Nanggulan Potensial dalam Membangun Ekonomi Kerakyatan

Bersepeda di Kapanewon Nanggulan. (Foto: Pinterest.com/medeledetkatruk)

Kapanewon Nanggulan adalah sebuah ibu kota Kecamatan di wilayah Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang memiliki banyak potensi wisata, baik wisata alam maupun wisata kulinernya yang tentunya sangat memberikan kenyamanan kepada setiap pengunjung, baik pengunjung luar daerah, lokal bahkan wisatawan manca negara yang tentunya didampingi Guide.

Dengan adanya bandara baru di Kulon Progo yaitu Yogyakarta Internasional Airport (YIA), Kulon Progo adalah salah satu pintu masuk bagi wisatawan yang ingin berkunjung di wilayah Jogja, maka Kulon progo melakukan sebuah trobosan, salah satunya adalah trobosan dalam hal infrastruktur untuk mempermudah akses transportasi baik di wilayah DIY maupun arah Jawa tengah.

Pemerintah Kapanewon Nanggulan melalui Panewu dan jajaranya, selalu memberikan bimbingan dan pengawasan segala potensi kemajuan wilayah tersebut. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) salah satu basis ekonomi rakyat yang selalu digalakkan oleh pemerintah Kapanewon Naggulan.

Berbagai potensi di wilayah Nanggulan seperti kerajinan serat alam, dan batik menjadi produk unggulan. Selain itu kuliner Nanggulanpun tak kalah unggul, berbagai rumah makan khas pedesaan ada disini.

Para wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah dengan berlatar belakang puncak menoreh serta pertanian persawahan dengan produk lokalnya yaitu beras “menor”nya.

Nanggulan Kulon Progo memang tidak bisa dianggap sebelah mata seperti beberapa tahun lalu, yang mungkin orang tidak mengenal wilayah ini.

Sekarang para wisatawan jika melihat Nanggulan saat ini akan “Wow keren, suatu saat kami akan kembali lagi.

Launching Pronosutan Ubud e Jogja

Beberapa waku lalu juga diresmikan wisata alam baru di Nanggulan yakni “Pronosutan Ubud e Jogja”. Launching wisata alam yang sedang naik daun ini dilakukan secara simbolis dengan pemotongan pita oleh Bupati Kulon Progo, Sutedjo.

Pronosutan Ubud e Jogja sendiri menampilkan pemandangan bentang sawah yang luas serta berlatar belakang perbukitan menoreh yang menawan, bahkan ketika cuaca cerah penampakan gunung Merapi bisa terlihat jelas di sebelah utara.

Selain pemandangannya yang menyegarkan, trek di sekitar tempat ini juga cocok untuk bersepeda. Tak hanya yang sengaja bersepeda, ada pula yang datang bersama orang-orang terkasih. Mereka mengabadikan momen saat berada di tempat ini dengan berlatar belakang panorama menawan.

Nama “Ubud e Jogja” yang berarti Ubudnya Jogja sendiri digunakan karena pemandangan persawahan di Dusun Pronosutan yang berjarak sekitar 20 km dari Tugu Pal Putih Yogyakarta ini dinilai mirip dengan Ubud yang ada di Bali.

Warga sekitar Pronosutan juga menyediakan penyewaan sepeda bagi wisatawan yang tak membawa sepeda, tetapi ingin bersepeda santai di sekitar area wisata.

Tarifnya terjangkau yakni Rp 15.000 di jam pertama dan Rp 5.000 di jam kedua dan seterusnya. Namun, bonusnya para penyewa sepeda akan mendapatkan satu botol air mineral.

Setelah puas berfoto-foto di tempat tersebut, para wisatawan tak perlu takut kelaparan, karena didekat tempat ini terdapat rumah makan yang menunya adalah jajanan khas pedesaan. Seperti Geblek pari, Kopi Klotok Menoreh, Iwak Kalen, Banyu Bening, dan Gebleg Menoreh.

Rumah makan Geblek Pari ini mengusung konsep tradisional di setiap sudutnya. Dengan suasananya yang sangat teduh dan tenang, para wisatawan dapat menghabiskan waktu di tempat tersebut bersama keluarga.

Sekeliling warung juga dipenuhi pepohonan hijau yang semakin membuat asri dan ramah lingkungan. Walaupun tidak terdapat spot foto khusus, namun interior warung yang serba tradisional dan pemandangan perbukitan yang menakjubkan akan sangat pas jika anda jadikan spot untuk berswafoto.