Beribadah di Tengah Pandemi Ala Umat Buddha

Umat Buddha saat memperingati Waisak di candi Borobudur pada tahun 2015. (Foto: Hanang Widiandhika)

Sejak pandemi covid-19 berlangsung, umat Buddha di Indonesia memiliki cara untuk mencegah penyebaran covid – 19. Para pemuka agama Buddha telah menganjurkan kepada umat untuk tidak berkerumun di Vihara guna mencegah penyebaran virus.

Salah satu pandita muda yang juga merupakan ketua Vihara Karangdjati Yogyakarta, Totok Tejamano mengatakan jika ia dan umat di Vihara Karangdjati telah membuat kebijakan seperti seluruh acara yang mengumpulkan banyak massa agar ditiadakan.

“Umat di Vihara sekitar 300-500 orang, dan selama pandemi hanya mengontrol, mengingatkan dan berdiskusi melalui aplikasi pesan singkat seperti whatsapp,” jelasnya.

Sementara bagi umat yang ingin beribadah bisa mengakses melalui media sosial seperti facebook, instagram, dan youtube.

Ia menceritakan Vihara Karangdjati mulai melakukan ibadah dengan tatap muka atau offline setelah mendapatkan izin dari pemerintah, namun dengan berbagai syarat seperti beribadah hanya dibolehkan tidak lebih dari 30 orang.

“Yang di dalam Vihara tidak lebih dari 30 orang, karena vihara kami tidak terlalu besar, selain itu ibadah yang biasanya dilakukan dengan duduk bersila, selama pandemi Covid-19 ini diganti dengan menggunakan kursi dengan jarak tertentu sesuai standar protokol kesehatan yang telah ditetapkan,” jelasnya.

Tak sampai disitu, syarat lainnya adalah ibadah yang biasanya sekitar 2 jam dipercepat menjadi maksimal 1,5 jam, dan acara makan minum selepas ibadah juga ditiadakan.

“Ibadah di Vihara yang sebelumnya memerlukan waktu 2 jam, tetapi sekarang maksimal hanya 1,5 jam. Kegiatan makan dan minum sehabis ibadah juga ditiadakan selama pandemi ini,” katanya.

Untuk ibadah di Vihara dilakukan 3 kali seminggu yakni pada hari, Rabu, Jumat, dan Minggu. “Dari 300-500 orang yang mau beribadah nanti diberi form karena kuota yang terbatas, setiap Vihara berbeda-beda waktu ibadahnya,” ujarnya.

Selama pandemi Covid-19, kegiatan sekolah Minggu juga ditiadakan, dan diganti dengan sistem online. “Saat pandemi sekolah minggu buat anak-anak diliburkan dan diganti secara online. Aplikasi yang digunakan untuk online yaitu google meet,” bebernya.

Totok yang juga merupakan Dosen di Universitas Sanata Dharma ini menjelaskan jika di Sleman terdapat 2 Wihara, yakni Vihara Karangdjati dan Vihara Berbah.

“Di Sleman menurut data Badan Pusat Statistika (BPS) ada 900 umat budha belum termasuk dengan pendatang-pendatang yang di Sleman,” jelasnya.

Merayakan Waisak di Rumah Masing-Masing

Begitu halnya saat perayaan Waisak, ia dan umat di Vihara Karangdjati biasanya dilakukan dengan tiga kegiatan yaitu berupa puja bersama, meditasi serta ceramah. Namun karena larangan berkumpul, ketiganya dilakukan dari rumah masing-masing bersama dengan keluarga.

“Namun hal tersebut bukan menjadi masalah karena masalah ibadah berupa puja bakti dan meditasi bisa dilakukan secara mandiri, gantinya pandita mengadakan perayaan secara daring yang bisa disaksikan lewat Youtube dan media sosial,” katanya.

Jika masyarakat tak punya media untuk menyaksikan ceramah, menurutnya hal ini bisa dilakukan secara mandiri dengan sesepuh di rumah sebagai pengisi ceramah. “Pun jika ceramah tak bisa dilakukan, tak jadi masalah,” jelasnya.

Melihat hal ini tentu ia merasa prihatin dan berharap wabah pandemi Covid-19 segera berakhir dengan mematuhi himbauan pemerintah agar tetap beribadah dari rumah. Ia mengatakan bahwa perayaan Waisak dalam pandemi ini menjadi momen untuk melekatkan diri pada kehidupan spiritual.

