Membangun Swadaya Masyarakat ala Kricak

Sosialisasi protokol kesehatan di Fasum dan Tempat Ibadah. KELURAHAN KRICAK

Entah mengapa saya selalu terngiang-ngiang ucapan Niccolo Machiavelli, “Negara yang kuat adalah Bangsa yang lemah.” Bukan mengagumi apalagi menjadikannya panutan. Tapi pemikiran-pemikiran Sang “Ill Principle” itu selalu terngiang tatkala menemui fenomena-fenomena pembangunan.

Tepatnya sebuah kekhawatiran, apa yang dikemukakan Machiavelli sendiri menurut saya sesuatu yang ilmiah dan cara berpikir seorang scientist, dimana membedakan antara fakta politik dan nilai moral (between the facts of political life and the values of moral judgment). Machiavelli dalam buku Discourses on Livy dan The Prince memisahkan teori politik dari etika. Bahwa etika tak perlu campur tangan dalam urusan negara.

Saya khawatir bahwasannya otonomi daerah bisa mengarah ke sana. Dalam lingkup kecil terwujud dengan dihilangkannya dana stimulan RW dan LPMK. Hal ini membuat kelurahan menjadi sangat kuat dan masyarakat tergantung pada kelurahan.

Akibatnya kemandirian masyarakat bisa tereduksi parah. Sementara pada kenyataannya banyak kebutuhan masyarakat yang mendesak namun tidak bisa terakomodasi karena hambatan aturan.

Diantaranya, semua kegiatan yang menggunakan anggaran Pemerintah Daerah, dua tahun sebelumnya, harus masuk dalam musrenbangkel terlebih dahulu. Lalu bagaimana dengan kebutuhan masyarakat yang mendesak?

Sebagai contoh, kala bisnis kuliner sangat menjanjikan tetapi pelatihan produksi kuliner tak masuk dalam perencanaan kegiatan.

Karena itu, saya merasa perlu dan sangat perlu membangkitkan keberdayaan dan ke-swadayaan masyarakat, dan mengurangi ketergantungan pada kelurahan. Yang bertujuan menciptakan kondisi di mana masyarakat mampu melakukan kegiatan pembangunan secara mandiri tanpa perlu bertanggung jawab kepada pemerintah.

Untuk mewujudkan kemandirian demikian tentu tidak semudah membalikkan tangan. Butuh proses panjang dan harus berangkat dari kesadaran penuh dan rasa sukarela. Karena itu kami memulai langkah dengan menginisiasi sebuah inovasi dalam penanganan wabah Covid-19.

Sesuatu yang tanpa sadar akan mampu memaksa perhatian masyarakat, yakni dengan kegiatan penanganan yang menyeluruh, melibatkan seluruh elemen masyarakat, terorganisir, dan langsung menyentuh masyarakat.

Gada Bima, Bentuk Partisipasi dan Sinergitas Masyarakat

Wabah Covid 19 sangat luas dan dampaknya kompleks. Ketakutan dan kepanikan massal, ditambah beredarnya informasi yang salah, frustasi, mandeknya roda ekonomi,  adanya korban yang diasingkan bahkan saat meninggal pun jenasahnya ditolak pemakamannya oleh masyarakat.

Kompleksitas dan besarnya permasalahan demikian jelas tidak bisa hanya ditangani aktor negara saja. Masyarakat harus terlibat langsung.

Dari pemikiran tersebut kami bentuk tim yang berisikan seluruh elemen masyarakat dengan nama GADA BIMA = Galang Damai Bina Masyarakat Kelurahan Kricak. Tim ini memiliki tugas mengedukasi masyarakat, menyediakan pelayanan pencegahan dan penanganan, pemantauan, dan lain sebagainya.

Mereka setiap hari berkeliling wilayah memantau sekaligus menyapa, mengedukasi, dan memberikan pelayanan pada masyarakat. Berasal dari seluruh elemen masyarakat maka tim ini adalah wujud kesatuan dan sinergi warga dari semua kampung dan semua lembaga kemasyarakatan yang ada di kelurahan Kricak. Point inilah yang selanjutnya akan kami kembangkan untuk memberdayakan masyarakat setelah wabah Covid 19 rampung.

