Kebangkitan Ekonomi Ala Kampung

Angkringan Wista Kelurahan Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan. R. KURNIAWAN SAPTA MARGANA

Pada masa pandemi Covid-19, keluhan keterpurukan ekonomi dialami masyarakat Kota Yogyakarta. Setelah berbulan-bulan fokus pada permasalahan kesehatan, ancaman serius terjadi di bidang ekonomi. Masyarakat di tingkat bawah bahkan turut merasakan ambyarnya perekonomian.

Kelompok Usaha Mikro Kuliner Pakudaya, misalnya. Jumlah anggota kelompok ini, 20 orang. Sekira 50 persennya adalah masyarakat penerima Program Keluarga Harapan (PKH). Sebelum Covid-19 datang, rata-rata penghasilan kelompok ini mencapai Rp60 juta per bulan. Sementara pada tiga bulan terakhir, sejak pandemi melanda, penghasilan mereka nol rupiah. Fenomena yang sangat rentan memunculkan kemiskinan baru.

Namun, alih-alih terpuruk, masyarakat kini mulai kreatif menjalankan program Gandeng Gendong. Berbagai gerakan pemberdayaan dilakukan. Ide pun bermunculan dan eksekusi dilakukan bersama.

Program Gandeng Gendong diluncurkan Pemerintah Kota Yogyakarta tahun 2018 sebagai pengejawantahan program Segoro Amarto, akronim dari Semangat Gotong Royong Agawe Majuning Ngayogyakarta).

Berdasarkan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 23 Tahun 2018, Gandeng Gendong merupakan program kerja sama stakeholders pembangunan, baik secara bersama-sama maupun sebagian, dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat, khususnya percepatan penanggulangan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan, dan kemajuan lingkungan, melihat potensi yang ada dengan pengembangan kebersamaan dan kepedulian semua stakeholder sesuai kapasitasnya.

Ada 5K yang terlibat di dalam Gandeng Gendong, yaitu Kota, Korporate, Kampus, Komunitas, dan Kampung. Masing-masing K memiliki peran penting dalam rangka penanggulangan kemiskinan. Program yang sangat luar biasa. Saling bergandengan antar-elemen masyarakat yang setara dan menggendong yang kurang mampu, sehingga bisa meningkatkan ekonomi menuju kesejahteraan.

Gandeng Gendong menjadi modal besar untuk menghadapi pandemi. Asalkan peka terhadap sekeliling, ide selalu muncul. Pandemi Covid-19 memunculkan banyak kepedulian. Pun di sekitar kita yang terkadang, luput dari perhatian. Di tengah banyaknya keluhan keterpurukan sosial dan ekonomi, kepedulian dan kegotongroyongan menjadi modal utama untuk bangkit dan kembali berdiri.

Empat Model

Dalam rangka mencegah tumbuhnya cluster kemiskinan baru, masyarakat mulai bergerak melakukan ‘kebangkitan ekonomi ala kampung’. Begitu kami menyebutnya. Muncullah pasar-pasar ekonomi di dalam kampung. Setidaknya, saat ini ada empat model kebangkitan ekonomi ala kampung yang muncul.

Pertama, di Kelurahan Gunungketur, Kecamatan Pakualaman. Kebangkitan ekonomi kampung dilakukan melalui Warung Edukasi Omah Kreatif Loedji 16 (Warsimah), di mana warung kuliner dengan edukasi life skill digabung. Warsimah lahir dari pengembangan relawan mengajar.

Warsimah ternyata mampu menampung tenaga kerja lokal, chef yang dirumahkan sementara, bartender yang sepi orderan, dan kasir dari warga terdampak. Selain itu, menampung puluhan warga sekitar yang menitipkan berbagai jenis olahan rumah tangganya.

Kedua, Kelurahan Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo. Kebangkitan ekonomi ala kampung yang mereka lakukan adalah dengan mendirikan Minimart 55 melalui gerakan Gelar Gulung, akronim Gerakan Guyub Rukun Lumantar Lung Tinulung.

Selain menampung tenaga kerja dan memasarkan produk masyarakat setempat dengan modal swadaya, Minimart 55 memiliki ATM (Anjungan Tolong Menolong). Masyarakat terdampak Covid-19 yang telah terdata bisa mengambil kebutuhan pokoknya setiap hari secara gratis, sesuai kebutuhan mereka.

Ketiga, Angkringan Wista Kelurahan Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan, yang dikelola muda-mudi. Angkringan yang didirikan di ruang terbuka publik milik Pemerintah ini murni pemberdayaan. Dengan modal awal Rp800 ribu dari hasil penjualan sampah plastik dan kertas, ditambah kas kelompok muda-mudi, mereka mampu menggerakkan ekonomi kampung.

Setidaknya, ada 15 rumah tangga yang setiap hari menitipkan olahan rumahannya. Ada lebih dari 30 jenis makanan. Kini, setiap hari, ada perputaran uang di masyarakat bawah dan tentu akan mencegah tumbuhnya cluster kemiskinan baru di wilayah tersebut.

Bentuk usaha kebangkitan ekonomi kampung keempat yakni Cafe Lorong di Kelurahan Keparakan, Kecamatan Mergangsan. Dengan branding Kampung Kuliner, warga memanfaatkan potensi yang ada. Gang-gang sempit ditata sedemikian rupa, dibuat mural tiga dimensi, dan dihias berbagai tanaman warna-warni. Masyarakat lalu menjual masakan olahannya di lorong-lorong rumah mereka. Untuk meningkatkan kualitas produk, mereka menggandeng chef hotel, juga pihak kampus.

Mari terus bergerak bersama. Mari mewujudkan kepedulian dalam gerakan nyata. Mari bergandengan dan bergendongan untuk Indonesia. Bagaimana dengan kampungmu?