Jelajah Pasar Kotagede

Suasana aktifitas pasar Kotagede di pagi hari. (Foto: Hanang Widiandhika)

Pasar Kotagede yang masih eksis hingga saat ini menurut beberapa sumber sejarah diketahui telah ada sejak zaman Ki Gede Pemanahan. Pasar yang dikenal dengan sebutan Pasar Gede atau Sargede tersebut dibangun terlebih dahulu pada saat Ki Gede Pemanahan akan membuka sebuah kota di atas hutan Mentaok.

Keputusan untuk membuka pasar terlebih dahulu dinilai banyak orang sebagai keputusan yang sangat tepat, karena pasar merupakan jantung perekonomian. Keberadaan pasar menggeliatkan perdagangan, sehingga kota menjadi tumbuh dan berkembang pesat, ramai dan makmur.

Meskipun telah beberapa kali mengalami pemugaran, namun letak Pasar Gede tidak berubah sejak jaman Mataram. Pasar Kotagede merupakan bagian dari konsep Catur Gatra Tunggal, yang berarti empat tempat atau wahana menjadi kesatuan tunggal.

Keempat tempat tersebut terpisah oleh koridor jalan-jalan namun merupakan satu kesatuan. Keempat tempat atau wahana tersebut meliputi pasar sebagai pusat perekonomian, alun-alun sebagai pusat budaya masyarakat, masjid sebagai pusat peribadatan, dan keraton sebagai pusat kekuasaan.

Menurut sumber sejarah diceritakan bahwa Kotagede adalah sebuah kota lama dari abad ke-16 yang pernah menjadi ibukota Kerajaan Mataram Islam. Kotagede didirikan oleh Ki Gede Pemanahan.

Bumi Mataram diperoleh Ki Gede Pemanahan ketika bersama Ki Penjawi berhasil menumpas kerusuhan Pajang yang dipimpin oleh Arya Penangsang. Atas keberhasilannya tersebut, Raja Pajang, yaitu Sultan Hadiwijaya memberikan hadiah kepada Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi berupa tanah di Pati dan Mataram.

Ki Gede Pemanahan memilih Mataram yang pada waktu itu masih berupa hutan. Setelah menerima bumi Mataram, Ki Gede Pemanahan menjadi penguasa daerah tersebut dan kemudian bernama Ki Gede Mataram atau Ki Ageng Mataram. Beliau mempunyai putra yang bernama Sutawijaya, yang diangkat menjadi anak angkat Sultan Hadiwijaya di Pajang.

Sutawijaya dikenal dengan nama Ngabehi Loring Pasar. Nama tersebut kemungkinan besar menunjukkan bahwa tempat tinggal Sutawijaya berada di sebelah utara (lor) pasar. Kondisi yang digambarkan di atas menjadi semacam bukti terhadap keberadaan pasar Kotagede yang sudah ada dan dibicarakan sejak masa Ki Gede Pemanahan.

Kuliner Khas Yogyakarta

Ada satu hal yang tak boleh terlewat saat berkunjung ke pasar Kotagede ini, yaitu berburu jajanan pasar. Di pasar ini ada beberapa menu tradisional yang dijajakan, di antaranya mangut lele, ayam goreng bacem, buntil talas, buntil ketela, pecel, gudangan, bakmi pentil (mie dari singkong), cap cay, rica-roca ayam, rica-rica koyoran daging sapoi, oseng-oseng kikil, sambal goreng, dan lain-lain. Sedangkan jajan tradisional, seperti putu, cenil, klepon, tempe jadah, wajik ketan juga tersedia.

Para penjual jajanan ini umumnya membuka lapak di depan dan samping pintu masuk, namun tak jarang juga bisa kita lihat ada yang berjualan di dalam. Karena jajanan khas saat ini semakin jarang ditemui penjualnya, maka ini adalah moment yang tepat untuk bernostalgia sedikit, menikmati jajanan yang bisa mengingatkan kita akan masa kecil dulu.

Aktifitas di pasar Kotagede dapat dilihat mulai dari pagi hari sehabis subuh, biasanya pasar ini sudah ramai dipadati penjual sayur. Waktu yang tepat untuk berkunjung ke pasar Kotagede ini tentu saja saat pagi hari, karena saat di pagi hari kamu bisa berbelanja lebih leluasa.

Selain lauk pauk, ada juga penjual minuman seperti wedang ronde, aneka gorengan sepertri tahu, tempe, bakwan, pisang goreng hingga ubi goreng.

Sedangkan di pojok timur pasar juga ada menu sate kambing dan sate sapi dengan bumbu sayur lodeh dan ketupat.

Untuk harga bervariatif mulai dari Rp 1.000 – Rp 10.000. Pecel atau gudangan cukup Rp 3.000. Sedangkan gorengan seperti tahu, tempe, gembus Rp 2.000 per 3 buah.

Bagi penghobi fotografi, pasar Kotagede ini adalah salah satu spot yang tak boleh terlewatkan dimana kita bisa menemukan salah satu wajah asli Jogja yang sebenarnya.