“Di masa seperti ini, masyarakat Buddha bisa membangkitkan diri bahwa peristiwa seperti ini merekatkan diri terhadap kehidupan spiritual serta penghormatan dan bakti yang lebih layak kepada Tuhan dan sesama,” tuturnya.

Vihara Milik Bersama

Sebelum pandemic Covid-19 merebak di Yogyakarta, Vihara yang didirikan oleh Romo Among ini memiliki kegiatan rutin berupa kebaktian atau puja bakti, sekolah minggu dan meditasi. Selain kegiatan rutin, ada juga dialog lintas iman dengan berbagai komunitas agama.

Selain melakukan kegiatan internal, vihara yang telah resmi berdiri dari tahun 1962 ini juga melakukan kegiatan bersama warga sekitar vihara seperti bermain badminton, jaga parkir dan saling membantu apabila ada acara di sekitar perumahan warga.

“Vihara yang terletak di jalan Monjali nomor 78, Sinduadi, Mlati ini dikelilingi umat muslim. Tetapi tidak membuat vihara ini lantas merasa kecil dan terkucilkan, justru malah sebaliknya, kami terus menjalin kerukunan dan toleransi dengan warga setempat,” jelasnya.

Salah satu kegiatan yang dilakukan di Vihara Karangdjati dan bisa diikuti tidak hanya oleh para umat Buddha yaitu meditasi. Meditasi adalah kegiatan menenangkan diri dengan mengurangi keinginan. Umumnya dilakukan dalam posisi duduk dan memejamkan mata.

“Justru meditasi di Vihara Karangdjati lebih banyak diikuti oleh umat agama lain dibanding umat Buddha sendiri, kami tidak membuat pengumuman tetapi mereka tahu dari temannya, terus ikut meditasi,” ungkapnya.

Walaupun meditasi adalah tradisi agama Buddha tetapi tetap bisa dilakukan oleh siapapun. “Meditasi itu universal bisa dilakukan oleh semua agama, karena beberapa ritualnya berasal dari agama Buddha, umat agama lain bisa berdoa dengan kepercayaan masing-masing, Kemudian setelah meditasi akan dilakukan diskusi tentang meditasi yang telah dilakukan, ” ungkapnya.

Selain itu, ia dan bersama umat di Vihara Karangdjati kerap melakukan kegiatan sosial seperti pengumpulan donasi. “Hasil dari donasi tersebut kita belikan makanan, lalu kita bagikan kepada masyarakat umum yang membutuhkan,” jelasnya.

Kegiatan ini biasanya dilakukan setiap 2 minggu sekali, sementara para pengurus pemuda juga mempunyai gerakan free food yang mereka lakukan tiap hari kamis.

“Untuk para pemuda mempunyai gerakan free food setiap 2 minggu sekali yakni pada hari kamis dan dibagikan ke jalan-jalan, panti asuhan, dan tempat yang benar-benar layak untuk menerima nya, selain itu kami juga memberikan alat pelindung diri (apd) untuk puskesmas dan rumah sakit,” ucapnya.

Upaya Menghadapi Covid-19

Dalam menghadapi Covid-19 yang belum jelas kapan berakhirnya ini, ia pun meminta agar seluruh umat beragama memaknai perubahan yang terjadi saat ini dengan cerdas. Penanaman kesadaran kepada umat atau masyarakat sangat diperlukan.

“Pemuka agama juga harus benar-benar bisa meyakinkan bahwa pandemi yang terjadi saat ini sangat berbahaya. Semua pihak harus saling bahu membahu untuk menyiapkan berbagai mitigasi yang bisa menekan penularan virus tersebut,” jelasnya.

Apabila hal itu bisa dilakukan, katanya, upaya pemerintah yang didukung masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 bisa berlangsung secara efektif.

Ia mengatakan dalam menghadapi pandemi Covid-19, seluruh umat dapat belajar dari Sidharta Gautama yang mengajarkan keutamaan dalam dharma. Intinya welas dan cinta kasih kepada semua makhluk hidup.

“Keutamaan dharma inilah dibutuhkan bangsa dalam merespon wabah Covid-19 ini yakni semangat welas asih terhadap sesama manusia yang mengalami penderitaan akibat badai covid-19,” ucapnya.

Menurutnya Dharma bahasa cinta itu memberi dari kekurangannya kepada mereka membutuhkan ini lah teladan Sidharta Gautama agar semua umat manusia di dunia berbakti kepada sesama lewat upaya solidaritas kemanusian,

“Wujud dharma katanya juga memperkuat kesadaran kita sebagai bangsa Indonesia mampu bangkit mengatasi dampak virus corona.