Babon Aniem Kotagede, Saksi Sejarah Pembangunan Listrik Jaman Kolonial

Babon Aniem Kotagede. RUDI WINARSO

Satu lagi landmark kota yang dimiliki Kotagede, yakni adalah Babon Aniem. Babon Aniem atau gardu listrik ini berada di salah satu sudut di Kompleks Pasar Kotagede Yogyakarta.

Babon adalah kata Bahasa Jawa yang berarti induk. Sedangkan Aniem adalah singkatan nama sebuah perusahaan listrik di masa penjajahan Belanda yaitu Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij.

Pada awal abad 19, Aniem adalah perusahaan besar di Hindia Belanda. Tahun 1914, Aniem mendapat hak untuk mengusahakan jaringan listrik untuk Kota Yogyakarta. Empat tahun kemudian, pembangunan infrastruktur dasar telah selesai dan siap dioperasikan.

Instalasi pertama yang dibangun adalah gedung pabrik listrik Aniem di Wirobrajan. Selanjutnya beberapa transformator atau gardu listrik menyusul dibangun di beberapa lokasi strategis seperti di Kotabaru, Danurejan, Pengok, Pingit dan Kotagede.

Menurut catatan tahun 1939 seluruh wilayah Karesidenan Yogyakarta telah teraliri listrik. Bentuk bangunan Babon Aniem biasanya berupa empat persegi panjang yang dibangun dengan tembok batu bata. Keberadaan bangunan ini tentu menjadi bagian bagian sejarah hadirnya listrik di Kota Yogyakarta.

Babon Aniem di Kotagede sempat mengalami kerusakan saat terjadi gempa bumi tahun 2006 lalu. Namun akhirnya direkonstruksi kembali dan hingga kini masih tegak berdiri.

Sejarah Babon Aniem di Yogyakarta

Pada tahun 1911 masyarakat Yogyakarta masih menggunakan minyak jarak sebagai sumber penerangan. Pada akhir abad 19 sampai dengan tahun 1919, Keraton Yogyakarta sudah menggunakan gas sebagai sumber penerangan.

Sumber penerangan bertenaga listrik di Yogyakarta mulai diusahakan oleh perusahaan kelistrikan Aniem. Perusahaan Anien (Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij) merupakan perusahaan yang berada di bawah NV Handels Vennootschap yang sebelumnya bernama Maintz & Co yang berdiri pada tahun 1897.

Pada awal abad 19 ANIEM merupakan perusahaan paling sukses dan paling besar di Hindia Belanda. Induk perusahaan ini berkedudukan di Kota Amsterdam, Belanda. Dengan adanya perkembangan di dunia industri, berbagai usaha yang ada di tanah jajahan, dan kepentingan masyarakat, maka pihak Kasultanan (Sultan HB VII) dengan Residen Yogyakarta (Barend Leonardus van Bijleveld) mulai mengusahakan adanya jaringan instalasi kelistrikan.

Mulai tahun 1909 dimulai pembangunan jaringan kelistrikan di seluruh Jawa, termasuk menyasar ke Kasultanan Yogyakarta. Pada bulan Februari 1914, Aniem mendapat hak untuk mengusahakan jaringan listrik untuk Kota Yogyakarta.

Dalam proses pengerjaan infrastruktur jaringan diperlukan waktu kira-kira empat tahun. Pada tahun 1918 Aniem selesai membangun infrastruktur dasar kelistrikan dan siap beroperasi secara optimal.

Pembangunan instalasi yang pertama adalah pembangunan gedung pabrik Aniem di Wirobrajan. Pada tahun 1919 wilayah Yogyakarta yang teraliri listrik meliputi njeron beteng, Malioboro, dan Kotabaru.

Tahun 1922 seluruh wilayah kota Yogyakarta telah teraliri listrik, dan tahun 1939 seluruh wilayah Karesidenan Yogyakarta telah teraliri listrik.

Gardu Aniem berfungsi sebagai salah satu transformasi pendistribusian jaringan listrik di beberapa wilayah. Keletakkannya berada di tempat-tempat strategis, baik berada di titik simpul jejalur maupun berada di pinggir utama. Keberadaan bangunan ini tentu menjadi bagian penanda momentum hadirnya kelistrikan yang ada di Kota Yogyakarta.

Di beberapa sudut kota saat ini bangunan gardu Aniem hanya sedikit yang tersisa. Beberapa yang masih dapat dilihat adalah di Danurejan Malioboro atau simpul Jalan Mataram, Kotabaru, dan Kotagede.