Tiga Jalur Baru Trans Jogja Genapi Target Trayek 25 Kecamatan di DIY

Dinas Perhubungan DIY melakukan penambahan tiga koridor jalur Trans Jogja. (Foto: Pemprov DIY)

Danurejan-Sebagai upaya menghidupkan kembali angkutan desa di Kabupaten Sleman, Dinas Perhubungan DIY melakukan penambahan tiga koridor jalur Trans Jogja yakni jalur Godean, Ngaglik, dan Ngemplak melalui Program Buy The Service (BTS). Dengan program ini, maka seluruh target cakupan wilayah Trans Jogja sebanyak 25 kecamatan telah terselesaikan.

Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X mengatakan bahwa peluncuran jalur baru ini merupakan bentuk komitmen Pemda DIY dalam penyelenggaraan Angkutan Umum dalam melayani pergerakan masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran Bus Trans Jogja di Yogyakarta sejak tahun 2008, yang merupakan bentuk reformasi sistem angkutan umum yang semula berbasis setoran menjadi sebuah sistem subsidi yang bernama BTS atau pembelian pelayanan.

Seluruh armada pada trayek pengembangan ini tergolong sangat modern karena menggunakan teknologi tinggi berbasis teknologi infomasi dan telematika, seperti blackbox yang merekam perjalanan bus, Global Positioning System, beberapa kamera CCTV di dalam kabin, alat pengontrol pramudi, alat penghitung penumpang secara otomatis.

“Ini juga sejalan dengan skema pengembangan transportasi di DIY yang terus mengembangkan apa yang disebut dengan Intelligent Transport System atau sistem transportasi yang cerdas,” tutur Sri Paduka.

Sementara itu Plt. Kepala Dinas Perhubungan DIY, Ni Made Dwi Panti Indrayanti menyampaikan bahwa pengadaan jalur baru ini memungkinkan lahirnya kerjasama dengan sekolah-sekolah yang ada di wilayah Sleman.

“Kami akan mengkaji kembali, supaya siswa-siswa sekolah, terutama yang sekolahnya dilewati jalur Trans Jogja, dapat memanfaatkan bus Trans Jogja untuk pergi dan pulang sekolah. Hal ini untuk meminimalisir penggunaan kendaraan bermotor bagi siswa yang belum cukup usia,” jelas Made, sapaannya.

Tarif Baru

Saat disinggung mengenai tarif yang diberlakukan, Direktur PT. Jogja Tugu Trans Agus Andrianto mengaku saat ini masih menunggu usulan dan Kementerian Perhubungan RI. “Belum ada keputusan, masih menunggu, apakah sama ataukah tarif tertentu. Namun dari sisi infrastruktur, alat untuk cek tiket dan sebagainya, kami sudah siap,” ungkap Agus.

Ia menambahkan bahwa tingkat keterisian bus Trans Jogja sendiri masih berada di masa transisi dan perkenalan. Agus berujar, “Kami menggunakan Automatic Passenger Count yang diaktifkan sejak 1 Oktober 2020. Hingga 27 Desember 2020 kemarin, load factor-nya sekitar 18,27 persen,”katanya

Terkait dengan minat masyarakat, Agus mengutarakan bahwa masyarakat masih dalam tahap adaptasi. “Masih sight seeing, artinya belum menjadikan sebagai prioritas utama dalam berkendara,”ulasnya.

Menurut Agus, jalur yang paling banyak diminati adalah jalur Ngaglik, terutama di atas jam 2 siang. “Mungkin karena jalur ini melewati RS Panti Rapih dan RSUP Sardjito. Jadi banyak dimanfaatkan masyarakat yang biasanya menyewa bus untuk membesuk orang sakit,” ulasnya.

Di samping itu, mengingat pandemi masih terjadi, Agus memastikan bahwa protokol kesehatan senantiasa diterapkan di dalam bus Trans Jogja. “Di dalam bus, penumpang wajib bermasker. Kalau tidak membawa, dari operator menyediakan secara gratis. Penumpang juga masuk melalui pintu yang sudah disediakan cairan penyanitasi tangan. Tahun 2021, kita akan mulai memakai teknologi plasmacluster di AC untuk memberi pengamanan kepada penumpang karena fungsinya memastikan suhu stabil sesuai standar,” tukas Agus.

Add Comment