Candi Sambisari, Wisata Candi Bawah Tanah

Candi Sambisari adalah salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi jika anda berlibur di Yogyakarta.(Foto: instagram.com/sky_high36)

Candi Sambisari adalah salah satu objek wisata yang wajib dikunjungi jika Anda berlibur di Yogyakarta. Lokasi candi ini berada di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kepanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dari pusat kota Yogyakarta, jaraknya 15 kilometer ke arah timur laut.

Candi ini sendiri merupakan candi Hindu beraliran Syiwa yang diperkirakan dibangun pada awal abad ke-9 oleh Rakai Garung, seorang Raja Mataram Hindu dari Wangsa Syailendra.

Candi ini juga unik dengan hanya memiliki satu candi utama dan terdapat beberapa candi pendamping. Pada bagian sisi luarnya juga terdapat relung Patung Durga Mahisasiramardini, Ganesha, Agastya, Mahakala, dan Nandiswara.

Bagi wisatawan yang tertarik mengunjungi candi ini harga tiketnya masuknya pun tidak mahal, hanya dengan Rp 5.000 untuk turis lokal dan Rp 10.000 untuk wisatawan asing.

Pengunjung dapat menikmati wisata Candi Sambisari ini baik dari atas maupun dari bawah. Jika pengunjung ingin melihat bentuk dari keseluruhan candi maka pengunjung cukup melihatnya dari atas.

Namun jika ingin melihat dengan jarak dekat pengunjung harus menuruni puluhan anak tangga hingga mencapai bawah.

Komplek candi terdiri dari 1 buah candi induk dan 3 buah candi pendukungnya. Terdapat juga 8 buah lingga patok yang tersebar sesuai penjuru arah mata angin. (Foto: Instagram.com/isnansholeh)

Masuk Kawasan Candi

Komplek candi terdiri dari 1 buah candi induk dan 3 buah candi pendukungnya. Terdapat juga 8 buah lingga patok yang tersebar sesuai penjuru arah mata angin.

Sepintas candi ini tampak seperti sebuah kastil di tengah taman. Karena sekeliling candi ini dihiasi rerumputan hijau yang tertata rapi bagaikan taman di halaman kerajaan dengan candi di tengah sebagai pusatnya.

Saat menaiki tangga pintu masuk candi induk, wisatawan akan menjumpai hiasan berupa singa yang ada didalam mulut makara (hewan dalam mitologi Yunani). Setelah menaiki tangga kamu akan menemukan selasar selebar kurang lebih 1 meter.

Di sisi utara terdapat arca Dewi Durga yang merupakan istri dari Dewa Syiwa, dengan 8 tangan yang masing-masing menggenggam senjata. Kemudian di sisi timur terdapat arca Ganesha dan di selatannya terdapat arca Agastya dengan tasbih yang dikalungkan di lehernya.

Di dalam bilik utama candi induk terdapat lingga dan yoni. Keberadaan lingga dan yoni ini menegaskan bahwa candi ini dipakai sebagai pemujaan Dewa Syiwa. Keluar dari bangunan candi utama, di sisi barat kamu akan dapat melihat ketiga candi pendamping.

Selain bangunan utama candi dan areal tamannya, di kawasan Candi Sambisari ini juga terdapat museum mini yang berisikan informasi mengenai sejarah penemuan hingga eskavasi candi tersebut.

Di dalam museum terdapat beberapa batuan, arca, juga foto-foto yang menggambarkan kondisi sebelum candi ditemukan yang sebelumnya berupa areal persawahan. Lalu ada juga foto-foto mengenai proses penggalian dan rekonstruksi Candi Sambisari yang berjalan selama puluhan tahun.

Candi ini merupakan salah satu candi yang cantik yang berada di Yogyakarta, yang ramai dikunjungi wisatawan untuk liburan, refreshing atau sekedar untuk berfoto ria.

Ketika berkunjung di candi Sambisari ada baiknya memilih waktu yang tepat, seperti ketika pagi hari disaat udara masih segar, mata akan disuguhkan dengan panaroma bukit-bukit yang tampak hijau, dan sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, karena saat itu anginnya yang semilir membuat kita nyaman untuk berlama-lama disana.

Selama masa pandemi, petugas disana menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Mulai melakukan pengecekan suhu tubuh dengan batas tertentu, mewajibkan pengunjung mencuci tangan dengan sabun secara berkala, memakai masker, hingga menjaga jarak dengan pengunjung lainnya.

Setelah memanjakan mata dengan keindahan yang dimiliki Candi Sambisari, kini saatnya berwisata kuliner dengan semangkuk saoto olahan Mbah Katro. Berada tak jauh dari kompleks Candi Sambisari, warung saoto Mbah Katro ini telah terkenal dengan kelezatannya.

Saoto ini terbuat dari daging sapi, namun uniknya disini soto dihidangkan dengan menggunakan batok kelapa atau tempurung kelapa. Hal tersebut dipercaya menambah cita rasa dari saoto Mbah Katro. Selain itu, kamu juga bisa menikmati berbagai macam lauk seperti sate usus, sate telur puyuh, tempe, dan lain sebagainya. Kamu dapat menikmati semangkuk saoto ini di lesehan atau saung-saung bambu yang terletak tepat di pinggir sawah