Pemda DIY Dorong Penambahan Tempat Tidur di Rumah Sakit

 

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X dorong adanya penambahan tempat tidur di Rumah Sakit untuk melayani pasien covid-19. (Foto: Pemda DIY)

Danurejan-Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mendorong adanya penambahan tempat tidur di Rumah Sakit untuk melayani pasien covid-19.

“Penambahan tempat rumah sakit ini diprioritaskan untuk pasien dengan kriteria sedang-berat dan berat,” tegasnya di Gedung Pracimasana, Kompleks Kepatihan.

Selain mendorong penambahan tempat tidur di rumah sakit, Gubernur DIY juga mendorong pemerintah di kabupaten/kota untuk menggerakkan adanya shelter yang dapat memfasilitasi pasien ringan maupun OTG.

Harapannya, dapat mengurangi penuhnya tempat tidur di rumah sakit. Ia menambahkan agar kabupaten/kota mampu memaksimalkan tempat untuk isolasi mandiri dengan mengupayakan melalui anggaran darurat yang dimiliki.

Tidak Semua Pasien Dirawat di RS

Direktur RSUP dr. Sardjito Rukmono Siswishanto menjelaskan dari 6-8 pasien terindikasi covid-19 di IGD, tidak semua perlu dirawat di RS karena kondisinya ringan atau tidak bergejala.

“Jadi bukan tidak bisa terima pasien, tapi tempat tidur diprioritaskan untuk pasien kondisi berat dan critical,” jelasnya.

Pihaknya juga telah menggunakan SISRUTE yakni Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi yang terkoordinasikan dengan seluruh rumah sakit dalam konteks pelayanan covid maupun non covid, sehingga lebih mudah dan cepat dalam menangani pasien. Terutama untuk pasien ibu bersalin maupun emergency yang memerlukan operasi.

Ia menambahkan RSUP dr. Sardjito memiliki 75 ruang dengan 27 bed covid pasien kritis/ICU yang akan dieskalasi menjadi 200-300 dengan konversi ruangan.

Upaya ini akan dimulai bertahap dari Senin dengan menambah menjadi 150 tempat tidur dan akan ditingkatkan dua minggu kemudian menjadi 300 tempat tidur.

Selain penambahan tempat tidur, tambahnya, problem yang dihadapi RS adalah ketersediaan SDM.

Senada dengan hal tersebut, RSUP Hardjolukito juga sudah memaksimalkan ruangan untuk pelayanan covid dengan membangun ruangan khusus isolasi sebanyak 40 tempat tidur, namun jumlah perawat untuk layanan tersebut belum memadai.