Watu Gilang, Situs Peninggalan Kerajaan Mataram Islam

Situs ini tersimpan dalam sebuah bangunan kecil yang berada di tengah jalan. (Foto: Facebook/Ida Fitri)

Kotagede, Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat kerajaan Mataram Islam memiliki berbagai peninggalan situs dan artefak yang memiliki nilai tinggi, salah satunya adalah watu gilang.

Letak situs watu gilang ada di kampung Kedaton yang terletak tidak jauh di selatan Masjid Agung Mataram Kotagede atau di sebelah selatan pasar Kotagede, jika berjalan kaki akan memakan waktu sekitar 10 menit.

Situs ini tersimpan dalam sebuah bangunan kecil yang berada di tengah jalan. Watu gilang bentuknya berupa sebuah batu persegi empat berukuran 2×2 meter dengan tinggi kurang lebih 30 cm.

Pohon-pohon beringin raksasa di sekitar situs ini memberikan indikasi bahwa prasasti ini memang berumur tua. Kabarnya juga ada pohon mentaok.

Bagi para wisatawan, tempat ini bisa jadi salah satu tujuan bila sedang ‘blusukan’ ke lorong-lorong bersejarah Kotagede. Lokasinya yang mudah dijangkau dan tanpa pungutan biaya, menjadikan situs ini sebagai bagian objek wisata bersejarah yang murah meriah bagi masyarakat

Kisah Watu Gilang

Menurut cerita turun temurun yang beredar di masayarakat sekitar, watu gilang ini adalah singgasana raja Mataram Islam yang pertama yaitu Panembahan Senopati. Ketika memandang watu gilang, akan nampak cekungan sebesar kepala orang dewasa di salah satu sisinya.

Cekungan tadi merupakan bekas benturan kepala Ki Ageng Mangir Wanabaya yang dihempaskan oleh Panembahan Senopati ketika menghaturkan sembah. Seperti diketahui, Ki Ageng Mangir merupakan musuh sekaligus menantu Panembahan Senopati.

Ki Ageng Mangir adalah seorang yang sakti. Untuk menaklukkannya, Panembahan Senopati terpaksa melakukan taktik “Apus Krama” atas usulan dari Ki Juru Mertani.

Taktik “Apus Krama” dengan cara mengirimkan puteri Pembayun untuk memikat hatinya. Setelah Ki Ageng Mangir tertarik dan menikahi puteri Pembayun, ia harus menghadap kepada ayah puteri Pembayun yaitu Panembahan Senopati. Pada saat ia sungkem inilah kepalanya dibenturkan oleh Panembahan Senopati ke watu gilang hingga ia tewas seketika.

Watu gilang pada dasarnya mengandung sebuah arti yang cukup filosofis, yang kental dan lekat dengan kepercayaan masyarakat Jawa. Watu gilang terdiri dari dua arti kata, yang pertama adalah watu yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai batu.

Sedangkan, kata gilang sendiri diambil dari kata prayogi atau prayoga. Kata prayogi atau prayoga dalam bahasa Jawa memiliki arti sebagai tindakan berdoa atau di lain hal dapat dimengerti sebagai kebenaran yang pertama.

Watu gilang pada dasarnya diperuntukan sebagai tempat untuk orang bersemedi dan berdoa demi mencari serta mendapatkan sebuah ilham.

Selain watu gilang, di dalam bangunan itu juga terdapat dua buah batu, yakni watu gatheng dan genthong, batu yang dulunya dipercaya sebagai tempat wudhu atau untuk mengambil air oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Juru Mertani.

Watu gatheng berbentuk bulat besar, dua buah berukuran seukuran bola sepak, satu lagi lebih kecil seukuran buah kelapa. (Foto: Facebook/Mejenk Gamestones)

Watu gatheng berbentuk bulat besar, dua buah berukuran seukuran bola sepak, satu lagi lebih kecil seukuran buah kelapa. Watu gatheng ini menurut cerita Babad Tanah Jawi halaman 130 juga disebut watu kumalasa atau batu klasa yang menjadi alat permainan salah satu putra Panembahan Senopati, yakni Raden Rangga.

Watu gatheng yang berat dan besar itu dengan mudahnya dibuat mainan oleh Raden Rangga dengan cara dilempar-lempar ke atas karena kesaktiannya. Bahkan sempat berubah menjadi bulat lunak ketika dipegang Raden Rangga. Namun kemudian berubah jadi keras setelah Raden Rangga ditegur Ki Juru Mertani saat memegang watu gatheng