Mengintip Lebih Dekat Candi Sari Kalasan

Candi sari yang berada di Kalasan ini memiliki potensi wisata yang besar dan memiliki ciri khas tersendiri. (Foto: Instagram.com/sony14)

Yogyakarta dikenal memiliki puluhan bangunan candi yang megah dan indah. Salah satu di antaranya adalah candi sari. Candi sari yang berada di Kalasan ini memiliki potensi wisata yang besar dan memiliki ciri khas tersendiri. Candi sari mempunyai potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Candi Sari sebagai salah satu wisata di Yogyakarta yang dapat menjadi andalan dan harapan positif dalam membantu kesuksesan pariwisata di Yogyakarta. Candi ini terletak di Desa Bendan, Kalurahan Tirtomartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Tetapi jika Anda masih bingung dimana lokasi atau letak objek wisata ini,kami sarankan Anda mencari dengan mengetik di google maps saja. Di google maps sudah tertandai dimana lokasi yang Anda cari tersebut.

Untuk tiket masuk candi ini bagi wisatawan nusantara hanya dikenakan biaya sebesar Rp. 5.000 per orang, sedangkan untuk wisatawan mancanegara dikenakan biaya sebesar Rp. 10.000 per orang. Untuk jam operasionalnya dibuka mulai pukul 08.00 WIB pagi sampai pukul 15.00 WIB sore.

Candi sari merupakan salah satu destinasi wisata di Kalasan yang memiliki budaya dan sejarah yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan terutama wisatawan mancanegara, karena disni wisatawan dapat mempelajari dan memahami sejarah maupun budaya yang terdapat pada candi sari.

Selain itu candi ini memberikan keindahan alam yang masih asri dan sangat terjaga. Kawasan candi ini belum tercemar polusi hal ini dibuktikkan dengan adanya angin yang sejuk yang dapat dirasakan disekitar.

Wisatawan yang berkunjung diharapkan dapat menjaga kebersihan candi seperti tidak membuang sampah sembarangan dan wisatawan dapat membuang sampah pada tempat yang sudah disediakan oleh pengelola candi.

Bagi wisatawan alangkah baiknya mengunjungi candi ini pada saat cuaca yang cerah pada musim kemarau. Adanya rerumputan hijau, pepohonan yang rindang, area persawahan milik masyarakat sekitar, dan angin yang sejuk menjadi daya tarik khas tersendiri bagi wisatawan yang datang mengunjungi candi.

Wisatawan dapat mengabadikan momen melalui kamera atau ponsel dengan latar belakang Candi Sari dan rerumputan hijau di sekeliling candi.

Selain itu candi ini memiliki banyak sudut menarik yang bisa Anda jadikan latar belakang swafoto. Anda bisa foto di depan candi, di ambang pintu yang memiliki berbagai macam motif pahatan seperti kinara kinari (manusia burung mitologi Budha), suluran, dan kumuda (daun dan bunga yang menjulur keluar dari sebuah wadah bulat).

Sebagaimana tempat wisata lainnya, Anda juga bisa menikmati wisata Candi Sari tanpa perlu khawatir kelaparan dan kehausan. Tempat ini memiliki warung makan yang siap menghidangkan menu untuk menemani santap siang spesial Anda.

Area candi juga dilengkapi dengan kamar mandi dan mushola yang bisa digunakan oleh para pengunjung. Selain itu, bagi Anda yang ingin menghabiskan beberapa hari di daerah ini, juga bisa memilih penginapan dengan harga yang paling cocok.

Sejarah Candi

Menurut Prasasti Kalasan (778 M) Candi Sari dibangun pada abad ke-8 Masehi. Pembangunan candi tersebut dipercaya berkaitan dengan candi kalasan yang berlokasi tidak jauh dari candi sari, hanya sekitar 3 kilometer. Pada Prasasti Kalasan disebutkan pula alasan dan kegunaan kedua bangunan candi tersebut.

Maharaja Tejapurnama Panangkarana atau lebih dikenal dengan Rakai Panangkaran mendapat saran dari beberapa pemuka agama Wangsa Syailendra untuk mendirikan bangunan suci dan tempat tinggal untuk pendeta Budha (vihara).

Saran tersebut direalisasikan Rakai Panangkaran saat ia menjadi raja kedua Kerajaan Mataram Hindu. Setelah diteliti, bangunan suci yang digunakan sebagai tempat pemujaan Dewi Tara saat ini bernama Candi Kalasan.

Sedangkan tempat tinggal pendeta Budha yang dimaksud adalah Candi Sari Yogyakarta. Hal tersebut diperkuat dengan struktur bangunan dan bagian-bagian candi yang menyerupai bangunan tempat tinggal. Selain itu, kedua candi yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran ini memiliki kesamaan arsitektur dan relief Hindu-Budha.

Secara keseluruhan candi sari memiliki luas bangunan sekitar 17,3 m x 10 m dengan tinggi sekitar 17m-18m dari permukaan tanah hingga puncak stupa. Tak ketinggalan bangunan candi ini dilengkapi dengan relief Hindu-Budha dan relung-relung berisi arca pada dinding candi.

Relief adalah seni pahat atau ukiran tiga dimensi pada batu yang umum dijumpai pada bangunan kuno, seperti pada candi. Keunikan candi ini adalah lapisan dinding luar bangunan candi yang diberi vajralepa atau brajalepa, semacam bahan plesteran kuno yang dimiliki pula oleh Candi Kalasan.

Candi ini memiliki 36 buah arca yang tersebar di lingkup candi tersebut, yang masing-masing berada di sebelah timur atau depan candi terdapat 8 arca, di sebelah utara terdapat 8 arca, di sebelah selatan terdapat 8 arca, dan di sebelah barat atau belakang candi terdapat 12 arca yang masing-masing arca berada dalam sikap Tribangga atau posisi memegang teratai sebagai lambang keindahan.