki Hadjar Dewantara, RA Kartini dan sederet pejuang yang fokus mendengungkan pendidikan.

Demokrasi pendidikan ala Soekarno misalnya, hingga sosialisme pendidikan berbasis masyarakat yang jika ditarik ulur sebenarnya erat kaitannya dengan gerakan relawan mengajar sebagai sebuah gejala positif di tengah masyarakat Indonesia khususnya di Kota Yogyakarta.

Dalam sebuah tulisan, Toto Suharto menjelaskan Demokratisasi pendidikan mengandung arti proses menuju demokrasi dalam bidang pendidikan. Demokratisasi pendidikan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu “demokrasi pendidikan” dan “pendidikan demokrasi”. Demokrasi pendidikan, sebagaimana telah disinggung pada awal tulisan ini, dapat diwujudkan di antaranya melalui penerapan konsep pendidikan berbasis masyarakat dalam sebuah penyelenggaraan pendidikan nasional.

Apabila demokrasi mulai diterapkan dalam pendidikan, maka pendidikan tidak akan menjadi alat penguasa. Rakyat atau masyarakat diberikan haknya secara penuh untuk ikut menentukan kebijakan pendidikan nasional. Semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan diharapkan dapat berpartisipasi dalam penentuan kebijakan pendidikan. Inilah yang disebut demokrasi pendidikan menurut Kartono (1997:196-197).

Terkait partisipasi masyarakat dalam menyangga pendidikan, Secara khusus Azra (2002:5-6) memberikan pencerahan sejarah yang menarik, partisipasi masyarakat dalam rangka pendidikan berbasis masyarakat telah dilaksanakan lebih lama lagi, yaitu setua sejarah perkembangan Islam di bumi Nusantara. Hampir seluruh lembaga pendidikan Islam di Indonesia, mulai dari rangkang, dayah, meunasah (Aceh), surau (Minangkabau), pesantren (Jawa), bustanul atfal, diniyah dan sekolah-sekolah Islam lainnya didirikan dan dikembangkan oleh masyarakat Muslim.

Belakangan, muncul Merdeka Belajar yang diusung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Nadiem Anwar Makarim saat berpidato pada acara Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2019. Konsep ini
merupakan respons terhadap kebutuhan sistem pendidikan pada era revolusi industri 4.0. Nadiem Makarim menyebutkan merdeka belajar merupakan kemerdekaan berfikir.

Muhammad Yamin dalam jurnalnya “Pembangunan Pendidikan Merdeka Belajar” menyebut peluang berkembangnya internet dan teknologi menjadi momentum kemerdekaan belajar. Karena dapat meretas sistem pendidikan yang kaku atau tidak membebaskan. Termasuk mereformasi beban kerja guru dan sekolah yang terlalu dicurahkan pada hal yang administratif. Oleh sebabnya kebebasan untuk berinovasi, belajar dengan mandiri, dan kreatif dapat dilakukan oleh unit pendidikan, guru dan siswa.