Bendolole, Peninggalan Sejarah di Kelurahan Kricak

Pintu saluran air bawah tanah yang dinamakan Bendolole ini diharapkan menjadi potensi wisata yang luar biasa. PEMKOT YOGYAKARTA

Di sudut kampung Bangunrejo, tepatnya di RW 12 Kelurahan Kricak, Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta terdapat satu lokasi yang saat ini masih belum dikenal orang. Padahal, di lokasi tersebut terdapat potensi wisata yang luar biasa.

Lokasi yang oleh masyarakat sekitar diberi nama Bendolole itu sekarang masih sangat liar. Banyak sekali pepohonan yang berukuran besar di sekitarnya. Bahkan,tak jarang ditemukan binatang berbisa di sekitarnya.

Bendolole adalah pintu saluran air bawah tanah yang masuk ke wilayah dalam Kraton Yogyakarta, bentuknya berupa terowongan dengar lebar dan ketinggian bervariasi dan tentunya sangat panjang karena masuk melingkar di bawah Kota Yogyakarta.

Aliran air Bendolole mulai dari Kalurahan Kricak kemudian ke selatan melalui barat Stasiun Tugu kemudian terus ke selatan, masuk Masjid Gede, masuk lingkungan dalam Kraton, kemudian ke Taman sari. Dari sana kemudian ke selatan, belok ke barat di Mantrijeron, masuk kembali ke Kali Winongo. Peta saluran dari Bendolole sampai Tamansari tersimpan di Dinas PUPKP Kota Yogyakarta.

Sampai saat ini belum ditemukan catatan pasti mengenai kapan dan oleh siapa saluran air tersebut dibangun. Akan tetapi, mengingat catatan-catatan sejarah lain kemungkinan besar Bendolole dibangun pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I.

Seiring dengan dibangunnya Benteng Baluwarti, Taman Sari, dan lain sebagainya sebagai respon atas dibangunnya Benteng Vredeburg oleh Belanda. Kemungkinan juga memakai tenaga ahli (arsitek) Portugis sebagaimana Benteng Baluwarti yang berasal dari bahasa Portugis Baluarte (Benteng).

Dengan demikian saluran air bawah tanah yang berhulu di Kricak ini difungsikan untuk keperluan pengairan rumah dan fasilitas umum dalam kraton. Namun ada kemungkinan juga sekaligus untuk keperluan pertahanan/militer.

Sebagai drainase atau keperluan rumah tangga, saluran air utama tersebut kemudian bercabang menjadi saluran-saluran kecil yang mengalir di bawah perumahan dalam Kraton, kemudian kembali ke saluran utama dan sebelum akhirnya kembali ke Kali Winongo.

Sementara secara militer bisa jadi saluran tersebut juga difungsikan untuk jalan rahasia, melarikan diri manakala situasi darurat, jalan keluar masuk rahasia, dan lain sebagainya. Jika hal ini benar, maka sangat dimungkinkan juga di beberapa titik terdapat bangunan luas yang difungsikan untuk gudang atau bunker.

Namun saat ini kondisi Bendolole sangat tidak terurus namun masih berfungsi meski jauh dari maksimal. Pintu airnya yang terbuat dari plat baja sudah rusak. Sudah sangat sulit dibuka tutup. Akan tetapi manakala banjir terlalu besar, masih diusahakan untuk difungsikan. Di sana juga masih ada petugas penjaga yang menempati “Rumah Dinas”, meski bukan lagi petugas resmi karena petugas resmi sudah wafat tahun 1970-an.

Dijaga Petugas Khusus

Dahulu pintu zir Bendolole dijaga oleh petugas khusus dari Kasultanan Yogyakarta. Mendapatkan upah (lewat tanah lungguh) sekaligus rumah dinas, dan mendapatkan nama gelar abdi dalem. Dari cerita masyarakat, pada masa Sultan Hamengkubuwono IX bertahta, beliau sering sekali mengunjungi Bendolole secara inkognito.

Kami menginginkan adanya revitalisasi terhadap saluran air Bendolole ini. Sebagai upaya menghidupkan kembali saluran air bawah tanah Kota Yogyakarta dimulai dari pintu air Bendolole di RT 53 – RW 12 agar dapat dimanfaatkan dalam berbagai hal, terutama terkait pendidikan, sejarah, kebudayaan, dan pariwisata.

Apabila bisa direvitalisasi maka saluran air ini akan berwujud lorong luas nan panjang. Tentu menjadi daya tarik wisata yang luar biasa. Baik dari wujud fisiknya maupun nilai seninya sebagai warisan budaya leluhur. Sebuah hasil pemikiran dan karya nyata luar biasa leluhur kita.

Selain itu juga menjadi solusi terhadap ancaman banjir akibat kurangnya resapan air tanah dan kurangnya saluran air menuju sungai di Kota Yogyakarta dan bahkan bisa menjadi objek wisata yang sangat khas, unik, dan bahkan mungkin bisa menjadi warisan dunia.