Merdeka Belajar ala UNU Yogyakarta

Kampus merdeka. UNU YOGYAKARTA

Hampir tiga bulan yang lalu, saya menulis tentang pentingnya ‘laboratorium sosial’ yakni kolaborasi kampus dan masyarakat yang pada kadar tertentu berhasil dijalankan oleh Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta.

Bukan hanya itu, masih dari sumber yang sama—Rektor UNU Yogyakarta, Prof Purwo Santoso—beberapa tahun sejak berdirinya, konsep pembelajaran kampus UNU Yogyakarta ternyata gayung bersambut arahan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Seperti diketahui, setelah dilantik, Menteri Nadiem mengamanatkan pada pendidikan dasar, menengah, dan tinggi untuk menjalani skema yang ia sebut sebagai ‘merdeka belajar’.

Sementara filosofi diselenggarakannya pendidikan UNU Yogyakarta dari awal memang dirancang dengan spirit yang kurang lebih sama. Fondasi pembelajarannya adalah prinsip belajar mandiri, sebagaimana terjadi dalam tradisi pesantren. Harapannya, lulusan pertama akan menjadi showcase bahwa UNU Yogyakarta yang relatif masih baru didirikan ternyata tidak kalah update.

Merdeka belajar yang dimaksud tentu saja penuh tanggung jawab. Kemerdekaan untuk memastikan learning process dan bukan sekadar teaching. Kalaulah ada kemerdekaan belajar bukan berarti meninggalkan guru.

Mengapa UNU Yogyakarta berani mengaku sebagai ‘kampus merdeka belajar’?

Merdeka belajar itu filosofi belajarnya learning, pembelajarannya bertumpu pada mahasiswa dan bukan dosen, serta proses pembelajaran didedikasikan untuk mencapai capaian pembelajaran atau learning outcome.

Untuk menandai capaian pembelajaran yang jelas, seluruh program studi UNU Yogyakarta memberlalukan sistem blog. Selama ini, terutama di kampus kedokteran, konsep blog diberlakukan. Apa pun mata kuliahnya, yang penting learning outcome-nya disepakati, sehingga proses belajar lebih inovatif, kontekstual, serta bisa dikaitkan dengan berbagai hal dan tidak terpagari oleh judul-judul mata kuliah.

Semester pertama, kurikulum yang mengintegrasikan berbagai mata kuliah didedikasikan untuk mempersiapkan mahasiswa sebagai pelaku aktif dalam proses pembelajaran dan karakter keilmuan yang ditandai dengan kesungguhan untuk menutup ilmu dan cara kerjanya pun lebih fleksibel.

UNU Yogyakarta memiliki kultur akademik yang sangat luhur, sangat tinggi derajatnya, dan menghasilkan kultur santri. Hal tersebut telah berabad lamanya dipelihara di negeri ini. Namun, karena satu dan lain hal maka kultur dan tradisi santri itu terpojok kemudian hanya bertahan di desa-desa dan hasil pendidikannya dilihat sebelah mata oleh pemerintah.

Spirit utama UNU Yogyakarta adalah menjembatani kultur akademik nilai-nilai keilmuan yang tinggi serta acuan keilmuan kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi praktik kebudayaan yang harus dikontekstualisasikan dengan kegiatan-kegiatan yang mungkin saja baik, tetapi harus tetap dikaitkan dengan nilai-nilai luhur, sehingga apa yang datang dari luar negeri tidak harus dengan serta merta ditolak dan apa yang dimiliki tetap menjadi acuan penting.

UNU Yogyakarta berkomitmen mengkontesktualisasikan hal-hal yang diakui luhur, tapi belum dioperasionalkan secara saksama. Karena kegagapan atau kegagalan kontekstualisasi, kita sering salah tingkah atau terjebak, sehingga berbagai hal dapat dibicarakan kontekstual dan sensitif terhadap perkembangan baru menjadi tantangan yang sifatnya inheren. Secara kontekstual, syaratnya.

Mengkader Profesional

Landasan penting pendidikan merdeka UNU Yogyakarta adalah mandat penyelenggaraan pendidikan untuk menempa dan mengkader profesional. Untuk pengkaderan itulah maka proses pembelajaran berbasis mahasiswa menjadi keniscayaan. Mahasiswa harus bisa menjembatani tradisi dan situasi luar, juga antara yang baru dan yang lama.

Dalam rangka menyelenggarakan pendidikan yang bermotif kader, orientasi UNU Yogyakarta bukan untuk menghasilkan tenaga kerja. Amanat kaderisasi sangatlah berat. Terlebih, kaderisasi sangat diperlukan, karena kekuatan UNU Yogyakarta ada pada jamaah, sementara tata kelola jamaah memerlukan kader-kader professional untuk bisa mengembangkan UNU di masa depan.

Kalaulah ada perbedaan antara Merdeka Belajar-nya Menteri Nadiem dengan UNU Yogyakarta adalah pada penekanannya. Menteri Nadiem mengajak peserta didik untuk merdeka belajar supaya menjadi pelaku usaha industri, sementara UNU Yogyakarta adalah pelaku pemberdayaan jamaah.

Kearifan yang selama ini ada dalam strategi berpikirnya Menteri Nadiem bisa diperkuat dengan kekuatan analisis infomasi berkekuatan big data, sehingga ada jalan keluar bagi semua persoalan bangsa Indonesia.

Untuk mewujudkannya, konsep operasional yang disebut UNU Yogyakarta, ‘kampus merdeka’, yakni laboratoium sosial. Laboratoium sosial yang hadir untuk menyikapi keadaan, bukan berkantor di mana.