Melintasi Kampung ‘Between Two Gates’ di Kotagede

Suasana di dalam area kampung Between Two Gates. (Foto: Lukito)

Seperti yang di ketahui, Kotagede dahulu merupakan peradaban salah satu kerajaan terbesar di Jawa, yaitu Kerajaan Mataram. Tidak heran jika kemudian wilayah ini masih memiliki sentuhan bangunan jawa klasik yang saling berjejer mengelilingi pusat kerajaan. Begitu banyak bangunan cagar budaya yang bisa kita temui di kawasan yang terletak sebelah tenggara Kota Yogyakarta ini.

Salah satunya adalah ‘Between Two Gates’, sebuah gapura kecil yang berada di bagian selatan Kotagede. Dari balik gapura terlihat samar bangunan-bangunan tua bercorakkan arsitektur Jawa yang masih sangat terpelihara keberadaannya.

Ketika Jogjadaily berkesempatan mengunjungi kampung tersebut nampak bangunan-bangunan joglo yang lengkap dengan ukiran-ukiran berserta jendela dan pintu yang lebar akan membuat orang yang pertama melihatnya akan merasa takjub.

Suasana kampung yang tenang dan damai dengan tata lingkungan rapi dan bersih membuktikan bahwa masyarakat di kampung tersebut selalu menjaga kebersihan dan selalu menjalin kerukunan dengan antar tetangga tetangga.

Keunikan di kampung yang berada di RT 37, RW 09, Kalurahan Purbayan, Kemantren Kotagede tersebut yakni ada sembilan buah joglo yang masih terjaga ke asliannya, tak hanya itu, keunikan lainnya adalah semua rumah di kampung tersebut menghadap ke selatan.

Walaupun rumah mereka menghadap ke arah selatan semua, namun setiap rumah memiliki corak ornamen yang berbeda-beda.

Setiap bangunan rumah di ‘Between Two Gates’ menunjukkan kerukunan dan keguyuban antar penduduk. Pertama, mereka bisa menggunakan pendapa sebagai tempat untuk mengadakan pengajian atau aktivitas bersama lainnya. Penduduk yang rumahnya lebih sempit bisa meminjam pendapa tetangganya.

Kedua, bangunan-bangunan induk yang berimpitan dengan bangunan tetangga satu dan lainnya dipisahkan pintu yang saling berhubungan di bangunan belakang. Semisal ada tamu dan kehabisan gula atau teh, mereka bisa meminta gula atau teh dari tetangga sebelah lewat pintu belakang tanpa mempermalukan diri di hadapan tamu. Bentuk keguyuban juga ditandai dengan dibuatnya tempat duduk dari beton di samping atau depan rumah. Bentuknya biasanya berundak di depan rumah.

Ada pula pilar penyangga yang disebut bahu danyang karena bentuknya seperti bahu orang yang tengah menyangga beban di atasnya. Bahu danyang berupa kayu yang menghubungkan dinding atau tiang penyangga dengan atap rumah.

Sementara desain rumah induk berupa teras di sisi depan, ruang lapang dengan empat pilar di sisi tengah, dan tiga ruang senthong yang disebut senthong kiwo, senthong tengen, dan senthong tengah.

Between Two Gates tampak dari depan. (Foto: ANdari Purnamawati)

Potensi Wisata

Di tempat tersebut wisatawan dapat merasakan adanya kemiripan rumah satu dengan yang lainnya, selain itu juga dapat merasakan langsung suasana dan atmosfer rumah tradisional tersebut.

Salah satu warga kampung tersebut, Wahyu mengatakan pemberian nama ‘Between Two Gates’ merupakan pemberian dari seorang peneliti dari jurusan Teknik Arsitektur UGM pada tahun 1986.

“Gang ini sebenarnya adalah ruang milik pribadi, dan karena gang ini diapit oleh gerbang pada kedua ujungnya, maka disebut dengan ‘Between Two Gates’ atau dalam bahasa Indonesia artinya berada diantara dua gerbang” kata Wahyu.

Namun, lanjutnya, warga sekitar sendiri menyebutnya gang rukunan, Gang yang memiliki lebar 1,5 meter sampai 2,5 meter tersebut membagi ke arah utara-selatan.

Wahyu berharap bangunan joglo tersebut agar selalu di rawat oleh pemiliknya, karena selain bisa memperpanjang usia pakai joglo, juga dapat menarik para wisatawan lokal maupun asing.

“Salah satu hal yang tidak dapat dilupakan dalam program penataan lingkungan adalah pemeliharaan. Tanpa adanya pemikiran tentang pemeliharaan di masa mendatang, dapat dipastikan berbagai fasilitas maupun prasarana yang dibangun tidak akan berumur panjang.” katanya.

Add Comment