Terima Bantuan Pemerintah, Mengapa Banyak UMKM Tetap Tumbang?

Peresmian Galeri Lestari Pusat UMKM Kulon Progo oleh Bupati Kulon Progo, Sutedjo, Senin (9/10/2020), di Rumah Makan Pondok Lestari, Jalan Tentara Pelajar No. 44, Wates. DINAS KUKM KULON PROGO

Di tengah wabah Covid-19 seperti saat ini, usaha mikro kecil menengah (UMKM) adalah pelaku usaha yang terus berjuang untuk bertahan menembus persaingan antar-sesama UMKM, dengan pelaku usaha besar bahkan dengan produk-produk impor yang banyak membanjiri pasar Indonesia.

Triliunan dana sudah digelontorkan oleh pemerintah agar mampu membuat UMKM bertahan, mulai dari kredit murah hingga bantuan langsung tunai UMKM. Namun, semua jenis bantuan tersebut ternyata tidaklah berdampak signifikan pada perbaikan daya juang UMKM.

Laporan Kamar Dagang Indonesia (KADIN) menyatakan sekitar 30 juta UMKM telah tumbang di masa Covid-19. Sungguh jumlah yang tidak sedikit. Namun kenyataannya, UMKM terus berjuang untuk bisa bertahan melampaui masa-masa sulit.

Mengapa banyak UMKM tumbang, padahal bantuan sudah diberikan oleh pemerintah?

Ada beberapa hal menarik yang perlu diperhatikan dalam urusan UMKM agar bantuan pemerintah benar-benar tepat dan bermanfaat. Hampir semua usaha membutuhkan bantuan modal. Namun, apakah modal yang menjadi utama? Tentu saja tidak. Banyak hal hal yang belum disentuh oleh pemerintah terkait upaya penyelamatan UMKM, baik di masa normal maupun di masa krisis. Salah satunya adalah branding.

Belum banyak UMKM yang mengenal branding, apalagi mempraktikannya. Padahal, branding sangatlah penting bagi sebuah usaha, terlebih jika harus bertarung dengan menggunakan media sosial sebagai wahana pemasaran. Media sosial adalah wahana di mana UMKM akan bertemu dengan usaha sejenis bahkan mungkin memiliki nama yang sama, produk yang sama, harga yang sama, sehingga menyulitkan UMKM untuk menemukan para konsumennya.

Di tengah kesulitan untuk menembus pasar yang sudah dipenuhi oleh kompetitor, baik kecil, menengah, atau besar, UMKM memerlukan pendekatan yang sangat luar biasa dalam membuat sebuah brand agar produknya dikenal oleh masyarakat sebagai produk yang memiliki nilai lebih.

Banyak sekali perbedaan antara produk yang memiliki brand dan tidak. Produk dengan brand tertentu akan lebih mudah untuk dikenali di pasar, memiliki daya tarik lebih, serta memiliki tingkat kepercayaan tersendiri. Namun, semua hal tersebut sangat jarang dilakukan oleh para pelaku UMKM.

Nama Saja Bukanlah Brand

Para pelaku UMKM beranggapan bahwa sebuah logo itu adalah sebuah brand. Sebuah nama produk dianggap sebuah brand. Hal yang dipikirkan pertama kali saat membuat produk pun adalah apa nama atas produknya atau apa logo atas produknya. Apakah hal tersebut tidak boleh dianggap sebagai sebuah brand?

Brand bukanlah sebuah sebuah nama atau sebuah logo. Brand adalah sebuah tempat di pikiran dan di hati para pelanggan tentang sebuah produk dengan logo, nama, bahkan tagline.

Sebuah brand seperti Indomie, misalnya, melalui sebuah proses panjang kemudian bisa dikenal oleh konsumen, sehingga sampai saat ini Indomie memiliki tempat tersendiri di pikiran dan hati para penikmatnya, meskipun begitu banyak deraan yang harus dihadapi, baik yang dilakukan oleh kompetitor maupun oleh masyarakat sendiri.

Karena pentingnya brand, pemerintah dan para pemerhati UMKM alangkah lebih baiknya lebih peduli untuk menghadirkan produk-produk UMKM yang telah memiliki brand dan berizin sebagai hasil kekayaan intelektual. UMKM pun tidak lagi ragu dan takut untuk memasarkan produknya di pasar, karena telah memiliki brand yang sudah legal.

Di samping itu, UMKM telah melampaui setidaknya 15 langkah untuk terciptanya sebuah produk yang layak bagi masyarakat, yakni product, market category, competitors, segmenting, targeting, DNA, added value, new category, barrier to entry, brand positioning, brand personality, name, logo, slogan, experience.