Kelurahan Kricak adalah Kelurahan Budaya, di mana bermacam produk budaya masih sangat hidup, dari kesenian, aturan kemasyarakatan, etika pergaulan, sampai cara berpikir, maka untuk lebih bisa merebut hati masyarakat, kami mengusung Slogan “Budaya Lawan Corona”.

Adanya slogan “Budaya Lawan Corona” diharapkan akan menumbuhkan sentimen positif masyarakat sebagai warga Kelurahan Budaya Kricak. Dengan demikian akan membangkitkan semangat tolong menolong, gotong royong, empati, dan saling peduli yang merupakan budaya nusantara. Selanjutnya, dikemas dan diorganisir dalam kebersamaan dan kesatuan gerak.

Kebersamaan dan kesatuan gerak ini nantinya setelah usai Wabah Covid 19 tetap kami jaga. Tim Gada Bima akan kami arahkan menjadi organisasi yang secara kelembagaan tidak bertanggung jawab pada lembaga manapun.

Mereka hanya bertanggung jawab pada masyarakat. Melalui inovasi ini diharapkan budaya yang diusung oleh Kelurahan Kricak dapat diinternalisasi menjadi semangat gerak dalam setiap kehidupan.

Kecanggihan inovasi ini dalam aspek gerakan sosial diharapkan mampu membentuk masyarakat yang bergerak secara mandiri (swadaya) dan terorganisir dalam memecahkan masalah. Kemandirian yang terbentuk selanjutnya akan menumbuhkan masyarakat cerdas yang lebih kreatif untuk menyelesaikan setiap persoalan di masyarakat hingga tercipta masyarakat madani.

Menurut Qodry Azizy disebutkan bahwa masyarakat madani dapat diartikan sebagai suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya.1

Dengan inovasi yang dibangun oleh kelurahan Kricak dengan Gada Bima-nya diharapkan negara akan lebih mampu menanggulangi resiko masalah yang lebih kompleks seperti kemiskinan, kerawanan sosial, bencana alam, dan lain sebagainya, secara lebih efektif dan efisien.

Organisasi dan Budaya Masyarakat

Dengan demikian “Budaya” bukan semata untuk melawan Corona akan tetapi menjadi menjadi dasar atau landasan gerak dalam segala aspek pembangunan. Tantangan terbesarnya di sini adalah tuntutan untuk selalu kreatif memelihara semangat masyarakat menjaga budaya, bahkan mengembangkannya.

Dari sisi organisasi, karena sepenuhnya milik masyarakat maka sangat dituntut kejujuran, semangat tanpa pamrih dan secara hukum tidak bertanggung-jawab pada siapapun. Dalam hal pendanaan tentu menjadi tantangan tersendiri. Hal ini membutuhkan menejerial organisasi yang khas. Bentuk kegiatannya juga harus terhindar dari tumpang tindih dengan organisasi kemasyarakatan lain.

Perlu digarisbawahi, sebutan atau pencantuman kata “Budaya” di sini sebenarnya sebatas untuk memancing sentimen lokal masyarakat Kricak. Dalam wujud gerak dan organisasinya bisa dilakukan oleh semua kelurahan.

Dimana intinya membangun sebuah wadah organisasi yang menampung seluruh elemen masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan pembangunan yang tidak bisa ditangani pemerintah secara swadaya dan bergotong royong sesuai semangat Segoro Amarto.

Atau, yang lebih efektif dilakukan langsung secara mandiri oleh masyarakat, di mana organisasi tersebut berlandaskan budaya dan tidak bertanggung jawab kepada siapapun atau lembaga manapun selain masyarakat sendiri.

  1. Qodri Azizy. Melawan Globalisasi Reinterpretasi Ajaran Islam: Persiapan SDM dan Terciptanya Masyarakat Madani (2004)

2 thoughts on “Membangun Swadaya Masyarakat ala Kricak

Add Comment