Menko PMK Tinjau Shelter Covid-19 di Bantul

Menko PMK Muhadjir Effendy meninjau ruang isolasi penyintas Covid-19 di Selter Gose yang disiapkan RSU PKU Muhammadiyah Bantul. PEMKAB BANTUL

Sewon-Menteri Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy mengunjungi 3 shelter di Bantul. Kunjungannya tersebut adalah untuk meninjau kesiapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro di Desa.

Dalam kunjungan pertamanya, Muhadjir Effendy sekaligus meresmikan Shelter Gose milik PKU Muhammadiyah Bantul. Shelter ini merupakan satu dari lima shelter Covid-19 yang dimiliki oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul.

Saat ini PDM Bantul memiliki 5 shelter Covid-19 diantaranya adalah gedung Aisyiah, shelter Unisa, UMY, UAD, dan Gose. Shelter-shelter yang dibangun dalam upaya untuk memutus rantai persebaran covid-19.

Muhadjir Effendy sangat mengapresiasi pendirian shelter ini, ia mengapresiasi Muhammadiyah karena telah berupaya membangun shelter bagi para penyintas Covid-19

“Saya senang sekali bisa mengunjungi salah satu shelter dari lima shelter yang dibangun Muhammadiyah, khususnya di Kabupaten Bantul, ini sangat konkrit dan sangat representative untuk menampung para penyintas Covid-19,” ungkapnya.

Menurutnya shelter tersebut telah memiliki fasilitas yang lengkap dan telah memenuhi SOP (standar operasional prosedur) Kementerian Kesehatan. Shelter Gose ini memiliki kapasitas 32 tempat tidur,

“Penatalaksanaan shelter ini sudah lengkap dari cara penerimaan, cara perawatan, dan cara pembuangan limbah akhir. Kegiatan-kegiatan pendukungnya juga telah memenuhi standar Kementrian Kesehatan,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut ia meminta masyarakat tidak menstigma negatif setiap orang terpapar Covid-19, karena akan menyulitkan petugas kesehatan dalam melakukan upaya testing (tes), tracing (penelusuran kontak), dan treatment (perawatan).

Pihaknya mengemukakan pentingnya kesadaran semua kalangan masyarakat terhadap pentingnya penanganan penularan virus tersebut.

“Karena itu jangan kemudian setiap kena Covid-19 diberi stigma jelek, karena itu justru buat kita kesulitan membongkar atau mengungkap kasus yang nyata, karena sekarang ini banyak orang ketika diminta untuk terbuka saat petugas melakukan tracing tidak jalan,” kata dia.

Ia berharap dengan keberadaan Shelter Gose ini, selain membantu kesembuhan pasien Covid-19 juga dapat dijadikan sebagai pesantren kilat atau belajar agama dalam meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa selama menjalani isolasi.

Pandemi Membuat Gotong Royong Meningkat

Lurah Wirokerten, Rakhmawati Wijayaningrum, mengatakan sejak awal corona baik warga dan desa sudah bergerak membantu satu sama lain. Desa juga membentuk satgas untuk memberikan edukasi soal corona ini. “Warga gotong royong untuk saling memberikan bantuan terutama makanan selama mereka karantina,” ujarnya.

Terlepas dari corona adalah wabah, pandemi membuat rasa gotong royong antarwarga makin erat. Di desa tersebut juga dibuat shelter. Shelter bisa digunakan pasien OTG dan bergejala ringan yang tak memungkinkan isolasi mandiri di rumah. “Kami menyediakan shelter dengan 16 kamar sebagai antisipasi,” ujarnya.

Selama pandemi corona sejak Maret lalu, tercatat sudah ada 88 orang di desa tersebut yang terpapar corona. Dari jumlah tersebut dua diantaranya meninggal dunia.