Pengembangan Cabai Rawit Prima Agrihorti

Bupati Sleman Sri Purnomo saat melakukan panen perdana cabai varietas baru yakni cabai rawit prima agrihorti di Kalasan. (Foto: Pemkab Sleman)

Pemerintah Kapanewon Kalasan bekerja sama dengan kelompok tani (klomtan) Tani Rukun mengembangkan cabai varietas baru yakni cabai rawit prima agrihorti. Dalam pengembangannya tersebut juga didampingi oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Yogyakarta.

Sebagai tahap awal cabai tersebut ditanam di lahan seluas 2000 meter milik klomtan Tani Rukun dan beberapa waktu lalu telah memasuki masa penen. Panen perdana ini dilakukan oleh Bupati Sleman Sri Purnomo.

Untuk tanam perdana di luar 2000 meter dapat menanam 2300 pohon cabai, dari jumlah itu menghasilkan tiga ton cabai. Selain untuk kebutuhan konsumsi juga untuk produksi benih, sekali petik jika dikonversi jadi benih per satu kilogram (kg) menjadi enam sachet/kemasan dengan berat sepuluh gram per kemasan.

Varietas cabai rawit Prima Agrihorti memiliki sejumlah keunggulan dibanding jenis cabai lainnya. Diantaranya ukurannya lebih besar, lebih tahan terhadap hama dan jumlah cabai pada setiap pohonnya juga lebih lebat.

Varietas cabai ini diklaim memang lebih gemuk dan lebih pedas. Satu pohon mencapai 301 biji siap petik. Untuk sistem tanam yang diterapkan adalah sistem tumpang sari cabai rawit dengan bawang merah.

Secara umum cabai rawit mengandung zat gizi yang cukup lengkap yakni kalori, protein, lemak karbohidrat, mineral (kalsium, fosfor, besi), vitamin dan berbagai zat lain yang berkhasiat obat, misalnya aleoresin, capsaicin, bioflavonoid, minyak atsiri, karotenoid (kapsantin, kapsorubin, karoten, dan lutcin). Selain itu cabai rawit juga mengandung flavonoid, anti oksidan, abu, dan setrat kasar.

Apa yang telah dilakukan oleh kelompok tani Tani Rukun patut diapresiasi. Pasalnya dengan menjual produk benih cabai, maka nilai ekonomis dari cabai tersebut akan lebih meningkat dibandingkan cabai untuk konsumsi.

Semoga langkah ini nantinya dapat semakin meningkatkan kesejahteraan para petani, khusunya petani cabai, dan Kalasan menjadi sentra cabai rawit. Pendampingan dari BPTP selama ini sangat membantu petani karena berasal dari kalangan peneliti dan penyuluh.

Pelatihan Budidaya Toga

Selain itu Kapanewon Kalasan juga kerap melaksanakan pelatihan budidaya tanaman obat keluarga (toga). Pelatihan pemanfaatan tanaman toga yang diajarkan meliputi produk tanaman jahe, jahe merah, kunyit putih, kunyit kuning hingga minuman sehat seperti temulawak atau beras kencur.

Para peserta mengaku senang karena mendapatkan beberapa cara pelatihan pengolahan untuk membuat jamu dan lain-lain yang nantinya dapat dilakukan di kemudian hari. Setelah pelatihan diharapkan para kader dapat merasakan manfaatnya.

Pemanfaatan taman obat bertujuan untuk melindungi dan meningkatkan derajat kesehatan, kesejahteraan masyarakat, serta melestarikan kekayaan hayati alam Indonesia melalui obat atau tanaman berkhasiat obat disekitar kita.

Toga memiliki banyak khasiat yang sudah terbukti untuk kesehatan dan untuk pengobatan secara alami, selain itu juga membuat halaman rumah menjadi lebih asri dan lebih sejuk.

Selain itu mengembangkan toga juga merupakan upaya untuk melestarikan kearifan lokal, metode pengobatan secara tradisional dengan memanfaatkan toga merupakan tradisi yang telah wariskan secara turun-temurun.

Pemerintah Kapanewon Kalasan akan terus menekankan pentingnya toga, kami ingin mengembangkan, membagi ilmu dan keterampilan kepada seluruh warga masyarakat Kalasan, khususnya bagi ibu-ibu PKK Desa dan PKK tingkat Kapanewon sehingga ini bisa dapat berkembang dan bermanfaat untuk masyarakat.