Padi Lokal Menor Nanggulan

panen raya padi premiun varietas lokal Melati Menoreh atau Menor. (Foto: Kapanewon Nanggulan)

Wilayah Kapanewon Nanggulan adalah wilayah pertanian yang memiliki segala keunggulan, diantaranya pertanian, seperti yang telah dilakukan kelompok tani Margo Rukun Nanggulan yang pada beberapa waktu lalu telah melakukan panen raya padi premiun varietas lokal Melati Menoreh atau Menor.

Pada musim tanam pertama (September-Desember 2020), kelompok tani ini serentak menanam Padi Varietas lokal Menor. Panen ini dilakukan di lahan seluas lima hektare dengan produktivtas 8,23 ton per hektare gabah kering giling.

Ini merupakan terobosan baru bagi pemberdayaan petani demi keberlangsungan dalam mengangkat derajat dan kesejahteraan petani.

Padi Menor ini diproyeksikan sebagai beras premium dari Kulon Progo dalam rangka meningkatkan nilai tambah bagi petani karena harga tinggi.

Semoga penanaman padi menor di wilayah Nanggulan ini bisa terus berkembang dan menjadikan komoditas lokal, yang mana padi menor ini adalah padi lokal Kulon progo yang kuwalitasnya tidak kalah dengan padi-padi yang lain.

Beras menor adalah beras lokal dengan kualitas yang bagus, butiran berasnya besar, berasnya pulen, enak, dan wangi.

kelompok tani Margo Rukun juga secara bertahap sudah berusaha terus mengurangi penggunaan pupuk kimia dan beralih ke pertanian organik.

Melihat hasil panen ini, padi lokal menor ini dapat dikembangkan secara luas di Kulonprogo. Varietas padi unggulan ini dapat menjadi modal mewujudkan food security yakni termasuk swasembada pangan sehingga tidak lagi mengimpor beras dari luar negeri. Ini merupakan satu poin penting yang perlu diteladani.

Pada 2021, Pemkab Kulon Progo didukung BPTP dan BPSB memasuki tahapan pelepasan varietas, jika sudah menjadi varietas yang dilepas, pengembangannya akan lebih luas dan leluasa, dan akan mendatangkan keuntungan yang besar bagi Kulon Progo.

Beras ini juga akan segera disertifikasi tingkat nasional. Beras ini akan dijadikan varietas unggulan nasional. Sertifikasi beras Menor juga bisa menguntungkan petani dari sisi agribisnis yakni perbenihan. Jika bisa dilepas di tingkat nasional, beras Menor akan menjadi beras dengan produktivitas tertinggi di DIY.

Kopi Menoreh

Nanggulan selain unggul dari berasnya, juga unggul dari kopinya, yakni kopi Menoreh. Nama menoreh diambil dari wilayah kebun kopi yang berada di ketinggian 650 meter. Wilayah tersebut bernama Bukit Menoreh.

Untuk menghasilkan kopi di bukit menoreh memang bukan perkara yang gampang, pasalnya untuk masa panen hanya bisa didapatkan dari Juni hingga September. Terlebih, masa panennya hanya berlangsung satu tahun sekali.

Mengingat masa panen yang lama, membuat masyarakat sekitar sangat berhati-hati dalam menghasilkan kopinya. Apalagi, dalam menghidupkan kopi menoreh masyarakat tak menginginkan pestisida untuk membunuh hama. Mereka lebih memilih untuk mengolah tradisional.

Kopi disini terdapat tiga jenis dimana terdapat kopi arabika, robusta dan lanang. Untuk Arabika memiliki tingkat keasaman yang tinggi, robusta memiliki rasa yang netral. Kopi ini sangat cocok untuk mereka yang baru mengenal kopi, sedangkan Lanang merupakan perpaduan antara Robusta dan Arabika.

Ternyata, kelezatan kopi ini mendapat perhatian turis asing khususnya wilayah Eropa sebut saja Inggris, Amerika, Italia, Jerman, Rusia, Inggris, Turki, Swedia, serta Austria yang kerap menyambangi hanya untuk mencicipi kopi menoreh.