Peresmian Unit Pemeliharaan Ikan Hias

Fakultas Pertanian UGM melakukan panen ikan nila sekaligus meresmikan unit pemeliharaan ikan hias di Panti Asuhan Al-Muthiin. (Foto: UGM)

Banguntapan-Fakultas Pertanian UGM melakukan panen ikan nila sekaligus meresmikan unit pemeliharaan ikan hias di Panti Asuhan Al-Muthiin, Banguntapan Bantul. Panen ikan dan peresmian ini dilakukan oleh Dekan Fakultas Pertanian Jamhari bersama para pengelola Panti Asuhan Al-Muthiin.

Jamhari menjelaskan panen ikan nila ini merupakan kegiatan yang sebenarnya sudah sering dilakukan, tetapi untuk panen ikan kali ini bersamaan dengan kegiatan yang lain yaitu Peresmian Unit Pemeliharaan Ikan Hias. Unit Pemeliharaan Ikan Hias ini merupakan hasil kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Dalam kerja sama itu salah satu kegiatan dalam rangka Lustrum ke 15 Fakultas Pertanian UGM adalah budi daya ikan dengan bak fiber glass central drain dengan system resirkulasi filter vertical. Kegiatan ini sebenarnya sudah berlangsung selama 4 tahun,” katanya.

Kegiatan semacam ini, menurut Jamhari, sebagai kegiatan pengabdian masyarakat, sekaligus sebagai salah satu implementasi untuk mengembangkan socio-intreprenership dalam bidang pertanian terpadu dalam arti luas yang meliputi pertanian, perikanan dan peternakan. Ia menjelaskan dalam 9 bak dengan ukuran diameter 1,5 dibudidayakan ikan nila dan gurami.

Jenis Ikan dengan Harga Jual Tinggi

Jenis ikan yang dibudidayakan ini disesuaikan dengan kecenderungan permintaan jenis ikan yang cenderung memiliki harga jual dan memberi keuntungan cukup tinggi. Pada tahun 2017-2019 sempat diproduksi lele dan kemudian mulai tahun 2020 diproduksi nila dan gurami.

“Selain dijual untuk meningkatkan kemandirian panti asuhan hasil panen ikan juga diberikan untuk anak-anak panti dan keluarganya untuk meningkatkan gizi keluarga,” katanya.

Jamhari mengatakan budi daya ikan ini menggunakan sistem akuaphonik sehingga hasil sampingannya adalah sayuran. Cara budi daya semacam ini dinilai cocok untuk daerah-daerah padat penduduk sehingga berusaha mengoptimalkan lahan dan sumber daya air.

“Selain ikan konsumsi, untuk saat ini juga sudah dimulai memproduksi ikan hias yang mempunyai potensi pemasaran local dan internasional yang sangat besar,” terangnya.

Dalam program budi daya ikan konsumsi dan ikan hias ini, Fakultas Pertanian UGM berperan dengan memberikan bantuan dana dalam bentuk skema pengabdian pada masyarakat. Selain itu, untuk keberlangsungan budi daya ini Faperta UGM secara terus menerus melakukan pendampingan dan penerapan teknologi tepat guna.

“Pengabdian masyarakat ini terutama didampingi oleh Alim Isnansetyo dan tim. Dengan program pengabdian masyarakat yang berlokasi di satu tempat maka dapat memberikan manfaat yang lebih baik untuk masyarakat, dosen dan mahasiswa, dan mahasiswa pun dapat memanfaatkan ini sebagai fasilitas untuk penelitian, kerja lapangan dan magang,” ucapnya.

Secara khusus untuk pengembangan ikan hias ini merupakan bantuan dari Kementerian Perikanan dan Kelautan dengan pendampingan dari Departemen Perikanan, Fakultas Pertanian UGM. Pengembangan ikan hias yang dimulai di awal tahun 2021 ini diharapkan mencapai target untuk bisa mengikuti keberhasilan budi daya ikan konsumsi sebelumnya

“Lahan yang dibutuhan tidak terlalu luas, tetapi mempunyai nilai tambah yang tinggi. Hal ini tentu sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai produser ikan hias utama di dunia,” urainya.

Ditambahkannya, pengembangan industri perikanan saat ini bukan hanya terbatas pada budi daya ikan, tetapi juga pengembangan pengolahan ikan dan konservasi sumber daya alam. Terkait hal tersebut, Fakultas Pertanian UGM mempunyai desa-desa binaan di bidang perikanan.

Sebagai contoh pada tahun 2020 Prodi Akuakultur melakukan pengembangan budi daya ikan konsumsi, ikan hias dan cacing sutera di enam lokasi. Pada tahun yang sama, Program Studi Teknologi Hasil Perikanan mengembangkan produk olahan siap saji dari lele dan nila yang berbasis fish gel di Purwomartani, Kalasan; Kandang Sari, Ngaglik Sleman; dan Kalibawang Kulonprogo.

“Sementara itu, Program Studi Manajemen Sumberdaya Akuatik melakukan konservasi sumber daya ikan di sungai dan embung-embung di wilayah Yogyakarta,” imbuhnya.