Pertanian Perkotaan, Solusi Ketahanan Pangan Saat Pandemi

Kebun Buah dan Sayur Purbayan. HANANG WIDIANDHIKA

Bumi kita tidak bertambah luas, tetapi jumlah penduduknya semakin banyak. Jumlah tersebut akan semakin bertambah dan terus bertambah seiring dengan angka pertumbuhan penduduk sebuah negara.

Mengacu pada data real time penduduk di dunia yang dilansir Worldometer, populasi manusia di dunia sampai hari Minggu (25/10/2020) sebesar 7,8 miliar. Negara dengan populasi terbanyak adalah Tiongkok (1,4 miliar), disusul India (1,36 miliar), Amerika Serikat (334 juta), dan Indonesia (268 juta).

Pernahkah kita berpikir, dari manakah sejumlah 7,8 milar manusia di bumi memperoleh kecukupan pangan? Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia yang ada di bumi membutuhkan makan, sedangkan untuk mencukupi kebutuhannya, kita butuh lahan untuk menanam atau memelihara sumber pangan.

Dengan terus bertambahnya populasi manusia, jumlah pangan yang dibutuhkan dan harus dihasilkan pun lebih banyak. Artinya, jumlah lahan yang dibutuhkan untuk menanam semakin banyak pula.

Kenyataan yang terjadi sekarang, jumlah lahan pertanian justru semakin menyempit setiap tahun, serta bergeser fungsinya menjadi lahan pemukiman, industri, dan jasa usaha. Jika dulu kita dengan mudah menemukan hamparan padi menghijau di sepanjang jalan, kini sudah banyak ditumbuhi bangunan berjajar.

Data Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Yogyakarta terbaru menyebutkan bahwa luas sawah di Kota Yogyakarta saat ini hanya sekitar 52 Ha. Jumlah tersebut jauh sekali menurun dibandingkan pada tahun 2016, yaitu masih sebesar 101 Ha.

Dengan pertambahan jumlah manusia dan berkurangnya lahan pertanian, pernahkah kita berpikir, bahwa pada tahun 2050 nanti bagaimana pangan kita tercukupi? Apakah beras, buah, dan sayuran masih banyak yang menjualnya? Apakah nasi kucing masih semurah sekarang?

Banyak ahli yang memprediksinya dengan mempertimbangkan pertumbuhan penduduk seperti sekarang dan terus berkurangya lahan menanam setiap tahun bahwa pada tahun 2050, jelas akan terjadi persaingan yang ketat mengenai penggunaan lahan. Manusia akan berpikir secara selektif untuk menggunakan lahan sebagai tempat tinggal atau sebagai lahan penghasil pangan.

Pandemi Covid-19 di Indonesia sejak awal Maret lalu dapat semakin menyadarkan kita, sudah saatnya memikirkan kecukupan kebutuhan pangan lebih serius. Dalam hal ini, kita mengenal istilah ‘ketahanan pangan’ (food security) yang diartikan sebagai ketersediaan pangan dan kemampuan masyarakat di dalam wilayah itu untuk memperolehnya.

Ketahanan pangan sebuah wilayah sangat bergantung pada bagaimana wilayah tersebut memperoleh ketersediaan pangan yang cukup. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan pangan adalah dengan meningkatkan budidaya dan sistem pertanian, salah satunya dengan adanya sistem pertanian perkotaan.

Pemanfaatan Ruang Minimalis

Pertanian perkotaan (urban farming) merupakan sebuah upaya pemanfaatan ruang minimalis yang terdapat di perkotaan agar dapat menghasilkan produksi pertanian. Produksi ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, kenyamanan hidup di tengah polusi udara perkotaan dan menghadirkan nuansa estetika di pemukiman perkotaan.

Pertanian kota umumnya dilakukan untuk menghasilkan pendapatan atau makanan untuk kebutuhan hidup, meskipun dalam beberapa komunitas dorongan utamanya adalah untuk hobi, rekreasi, dan relaksasi. Dalam mendukung ketahanan pangan, sistem pertanian kota memberikan kontribusi dalam dua cara. Pertama, meningkatkan jumlah makanan yang tersedia bagi orang yang tinggal di kota. Kedua, memungkinkan sayuran segar, buah-buahan, ikan, dan daging, tersedia untuk konsumen perkotaan.

Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan telah melakukan serangkaian program untuk membawa pertanian perkotaan sebagai cara untuk meningkatkan ketahanan pangan yang dipadukan dengan nilai keindahan lingkungan (estetika), pembelajaran (edukasi), dan wisata. Program yang dilakukan berupa menanam di tembok (nanduri tembok), lorong sayur, kampung sayur, dan pemeliharan lele sistem padat tebar di pekarangan rumah (lele cendol).

Pertanian perkotaan (urban farming) memaksimalkan fungsi pemanfaatan lahan pekarangan yang terdapat di perkotaan agar dapat menghasilkan produksi pangan dalam rangka memenuhi ketersediaan pangan, mulai dari tingkat rumah tangga.

Dalam konteks lokal kemandirian pangan kita mengenal karakter kearifan lokal yang sudah diterapkan oleh masyarakat Jawa sejak dahulu, tapi tetap relevan pada kondisi pandemi saat ini, yaitu tradisi pertanian nandur opo sing dipangan lan mangan opo sing ditandur atau istilah globalnya grow what you eat and eat what you grow.

Walaupun warga Kota Yogyakarta bukanlah petani murni, namun antusiasme masyarakat dalam melaksanakan program ini tampak melalui banyaknya warga yang menanam sayuran di setiap pekarangan rumah. Tidak heran, sekarang kita dapat menjumpai di setiap gang dan lahan kosong di Kota Yogyakarta ditanami aneka sayuran. Warga semakin merasakan manfaatnya saat terjadi pandemi seperti ini, karena kebutuhan rumah tangga bisa tercukupi hanya dari pekarangan sendiri.