Kue Jadul dari Kotagede

Kue kembang waru, salah satu makanan khas dari Kotagede. (Foto: Pinterest.com)

Kotagede Yogyakarta tak hanya terkenal sebagai pusat kerajinan perak atau silver saja namun terdapat kuliner yang khas dari daerah ini yaitu kue Kembang waru.

Kembang waru ini bukan bunga yang seperti kita bayangkan namun kembang waru ini adalah kue khas dari kotagede Yogyakarta, namun bentuk kue ini memang diadaptasi dari bunga pohon waru. Konon katanya roti ini merupakan salah satu makanan tradisional.

Kue yang sudah ada sejak zaman dahulu ini kini biasa dijajakan di pasar tradisional salah satunya di pasar Kotagede Yogyakarta.

Kue kembang waru merupakan makanan khas Kotagede yang rasanya manis dan teksturnya mirip dengan bolu kering, serta memiliki bentuk bunga berkelopak delapan.

Namun seiring perkembangan jaman, kue ini menjadi semakin terjangkau oleh masyarakat luas. Meski masih jadi primadona dalam perayaan khusus, kue kembang waru sudah bukan makanan khusus raja lagi.

Kembang waru bukan sembarang jajanan, ada filosofi yang terkandung di dalamnya. Bentuk kembang waru yang berjumlah delapan kelopak bunga menandakan bahwa ibarat nasehat para pendahulu tentang delapan jalan utama atau Hasta Brata yaitu delapan jalan utama yang terdiri dari bulan, bintang, mega (awan), tirta (air), kismo (tanah), samudra, dan maruto (angin).

Hasta sendiri dalam Bahasa Jawa diartikan sebagai angka delapan dan Brata sendiri diartikan sebagai “laku” atau jalan spiritual.

Bila seorang calon atau pemimpin bersedia mengadopsi keseluruhan unsur tersebut, maka semoga ia akan menjadi pemimpin yang baik, berwibawa dan mampu mengayomi.

Kedelapan unsur dalam ilmu Hasta Brata masing-masing memiliki karakter yang khas. Bumi melambangkan sifat kaya hati yang artinya suka berderma. Air melambangkan ketenangan hati dan batin dalam menghadapi masalah. Angin melambangkan manfaat bagi orang banyak yang tak terlihat namun terasa nyata. Api melambangkan kemampuan untuk menerima semua masalah dan kesulitan sebagai bagian dari pembelajaran hidup.

Matahari melambangkan sinar harapan bagi sesama yang sedang kesulitan. Bulan melambangkan terang yang membawa rasa kesabaran ketika menghadapi masalah. Bintang melambangkan kemapanan dan ketangguhan hati serta raga, dan langit melambangkan sifat mengayomi dan melindungi semua orang tanpa pilih kasih. Delapan nilai inilah yang menjadi kunci keseimbangan dan harmonisasi antara jagat gededan jagat cilik.

Salah satu warga Kotagede sedang membuuat kue kembang waru. (Foto: Pinterest.com)

Bahan yang Digunakan

Bahan yang digunakan untuk pembuatan kue kembang waru ini adalah terigu, telur, gula, susu, vanili, dan mentega. Bentuknya pun tidak banyak yang berubah dari kembang waru.

Sementara untuk pewanginya, jika dahulu menggunakan daun pandan, maka sekarang ini menggunakan vanili. Meski demikian, rasa dan kualitasnya tetap terjaga seperti aslinya.

Setelah mencampur seluruh bahan, adonan kemudian dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk bunga yang sudah dioles mentega. Setelah itu adonan dipanggang menggunakan oven.

Pembuatan roti ini dilakukan dengan memasukkan adonan ke dalam semacam oven tradisional, cara inilah yang menjaga roti kembang waru tetap sama seperti aslinya.

Bara arang tidak hanya digunakan dibagian bawah oven saja, namun bara arang juga diletakan di atas oven. Sehingga, panas oven dapat lebih maksimal, karena sumber panas berasal dari bagian bawah dan atas, mirip seperti cara kerja oven modern.

Dulu, kue ini biasa dijual mulai dari Rp 25 dan terus mengalami kenaikan seiring berkembangnya zaman, hingga sekarang sudah mencapai Rp 3000.

Untuk mendapatkan kue ini, alangkah baiknya untuk mencari di pasar tradisional khususnya pasar Kotagede di waktu pagi hari sehingga mendapatkan kue kembang waru yang masih hangat dan lebih nikmat untuk disantap.

Beberapa wilayah Kotagede yang masih mempertahankan keberadaan jajanan ini diantaranya adalah Kampung Bumen dan Kampung Basen. Saat dimakan, roti ini begitu empuk dengan aroma yang wangi dan rasanya pun manis.

Kue ini memiliki tekstur yang cukup padat, namun masih cukup empuk dan halus ketika dikunyah. Karena teksturnya yang cukup empuk dan halus, maka roti kembang waru ini terasa cukup membal ketika dipegang.

Rasanya seperti tangan kita sedang memegang dan meremas sebuah squishy yang cukup empuk. Rasa legit pun sangat mendominasi saat roti ini dikunyah dan bersentuhan dengan lidah.

Roti kembang waru ini adalah teman yang tepat untuk waktu minum teh atau kopi di sore hari, bersama teman atau kerabat dekat.