Pariwisata Sehat, Ekonomi kuat

Wisata Taman Sari Mulai Dibuka Kembali Pada 8 Juli 2020. DISKOMINFO KOTA YOGYAKARTA

Sejak awal April 2020, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memberlakukan beberapa skenario untuk bisa mengontrol pendatang yang akan masuk wilayah DIY. Pemberlakuan skenario tersebut tidak lepas dari upaya Pemda DIY untuk mencegah penyebaran Virus Corona dan adanya kekhawatiran bahwa orang dari luar DIY akan membawa virus Corona ini masuk ke wilayah DIY. Kekhawatiran yang dirasakan oleh Pemda DIY tersebut tentu juga dirasakan oleh para wisatawan baik dalam maupun luar negeri.

Banyak acara dan rencana wisata yang telah diagendakan terpaksa dibatalkan dan sebagian lainnya diubah jadwalnya. Hal ini tentu menampar keras dunia pariwisata di DIY dan Kota Yogyakarta pada khususnya. Banyak pelaku usaha di bidang pariwisata, mulai dari jasa travel, Event Organizer (EO) hingga kerajinan mengeluhkan penurunan omzet. Keadaan tersebut memaksa mereka untuk merumahkan beberapa karyawannya karena tidak beraktifitas dan tidak berproduksi selama pandemi ini.

Awal Juni, Pemerintah Pusat menyampaikan bahwa secara perlahan kehidupan kita akan kembali normal akan tetapi tetap mengikuti protokol Kesehatan atau yang disebut New Normal yang kemudian diralat menjadi adaptasi kebiasaan baru (AKB). Hal ini perlu direspons cepat oleh kawan-kawan pelaku usaha di dunia industri baik sektor jasa maupun sektor perdagangan. Pelaku usaha pariwisata harus menjadi barisan terdepan yang mampu merumuskan adaptasi kebiasaan baru di bidang pariwisata.

Pariwisata Sehat

Seperti kita ketahui bahwa sebagian besar pelaku usaha Kota Yogyakarta bergantung pada dunia pariwisata. Apabila pariwisata di Kota Yogyakarta ini dapat segera bangkit pasca pandemi, maka segera bangkit dan pulih juga perekonomian di Kota Yogyakarta. Kebangkitan pariwisata Kota Yogyakarta tak lepas dari bagaimana kita mampu mewujudkan Pariwisahat Sehat. Setiap pihak terkait dalam dunia pariwisata harus terus menerus mendorong bangkitnya kembali pariwisata Kota Yogyakarta. Upaya tersebut dilakukan dengan mempercepat kesiapan pemerintah dan pelaku usaha pariwisata.

Bagi Pemerintah Daerah, harapannya segera ada standar dan petunjuk teknis yang lengkap mengenai protokol kesehatan standar beserta regulasi daerah yang mengaturnya. Hal ini diperlukan untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam berwisata di Kota Yogyakarta.

Selain itu, perlu juga diadakan sosialisasi dan pelatihan yang memadai kepada seluruh pelaku usaha, semisal bagaimana cara membersihkan kamar dan kamar mandi bagi pengelola hotel yang memenuhi standar protokol kesehatan, model interaksi antara penjual dan pembeli, hingga alat perlindungan diri (APD) standar apa saja yang harus ada di wilayah destinasi wisata.

Dari sisi pelaku usaha, harapannya dapat mengikuti seluruh protokol yang nantinya dirumuskan oleh pemerintah daerah secara disiplin. Selain itu perlu kreatifitas dan inovasi dari para pelaku usaha untuk menyiasati pandemi ini. Semisal yang telah banyak kita temukan adalah souvenir berbentuk masker batik atau restoran yang sempat viral karena menyediakan bilik transparan khusus untuk pasangan atau keluarga.

Guna menunjang pariwisata sehat, tidak lupa perlu adanya suatu produk khusus yang ditawarkan kepada wisatawan dan merupakan salah satu ciri khas Nusantara, yaitu jamu. Produk jamu wajib dihadirkan dalam pariwisata adaptasi kebiasaan baru. Selain mendukung produk jamu tambah dikenal oleh masyarakat, jamu dipercaya mampu memperkuat ketahanan tubuh.

Satu sisi, pariwisata akan menggeliat seiring adaptasi kebiasaan baru, sisi yang lain akan turut memberikan dampak ekonomi bagi UMKM produk jamu. Karena menurut Subroto (2006) dalam Edi Junaidi, dkk (2013) bahwa dengan adanya pariwisata sehat dengan jamu dan manusia sehat akan menghasilkan ekonomi yang sehat.

Ekonomi Kuat

Sekali lagi, Kota Yogyakarta yang terkenal sebagai salah satu kota tujuan  wisata ke-2 di Indonesia setelah Bali, menjadikan sektor pariwisata menjadi salah satu Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar bagi Pemerintah Kota Yogyakarta. Selain itu banyaknya masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya di bidang pariwisata ini sehingga bergeraknya kembali roda perekonomian di dunia pariwisata menjadi hal yang penting dan mendesak.

Bergeraknya kembali roda perekonomian khususnya sektor pariwisata inilah yang juga terus menerus diupayakan oleh Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta atau yang akrab dikenal HIPPI DIY.

HIPPI DIY rencananya akan melakukan Sosialisasi Kebangkitan Pariwisata Sehat di Kota Yogyakarta. Kegiatan akan dilaksanakan pada tanggal 19 Juli 2020 dan 9 Agustus 2020 mendatang, yang agendanya adalah berwisata ke objek wisata di D.I Yogyakarta, seperti Pantai Baru, Pantai Cemara, Underpass NYIA, Pameran UMKM dan obyek wisata-obyek wisata lainnya di DIY. Seluruh rangkaian kegiatan ini akan menerapkan Standar Protokol Kesehatan saat berwisata yang harapannya dapat menjadi contoh dan awal yang baik. Bahwa Pariwisata di DIY ini sudah siap bangkit dengan menerapkan Pariwisata Sehat. Agenda ini terlaksana atas kerjasama Pengurus DPD HIPPI JOGJA ISTIMEWA, Pengusaha Transportasi, Agen atau Biro Travel dan dari DPC HIPPI Kabupaten/Kota di DIY.

Dengan adanya agenda HIPPI tersebut harapannya seluruh pihak dapat segera bangkit dan berbenah. Masih ada satu momentum peak season lagi yang mungkin dapat dimaksimalkan yakni libur Natal dan Tahun Baru. Waktu 5 bulan rasanya cukup untuk seluruh pihak yang berkaitan dengan pariwisata mempersiapkan secara baik dan tepat. Harapannya, dengan persiapan yang baik dan tepat, roda perekonomian di Kota Yogyakarta dapat berputar serta memberikan kebermanfaatan seluas-luasnya bagi Pemerintah Daerah dan juga masyarakat Yogyakarta.

Add Comment